
Di dalam mobil pun Alya lebih memilih untuk diam, dia merasa aneh dengan dirinya sendiri, dia merasa asing dengan dirinya, ini sepertinya bukan dirinya
“Alya kenapa kau diam saja ?” Wildan pun mencoba bertanya pada Alya
“aku – aku bingung!”
“bingung bagaimana maksudnya?”
“aku merasa bingung dengan diriku!”
Karena Wildan ingin fokus mendengarkan cerita Alya, Wildan pun meminggirkan mobilnya, dan menghadap Alya
“ coba ceritakan padaku!”
“aku merasa diriku yang sekarang bukanlah diriku, ada yang lain dari diriku, ini bukan diriku yang sebenarnya, aku tak bisa mengingat masa lalu ku ....!” Alya berhenti sejenak, dan mengatur nafasnya sebelum kembali bercerita
“yang aku ingat Cuma pesta ulang tahun itu, kenapa pesta ulang tahun itu seperti di rumah besar itu ....?’’
“jadi kau tak bisa mengingatnya?’’
“bik jum..., alea ..., nama itu tidak asing bagi ku ...., siapa mereka?”
“ya sudah kamu lupakan dulu, bila belum bisa mengingat jangan di paksakan!”
Tiba- tiba ponsel Wildan berdering
Kring kring kring ...
“iya halo ...!”
“halo Wildan, apa kalian sudah sampai di rumah?’’
“masih di jalan om!”
“bagaimana Alya?’’
“dia baik- baik saja om!”
“besok bisa kita bertemu?’’
“bisa om, aku juga ada yang ingin aku jelaskan!”
“ya sudah besok aku kirim lokasinya!”
“siap om!”
Tut tut tut
Telpon pun terputus
“ayo kita pulang ...!” Wildan pun menyalakan kembali mesin mobilnya
“itu tadi siapa? Om Sanjaya ya?”
“iya ...!’’
“ada apa? Pasti membicarakan tentang pertunangan kalian ya?’’
“bukan , ada hal lain, ini lebih penting ...!’’
“hal apa yang lebih penting dari pertunangannya!” batin Alya
Tapi saat mobil mulai melaju,
tiba- tiba ponsel Wildan berdering kembali, lagi- lagi Wildan meminggirkan mobilnya
__ADS_1
“hallo ...!’
“hallo kak ..., Mira melahirkan,!”
“melahirkan? Dimana?”
“di rumah sakit kakak!”
“baik aku segera ke sana!”
Tut tut tut
Telpon pun terputus
“kak Mira melahirkan!” tampak Alya bahagia
“iya, Mira melahirkan, aku jadi paman!”
“apa aku boleh ikut ke rumah sakit?’’
“tapi kamu baru pingsan !”
“aku sudah tidak pa pa, aku sudah baikan, boleh ya!” Alya tampak memelas, Wildan Tidak tega melihatnya
“ ya sudah kamu boleh ikut ..., tapi kabari dulu Rani, biar dia tidak cemas!”
“ok siap bos ...!”
Akhirnya mobil pun putar balik menuju ke rumah sakit,kini wajah Alya tampak lebih ceria di bandingkan tadi,
setellah sampai di rumah sakit Wildan menurunkan Alya di depan rumah sakit, sedangkan Wildan memanggil satpam yang sedang jga, dia menyerahkan kunci mobilnya dan menyuruh satpam itu untuk memarkirkan mobilnya
Ya karena ini rumah sakitnya jadi sebagian besar dari mereka mengenal Wildan , karena wildan memang bos yang sangat ramah, dia bergaul dengan siapa pun, dia tak pernah membedakan antara bawahan dan atasan
Mereka pun mulai menyusuri lorong rumah sakit, hingga sampai di ruang bersalin, di sana sudah ada mama papa Wildan, dan Ardi
“masih proses nak ...!”
“Aris mana pa?”
“dia di dalam menemani Mira!”
“papa juga berharap kamu juga secepatnya bisa kasih cucu buat mama dan papa!”
“papa ini bicara apa, Wildan menikah saja belum ...!”
“makanya kamu cepetan nikah sama Vina!” mamanya Wildan tiba- tiba ikut berbicara
Wildan hanya bisa diam dan memegang tangan Alya, dia tau pasti alya kecewa dengan yang di katakan mamanya,
melihat Wildan memegang tangan Alya di pojok ruangan terlihat Ardi dengan wajah yang tidak begitu suka, sungguh rumit kehidupan Alya sekarang
Tak berapa lama mereka menunggu, akhirnya dokter pun keluar dari ruangan
“bagaimana dok, sudah lahir?’’ Wildan segera menghampiri dokter itu dan menanyainya
“selamat dok, keponakan anda sudah lahir dengan selamat, dan jenis kelaminnya laki- laki!”
