Promise Of Love

Promise Of Love
70. menantang


__ADS_3

Pagi harinya seperti biasa, karena kuliahnya masuh libur, maka Alya lebih suka menghabiskan waktunya untuk bersih bersih rumah dan memasak


Sebelum memasak Alya terlebih dahulu mencari tukang sayur, tak butuh waktu lama, sambil jalan- jalan pagi dia sudah menemukan tukang sayur yang dia cari, di sana sudah ramai dengan ibu- ibu


“pagi ibu- ibu ...!” Alya menyapa ibu- ibu sembari membari memilih – milih sayuran


“pagi mbak Alya, tumben belanja mbak?” tanya ibu 1


“iya buk, lagi pengen masak ...!”


“sudah lama ya dokter Wildan nggak kelihatan?” tanya ibu 2


“iya, dokter Wildan kemana? Memang marahan ya!” tanya ibu 3


“eh..., nggak kok bu, dokter Wildan sedang sibuk jadi pulang ke rumah keluarganya!” Alya tampak gelagapan menjawab pertanyaan ibu- ibu


“ini semua berapa pak?” Alya tampak menyodorkan semua belanjaannya nkepada tukang sayur,dan tukang sayur pun menghitung satu persatu sayur


Tampak dari kejauha Wildan menghampiri Alya yang sedang berbelanja sayur


“pagi ibu- ibu ...!”


“eh dokter Wildan!” jawab ibu- ibu bersamaan


“panjang umur sekali, padahal kami baru saja membicarakan dokter lo!” ibu 1dan Alya hanya bisa tersenyum menanggapinya


“memang apa yang di bicarakan bu?” tanya Wildan tapi tatapan hanya terus mengarah ke Alya yang tampak salah tingkah


“bukan apa- apa dok, kapan ini rencana pernakahannya, kami menunggu lo undangannya!” ibu 3


“sebentar lagi bu, kami pasti akan mengundang ibu- ibu semua, iya kan sayang!” Wildan tampak mulai menggandeng tangan Alya. Tapi Alya malah menghindar sungkan


“semuanya lima puluh ribu mbak!” tiba –tiba suara tukang sayur membuaat Alya terbebas dari cengkraman tangan Wildan


“biar saya saja pak yang bayar!” Wildan sudah terlebih dulu mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan


“tapi ini kebanyakan pak dokter!” jawab tukang sayur sambil menolak uang yang di berikan Wildan


“ini untuk semua membayar belanjaan ibu- ibu di sini!”


“wah terima kasih lo dok!” semua ibu- ibu saling tersenyum bahagia


“sama- sama buk, kami permisi dulu!” Wildan tanpa aba- aba langsung menggandeng tangan Alya dan meraih belanjaannya, masih terdengar bisik bisik dari ibuk- ibu di belakang menyebutkan mereka adalah pasangan yang serasi


Sampai di rumah Alya


Alya bergegas ke dapur di ikuti Wildan, Wildan terus memandangi Alya yang sedang memasak


“kenapa memandangku seperti itu?” Alya tampak tidak enak hati merlihat Wildan yang dari tadi melihatnya

__ADS_1


“boleh aku membantumu?”


“memang kamu bisa?” Alya tampak tidak percaya


“memangnya siapa yang buatkan bubur untukmu waktu kamu sakit!” Wildan mengambil beberapa sayur dan mulai memotong


“memangnya siapa?”


“ya aku lah ....!” sambil mengetuk kening Alya dengan telur yang dia sengaja memecahkan telur itu lalu di masukkan ke dalam baskom dan mengaduknya mencampur potongan worte dan sayur lainnya yang sudah di potongl , garam, penyedap , kemudian kembali mengocoknya


“kamu mau buat apa?”


“pokoknya spesial untukmu!”


“ok..., baiklah!”


Wildan tampak menaruh wajannya di atas kompor dan menuangkan sedikit minyak, menunggu sebentar agar wajan panas kemudian memasukkan kocokan telur di atas wajan panas, tak btuh waktu lama telurpun sudah tercium aromanya


Sedangkan Alya masih sibuk dengan pekerjaannya sendiri memasak ayam bumbu kecap dan tak lupa memasak nasi, setelah makanan siap merekapun menata bersama di meja makan, tak jarang mereka saling bercanda


Setelah acara masaknya selesai, mereka pun sarapan bersama,


“enak sekali masakanmu, kalau kamu masak untukku setiap hari, lama- lama aku bisa gendut ya!”


