Promise Of Love

Promise Of Love
21. malam yang panjang


__ADS_3

POVAlya


setelah beberapa hari , hari - hariku di habiskan dengan pergi ke kampus, pulang membantu pekerjaan rumah,


walaupun tidak ada yang meminta tapi rasanya tidak enak jika harus menumpang tanpa melakukan pekerjaan sama sekali


mungkin mulai sekarang aku juga harus mulai memikirkan mencari tempat tinggal, tapi apakah Wildan akan mengijinkanku untuk meninggalkan rumah ini ya? mungki itu bisa aku pikirkan belakangan


breeeet breeeet breeeet


telponku berdering, segera ku lihat nama yang ter tera 'Jesy' segera ku angkat telponku


"iya halo Jesi ....., ada apa?"


"halo Alya, ada pekerjaan untukmu, besok pulang kuliah ikutlah denganku, aku akan mengantarmu ke sana ...."


"ok trimakasih ya jesi, kamu baik deh!"


"iya jangan sungkan ....., ya udah aku tutup ya telponnya, sampai jumpa besok"


"bye ....."


setelah mengakhiri percakapanku di telpon aku pun berjalan menuju balkon kamar, pemandangan kota malam ini begitu indah, langit di penuhi dengan bintang yang bertaburan


lampu lampu kota menyala begitu indah, sangat jarang aku mendapati pemandangan seperti ini di tempatku


rasanya sedikit lega, karena satu per satu permasalahanku bisa teratasi


"mungkin setelah ini aku akan segera mencari tempat tinggal, aku tidak enak sama bibi Retno kalau harus lama- lama di sini!"


aku memandangi langit yang memang hari ini tampak cerah bintang- bintang bertaburan di sana

__ADS_1


hem hem ....,


sebuah deheman membuyarkan lamunanku


"Wildan .....!" tampak Wildan menghampiriku dengan membawa dua cangkir


"kau sedang apa?"


"memandangi langit yang begitu cerah ....."


"ini coklat hangat untukmu ....." Wildan menyerahkan secangkir coklat hangat itu untukku


"terimakasih ..." aku pun menerimanya, aku kembali menatap langit


"kenapa kau sekarang lebih pendiam, apa kau tidak betah disini?"


"masak sih ......, sepertinya biasa saja ...." aku bicara sambil mengalihkan pandanganku agar tidak bisa di tebak olehnya


"kenapa kau memaksa, aku tetap sama kok!"


"bagaimana hari- harimu di kampus!" Wildan sepertinya mengalihkan pembicaraan agar tidak berlarut larut berdebat denganku


aku pun langsung bercerita panjang lebar dengannya, aku bercerita tentang teman baruku Jesy, pertemuanku dengan Ardi, pelajaranku di kelas, siapa saja teman yang dekat denganku selain Jesy, aku mengunjungi apa saja, ketertarikan anak - anak perempuan pada Ardi, rasanya hingga tidak ada yang luput aku ceritakan


dan Wildan masih menjadi pendengar yang setia, dia memang tipe pendengar yang baik, sesekali dia juga ikut tertawa saat aku menceritakan kejadian - kejadian lucu


"trus sekarang gantian ceritakan bagaimana hari- harimu di rumah sakit?" aku pun tidak mau kalah, aku juga ingin tau apa saja yang di lakukan Wildan


Wildan pun gantian bercerita panjang lebar mengenai hal - hal lucu, hal -hal menegangkan hingga menyedihkan di rumah sakit


"trus apa saja yang kamu lakukan selama 10 tahun ini tanpa aku?" aku pun penasaran dengan kehidupan wildan selama 10 tahun terkhir ini

__ADS_1


dan ya Wildan pun menceritakan sejak kejadian saat itu, masa- masanya di SMA, kuliah dan tak lupa beberapa mantannya


ternyata selama ini dia juga memiliki hubungan asmara, cukup mengejutkan, tapi kenapa dia masih mencari ku aku jadi penasaran


tapi pandanganku masih melayang di langit luas, Wildan pun ikut memandangi langit bersamaku



pemandangan malam ini sangat sayang untuk di lewatkan


"aku rindu kebodohan- kebodohanmu!" Wildan menatapku dengan tatapan yang dalam yang aku sulit untuk mengartikannya


"maksudnya?" aku benar benar tak tahu apa yang harus aku katakan


"tetaplah menjadi Alya yang aku kenal ...."


tapi aku hanya menanggapinya dengan senyum, malam ini berlalu dengan saling bercanda, hingga tanpa sadar jam sudah menunjuk ke 03.00 pagi, kami pun mengakhiri percakapan


rasanya menyenangkan walaupun menghabiskan malam hanya dengan ngobrol berdua dengan orang yang kita cintai, walaupun satu malam rasanya hanya satu menit saja, cinta memang menbuat orang lupa


tapi aku takut mengakuinya, aku kalau aku juga mencintainya, rasanya aku belum siap untuk kecewa


rasanya aku masih terlalu kecil untuk pria dewasa seperti Wildan, aku hanya gadis kecil 18 tahun, sedang di pria dewasa 25 tahun yang sudah mapan


jelas saja bibi Retno tidak menyukaiku, bahkan aku dengan putra terakhir di rumah ini saja masih jarak 2 tahun lebih tua dia


mana bisa aku mengharapkan Wildan sebagai pendamping hidupku


aku harus menjadikan diriku pantas terlebih dahulu untuk menjadi pendamping Wildan


jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARNYA ya

__ADS_1


trus kasih vote juga


__ADS_2