“wah..., jagoan kecilku ..., terimakasih dok, apa boleh kami masuk?”
“bisa, tapi bergantian ya!”
“terimakasih dok!”
Akhirnya mama dan papanya dulu yang masuk, tak berapa lama mereka keluar, sekarang gantian Wildan dan Alya yang masuk
__ADS_1
Di sana ada Aris yang setia menemani , melihat Alya dan Wildan masuk Aris langsung menghampiri kakaknya
“kakak ...., aku sekarang jadi ayah ....!” mereka pun saling berpelukan, dan berputar putar seperti anak kecil
“aku jadi paman ....., mana jagoan kecilku ?”
Wildan pun segera meraih jagoan kecilnya, dia menimang- nimang seolah mendapatkan mainan baru, Wildan benar- benar senang
“ayo lah kak, segera kakak ajak bidadari kakak ini menikah biar jagoan kecil kita ini segera dapat teman!” Aris sampil memegang pundak Alya, tapi Alya hanya menanggapinya dengan senyuman
“aku sih maunya seperti itu, tapi yang di ajak menikah belum mau sih ..., coba saja dia mau bilang dia mau nikah sekarang, pasti aku tak kan pikir panjang!’’ celoteh Wildan
“selamat ya kak Mira, aku senang sekarang ada jagoan kecil!” Alya mendekati mira
“iya Alya, aku berharap kamu juga akan menjadi bagian dari keluarga kami, aku senang bisa mengenalmu ...., kau gadis yang baik, kak Wildan tidak salah memilihmu, !”
“terima kasih atas pujiannya, sebenarnya aku tidak begitu pantas mendengar pujian itu!”
Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya Alya dan Wildan keluar karena Mira harus istirahat,
di luar mama dan papa Wildan suddah tidak ada, di sana hanya tinggal Ardi yang sdeang berdiri di sudut lorong dengan kedua tangannya di masukkan ke kedua saku celananya, dia tampak begitu cool
“dimana mama sama papa?” Wildan pun bertanya pada Ardi
“mama sama papa sudah pulang kak , kakak juga pulanglah biar aku yang menunggui kakak di sini!” kata Ardi dengan nada khas ya yang sedikit dingin
“baiklah aku antar Alya pulang dulu ...!” Wildan langsung menggandeng tangan Alya dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit
“oh iya...., kita mampir ke ruangan ku dulu ya, ada yang perlu aku tanda tangani, soalnya besok aku nggak bisa ke sini pagi!” Alya hanya bisa menganggu dan mengikuti langkah Wildan
Setelah sampai di depan sebuah ruangan, Wildan pun segera membuka pintunya, itu adalah ruang kerja Wildan
“kamu duduk di situ dulu ya, aku mau cari berkasnya dulu!” Wildan menunjuk ke sebuah sofa pendek berwarna coklat di sana
“baiklah ...!”
Wildan pun menuju ke meja kerjanya dan mencari beberapa berkas penting yang harus segera di tanda tangani karena pagi ini dia tidak bisa datang ke rumah sakit pagi- pagi karena ada janji dengan tuan Sanjaya,
Setelah menemukan beberapa berkas yang dia cari, dia pun langsung menandatanganinya dan menaruh kembali du sudut meja,
dia melihat kearah Alya
Ternyata di sana Alya sudah tertidur pulas dengan kaki yang masih menggantung dan kepalanya di sandarkan pada sandaran sofa
Wildan melihat ke arah jam, dan ternyata jarum jam sudah menunjuk ke angka dua,
“pantas saja Alya sampai tertidur, dia pasti capek sekali!”
Wildan pun mendekati Alya, dia membenarkan posisi kaki Alya dan menyibakkan rambutnya yang menutupi wajah Alya
“dia sebenarnya tak begitu cantik, tapi kenapa aku bisa tergila- gila padanya, dia tak setinggi para model, tapi dia telah menawan hatiku ...!” Guman Wildan
Wildan pun tak tega membangunkan Alya, akhirnya dia memutuskan untuk tidur di rumah sakit, tak lupa dia juga memberi kabar pada Rani untuk tidak menunggu Alya pulang
,
,
,
,
,
,
__ADS_1
terimakasih karena sudah membaca novelku jangan lupa like n vote ya biar tambah semangat lagi nulisnya
aku sayang kalian 😍😍😍😍