“lagi pula siapa yang mau masakin kamu tiap hari?!”


“Emmm, gimana ya....!”


“jangan mulai deh jangan membuatku kesal pagi- pagi, ini kamu juga harus merasakan masakanku!” Wildan sambil menyuapkan potongan telur ke mulut Alya, Alya yang sedikit terkejut tak melakukan penolakan


“oh iya, aku hari ini aja janji sama Vina di rumah Ayah!”


“kalau gitu biar aku temani ya!”


“nggak perlu, aku kan Cuma mau bicara sebatas hubungan adik dan kakak, masak kamu mau ikut!”


Kamu terlalu polos untuk menghadapi Vina, bagaimana kalau dia memperdayaimu


“aku kan bisa menunggu di ruang ayahmu misalnya!” Wildan terus memaksa


“nggak usah, kamu kerja aja, aku nggak pa pa kok!”


“ya sudah terserah kamu, tapi kalau ada apa- apa langsung hubungi aku!”


“ok..., siap!”


Merekapun menyelesaikan acara makannya, Wildan mengantar Alya sampai di depan rumah keluarga Sanjaya


Setelah Alya turun Wildan langsung melajukan mobilnya

__ADS_1


Alya langsung menuju ke pintu utama, dia segera mengetuk pintu, tak butuh waktu lama pelayan sudah membukakan pintu dan mempersilahkan alya untuk masuk


“nona , nona Vina sudah menunggu kedatangan anda di kamarnya, mari saya antar!”


“baik!” Alya pun mengikuti langkah pelayan itu


Setelah sampai di depan pintu kamar, pelayan itu membukakan pintu


“silahkan masuk nona!”


“terimakasih!” dan pelayan itu hanya menganggu, menunggu Alya masuk ke dalam kamar, ban menutup kembali pintu tanpa mengeluarkan suara


Alya menundukkann kepalanya, berusaha menutupi rasa bersalahnya. Di depan Vina yang tergeletak pucat di atas tempat tidurnya, Rambut yang biasanya tergerai hitam kini terlihat tidak beraturan, bibir ranumnya bahkan kini tidak di poles dengan liptik


Vina menyentuh tangan Alya, menggengam erat, menawarkan persahabatan, meski Alya taun tujuannya memanggilnya kemari bukan untuk itu, pasti tujuannya adalah untuk mengambil kembali Wildan.


“Alya maafkan aku, aku pasti membuatmu tidak nyaman!” Vina masih memegang tangan Alya dan membetulkan duduknya, menaruh satu bantal di punggungnya


“maafkan aku ,!” merasa canggung, karena selama ini hubungan mereka memang tidak baik, dan melepaskan tangan Vina senatural mungkin


“aku mohon, lepaskan Wildan demi aku, aku sangat mencintainya, kamu kan sekarang adikku, jadi tolong dengarkan permintaan kakakmu ini!”


Sejak kapan dia menganggapku adik,


“aku akan melepaskan Wildan jika memang dia mencintaimu !”


“aku mohon buat dia mencintaiku, aku tak bisa hidup tanpa dia, kamu mau kan, apa kau juga mencintainya?”


“sebelum ini semua kami sudah saling mencintai, jadi maaf, jika memang kamu bisa membuatnya pergi dariku, maka aku akan dengan rela melepasnya untukmu, tapi jika tidak maka jangan harap aku akan melepaskannya, bahkan untuk menghindar dariku pun tidak!” Alya sedikit memberi penegasan


“oh.., jadi kamu menantangku ..., ok aku terima tantangan mu!”


“baiklah kalau sudah selesai saya mohon diri!” Alya pun berlalu meninggalkan kamar Vina yang terlihat begitu geram dengan perkataan Alya, bukannya mendapatkan yang di inginkan dia malah mendapatkan penghinaan


Ternyata kecemburuan ini memberikan keberanian yang cukup besar ya


Alya keluar dari rumah Tuan Sanjaya dengan wajah kesalnya, dia memesan ojek on line, tak berapa lama ojek on line pun datang , Alyatak langsung pulang dia masih harus menyelesaikan pekerjaannya, dia harus menyerahkan desain baju yang sudah cukup lama dia tidak serahkan ke butik


-


-


-


-


-


terimakasih ya karena sudah membaca dan jangan lupa beri dukungan dengan terus like n vote ya

__ADS_1


__ADS_2