
Masih di balkon belakang, walaupun di depan sana ada hingar bingar pesta tapi di sini Alya masih setia dengan keheningan
Di sana pesta pertunangan sudah di mulai dua keluarga saling berbasa basi memberikan sambutan, tapi di sini Alya masih mematung dengan deraian Air matanya, apa lagi jika dia harus mengingat di sana laki- laki yang telah mengambil hatinya sedang bertukar cincin dengan orang lain
“non ...!’’ tiba –tiba sebuah suara membuyarkan lamunanya
“iya bik ....!’’ Alya lagi- lagi menghapus air ,matanya yang benar- benar tak mau berhenti
Kali ini Alya benar- benar tidak kuat dia berhambur memeluk bik jum, lagi- lagi air matanya tumpah
Dia seperti menemukan sandaran yang nyaman di pelukan bik jum
“bantu aku bik ....!’’ kata- kata Alya di sela sela isak tangisnya
“non percaya kan pada bibik ...!’’
Alya pun melepaskan peluklannya, dan memandang wajah bik jum, dia menganggukkan kepalanya tanda setuju
“apakah tadi tuan Wildan memberi non sesuatu ...!” kemudian Alya terlihat sedikit berfikir, dan tak lama kemudian menganggukkan kepalanya
“dinama? Apa non sudah membuka dan melihatnya?”
Alya terjerembak, dia binging setengah mati, dia lupa melempar benda itu di mana
“aku lupa bi menaruhnya di mana, tapi sepertinya aku tadi menaruhnya di meja tamu, sebelum kesini!”
Alya memang tadi menaruhnya asal, kini Alya harus mencarinya dia swebenarnya juga penasaran dengan isi foto di album tua dan usam itu
Alya pun segera beranjak dan berlari meninggalkan bik jum, dia memcari- cari di semua tempat, bik jum pun mengikuti dan ikut mencari
Alya berhenti sejenak saat melihat ke arah depan di sana Wildan sudah berdiri bersama keluarganya dan di sampingnnya Vina bersama tuan sanjaya dan nyonya Helsa
Alya sejenak terpaku tak sanggup lagi beralih, tapi ternyata Vino memperhatikan alya, dia segera menghampiri Alya tak perduli dengan ancaman yang di berikan Wildan padanya
Vino memegang pundak Alya, berusaha menyadarkannya
“Alya ....!”
__ADS_1
Alya kembali panik
“bantu aku cari sebuah album foto tua bewarna coklat!”
Tak pikir panjang Alya pun segera menyuruh Vino membantunya, tanpa menjawab Vino pun langsung ikut mencari
Vino tau bentuknya karena dia sempat melihat tadi saat berada di tangan Alya sebelum keributan itu terjadi
Iya mungkin dia menjatuhkan di sana
Vino segera menuju tempat di mana iya dan Alya terakhir bersama, ya benar ternyata dugaan Vino benar, Alya menjatuhkannya ketika melihat Vino dan Wildan hampir berkelahi
“aku menemukannya!”
Vino segera menunjukkkan pada Alya, Alya pun tak pikir panjang dia langsung menyambarnya dari tangan Vino
Alya segera mencari tempat duduk dan di ikuti bik jum dan Vino
Alya mulai membuka sampulnya, dia melihat satu per satu foto itu , dia melihat foto keluarga bahagia di sana
Alya seperti masuk kedalam dunia yang pernah dia lalui seperti dalam foto itu, dia masuk di mana dia menghabiskan hari liburnya bermain bersama ayah ibunya bermain ayunan di taman, menghabiskan sarapan bersama, mendengarkan dongeng sebelum tidur, memeluk ayahnya ketika pulang kantor dan mengajaknya berdansa, bercengkerama bersama di tuang keluarga
Kini air matanya sudah mulai menetes, dia rasanya sudah terlalu masuk ke dalam kehidupan masa lalunya, hingga ke halaman terakhirnya dia masih tertegun dengan air matanya yang tak hentinya mengalir
Dia kembali mengingat saat tersakitnya dalam hidunya, saat di hadapkan pada jasat ibunya yang terbujur kaku karena sebuah kecelakaan , trauma itu masih terlihat di matanya
Dia mengingat kambali bagaimana mobil itu, mobil yang di tumpanginya dengan ibunya berguling, dia beruntung karena bisa selamat dari kematian tidak seperti ibunya yang harus kehilangan nyawanya
Tapi keadaan Alya tak lebih baik karena dia sudah seperti mayat hidup saat melihat orang yang di sayanginya kehilangan nyawanya di depan matanya
Bagaimana ibunya mendorong tubuhnya agar keluar dari mobil, bagaimana ibunya meneriakinya dengan penuh kasih sayang untuk terakhir kalinya
“ibu ....!” itulah kata yang pertama kali keluar dari bibir Alya
Vino masih terlihat bingung, kemudian dia mengambil Album foto dari tangan Alya dan membukanya satu per satu
Tapi tetap saja dia tak mempunyai jawaban atas kebingungannya
__ADS_1
“non..., apakah non ingat sesuatu ...?” bik jum bertanya pada Alya yang masih dengan mata nanarnya entas sekarang pikirannya sedang melayang kemana
“ibu ....., bik ...!” sekarang bik jum faham dengan luka yang di derita Alya, di sana Rani pun melihatnya dengan penuh keheranan
Bik jum tak menunggu waktu lama segera memeluk non aleanya, dia tau luka seperti apa yang sedang dia derita sekarang ini karena bik jum melihat luka yang sama belasan tahun silam saat nyonyanya meninggal di depan putrinya itu
“non Alea yang sabar ya ...!”
Kini Vino dan Rani benar- benar tercengan dengan nama yang di berikan bik jum pada Alya
“Alea ...?’’ kini Vino dan Rani saling berpandang
Aku benar- benar tak mengerti sebenarnya apa yang terjadi
Alya pun langsung beranjak dari duduknya, dia melangkahkan kakinya seperti tanpa nyawa, dia mendekat di mana Vina dan Wildan akan bertukar cincin,
Wildan sudah mengangkat cincinya hendak memasukkan ke jari jemari Vina, tangan Wildan terhenti saat melihat Alya yang berjalan mendekat dengan tatapan kosongnya
Tiga orang di belakangnya hanya bisa menatap punggung Alya
Alya semakin dekat, semua orang yang berada di depan tampak menatap Alya keheranan, melihat Alya seperti makluk tak bernyawa dengan wajah yang pucat pasi, matanya sama sekali tak berkedip, sudah seperti mayat hidup yang sedang berjalan
-
-
-
-
-
terima kasih ya atas dukungannya
jangan lupa like n vote ya
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1