
setelah memasuki gerbang, tampak di depan pintu Wildan sudah menunggu kedatangan Alya
"Wildan di sana , ngapain dia ....!" batin Alya sedikit cemas
Alya terus melangkahkan kakinya, mengikis jarak antara mereka
"dari mana?" tanya Wildan singkat dan terkesan dingin
"aku keluar sama Jesi!" jawab Alya sambil menunduk takut
"kemana?"
"ke ...., ke kafe ...."
"ketemu siapa?"
"nggak ada ....."
"baiklah, masuklah, segera mandi dan makan malam, setelah itu aku tunggu di balkon!" Wildan pun segera berlalu meninggalkan Alya yang masih tertegun
"dasar cowok aneh, dikit dikit ngambek, menyebalkan sekali, kayak cewek lagi pms aja" gerutu Alya
Alya pun terus menggerutu sambil masuk rumah, dia segera menuju ke kamarnya.
segera dia lemparkan tasnya di atas tempat tidur, Alya langsung masuk ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa penat seharian , ia segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin. rasanya rasa lelah seharian hilang berganti dengan segar.
lima belas menit kemudian Alya keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaian santainya, sebuah kaos warna putih dan rok selutut warna pink begitu pas di tubuh mungilnya.
semua sudah menunggu di meja makan, Alya pun segera bergabung, kebiasaan di meja makan ini, makan malam tepat waktu dan bersama-sama.
Alya tersenyum kepada semua di sana, dia duduk berhadapan dengan Wildan. ia berusaha mencuri pandang pada pria itu, tapi wajah itu masih sama.apa dia marah padaku ya? apa kesalahnya? Alya tetap diam dalam kebingungan.
*****
acara makan pun selesai, Alya segera membersihkan piring-piring kotor. Walaupun banyak pelayan tapi Alya tidak mau berpangku tangan, ia merasa hanya menumpang di rumah itu.
setelah rapi, barulah Alya berpamitan ke dalam kamar.
__ADS_1
jarum jam sudah menunjukkan waktu 21.30, rasanya sudah mengantuk sekali.
tapi kemudian Alya teringat kalau Wildan menunggunya di balkon, Alya pun segera beranjak dari tempat tidur dan menuju ke balkon.
******
setelah makan malam, Wildan langsung menuju ke balkon, Wildan merasa tidak sabar mendengarkan penjelasan Alya. dia menunggu dengan sangat sabar.
"gadis itu hutang penjelasan padaku
dengan siapa dia tadi?
apa benar yang di ceritakan Ardi padaku, tapi kan tidak mungkin Ardi bohong padaku" batin Wildan , ia menerka-nerka dengan pemikirannya sendiri.
setengah jam berlalu kenapa Alya tidak muncul. Wildan hampir putus asa.
Wildan tampak beberapa kali mengganti posisinya mencari tempat ternyaman, dari duduk hingga berdiri sekarang duduk lagi. mungkin tanpa sadar ia sudah beberapa kali mengintip jam yang melingkar di tangannya.
satu jam berlalu, kini sudah pukul 21.30, kenapa dia tidak datang,
Wildan hampir saja putus asa hingga, dia, wanita itu tiba-tiba berlari memeluknya
"maafkan aku!" masih dalam pelukan Wildan suara itu muncul.
Wildan masih terdiam, tak menjawab sepatah katapun, jujur Wildan menyukai ini, dia memeluknya.
"apa kau marah?" dia melepaskan pelukannya
aku masih diam seribu bahasa, aku bingung harus marah, atau kecewa, tampak air mata meleleh di pipinya
"jangan menangis!" ucap Wildan sambil mengusap air matanya, ini tidak adil kenapa dia harus mengeluarkan senjata ampuhnya untuk melawan keangkuhan nya.
"kau marah padaku!" katanya masih dengan sesekali menyeka air matanya.
"aku cemburu!" entah kenapa kata itu yang muncul dari mulut Wildan. ia mengutuki kebodohannya sendiri. tapi ia tidak bisa terus menahan diri. rasa cemburunya sudah membutakannya.
"cemburu dengan siapa?" kali ini dia tidak lagi menangis tapi malah melotot. Alya begitu terkejut. ia merasa tidak dekat dengan siapapun.
__ADS_1
"siapa yang kau temui di kafe tadi, dan yang mengantarmu pulang?"
Alya sedikit terkejut, siapa yang di maksud? di kafe? Wildan tahu dia di kafe?
"bagaimana kau bisa tau?"
"itu tidak penting kan?" aku balik bertanya dan segera ku raih tubuh mungilnya ke dalam pelukannya. Wildan tidak peduli lagi dengan segala batasannya.
"lepaskan... !" Alya meronta meminta untuk di lepaskan. tapi Wildan malah mengeratkan pelukannya.
"aku tidak akan melepaskan mu!" Wildan semakin mengeratkan pelukannya, ia begitu posesif seakan memang Alya adalah miliknya. ia tidak ingin berbagi dengan siapapun . tiba-tiba hujan pun turun seakan memberi tanda kalau langit pun ikut merasakan kesedihan yang Wildan rasakan.
****
dan di bawah hujan ini mereka masih berdua.
"biar aku jelaskan padamu, tapi lepaskan dulu aku!" akhirnya Wildan pun melepaskan pelukannya.
"aku melamar kerja di kafe, dan pria itu pemilik kafe itu, teman kakaknya Jesi!" Alya berusaha menjelaskan
"Kenapa harus bekerja?" Wildan merasa kecewa dengan penjelasan Alya. kenapa dia bekerja? kurangkah yang di berikan selama ini? kenapa dia tidak menggunakan fasilitas itu?
"aku ingin menjadi diriku sendiri, bukan jadi bayanganmu!" ucap Alya dengan sedikit berteriak.
"aku tidak masalah, aku suka jika selalu kau butuhkan!" Wildan tidak mau Alya terlalu mandiri. Dia ingin Alya tetap jadi gadis kecilnya yang penurut.
"tapi aku ingin jadi orang yang pantas untuk mu!" jawaban Alya mampu membisukan Wildan. pantas? pantas yang bagaimana menurutnya? dia sudah lebih dari pantas?
"tapi kau yang sekarang sudah sangat pantas untukku!" setelah kediam annya. Wildan pun mengutarakan pendapatnya.
"iya aku pantas menjadi bayangan mu, bukan pantas menjadi pendamping mu!" ucap Alya dengan wajah sendunya.
"baiklah aku ijinkan kau bekerja, tapi jangan pernah kau sembunyikan apapun dariku!" ucap Wildan masih tetap memegang kedua bahu Alya. berat rasanya membiarkan gadis kecilnya berkeliaran di luar sana. tapi apa daya. dia tidak mungkin terus menahannya.
Wildan kembali memeluk Alya, dia tampak pasrah, karena kesalah pahaman di antara mereka sedikit terselesaikan. Wildan berusaha mencari cara untuk tetap menahan gadis kecilnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
jangan lupa kasih dukungan dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya
kasih vote juga ya