Promise Of Love

Promise Of Love
66. janji cinta


__ADS_3

Alya semakin dekat, semua orang yang berada di depan tampak menatap Alya keheranan, melihat Alya seperti makluk tak bernyawa dengan wajah yang pucat pasi, matanya sama sekali tak berkedip, sudah seperti mayat hidup yang sedang berjalan


Tatapan dengan berbagai macam pertanyaan


“Ayah .....!” itu kata yang keluar dari bibir Alya


Kenapa bukan Wildan yang di panggil , tapi ayah, ayah siapa, ayah yang mana


Mungkin itu yang di pikirkan sebagian besar orang yang ada di situ


Tapi tak seperti itu kenyataannya, Tuan Sanjaya malah berjalan menghampiri Alya, mereka saling bertatap seakan ingin menumpahkan seluruh perasaannya


Air mata Alya semakin deras , badannya sampai menggigil karena tak mampu lagi membendung , rasanya ingin sekali memeluk, persetan dengan semua orang yang hadir


“Ayah ..., boleh aku memelukmu ....!” Alya kembali berucap lirih, dengan menahan tangisnya agar tidak terlalu berlebihan


“kenapa tidak ...!” Tuan Sanjaya menyambutnya dengan mengembangkan kedua tangannya, bersiap untuk di peluk


Alya langsung berhambur memeluk Tuan Sanjaya, seluruh tamu undangan dan keluarga menar- benar tak percaya, mereka saling bertanya satu sama lain dengan tak percaya, ya kecuali Wildan dan Bik Jum, karena merekalah dalang dari semua ini


“papa ini apa apaan sih, kenapa memeluk gadis kampungan itu ....!” nyonya Helsa tampak marah dan menarik tubuh Alya hingga jatuh


“iya papa kenapa sih, lihat ini anak papa, Vina!” segera menggandeng tangan papanya menahan gerakannya untuk membantu Alya bangun


Tapi semua psti tau kan siapa pahlawan sebenarnya di sini, siapa lagi kalau bukan dokter Wildan


Dokter Wildan dengan gerakan cepatnya membantu Alya berdiri


“ma...., hentikan semua ini, dia anak papa, dia Alea.....!”


Jedderrr ...., Nyonya Helsa benar- benar terkeju, tampak seperti ada kiilatan petir di atas kepalanya


“apa papa sudah gila, Alea sudah meninggal ...!”


“dia belum meninggal, dia selamat ..., dia di hadapan kita sekarang!”


“maaf tuan, bagaimana jika kita lanjutkan dulu acara pertunangan anak- anak kita!” tiba- tiba nyonya Retno memotong pembicaraan


“baik, baik ayo kita lanjutkan dulu acara pertunangannya!”


Tuan sanjaya merapikan kembali bajunya yang sedikit berantakan


“maaf ya ..., tuan nyonya tamu undanga, ada sedikit masalah, mari kita lanjutkan kembali acaranya!”


“nak Wildan bagaimana sudah siap!”


Wildan yang masih memegang pundak Alya segera terkesiap mendengar perkataan dari Tuan Sanjaya


“ayo sayang ...!” Vina segera menarik tangan Wildan yang masih memegang bahu Alya, dan m3enjauhkan dari Alya


“maaf lepaskan ...!” kini Wildan melepaskan genggaman Vina


“ada apa lagi sayang?” Vina terlihat kecewa


“maaf tuan sanjaya, bisakah saya meminta yang akan menjadi hak saya!” Wildan berkata sangat yakin dengan Tuan sanjaya


“apa lagi nak, mama nggak mau kamu aneh aneh ...!” nyonya Retno sangat bingung dengan kelakuan putranya


“iya nak, kamu jangan buat papa kecewa ...!” sekarang gantian papanya yang ikut bicara

__ADS_1


“maafkan saya ma..., pa..., saya Cuma pengen menagih janji tuan Sanjaya!”


“janji yang mana nak ...?” Tuan Sanjaya terlihat bingung


“di percakapan kita kemarin, kalau saya berhasil membawa putri anda kembali, say meminta dua syarat kan tuan?”


“iya ..., lanjutkan!”


“kemarin saya meminta dua syarat , dan syarat yang pertama sudah tuan Sanjaya penuhi, sekarang aku meminta syarat yang ke dua!”


“iya katakan syarat kamu yang ke dua!”


“aku mau meminta kesediaan Tuan Sanjaya untuk merestui hubungan saya dengan Alya!”


“apa ini maksudnya?” semua yang datang di situ seperti tersambar petir di siang bolong, terutama Vina


“aku dan Alya, kami berdua saling mencintai, biarkan kami bersama ...!”


“bagaimana bisa seperti itu, bagaimana denga Vina, dia juga putriku, aku juga sangat menyayanginya, tidak mungkin saya bisa membuatnya terluka !”


Kini Wildan sudah memegang tangan Alya erat, seakan dia mengatakan jika dia tidak lagi akan melepaskannya


“aku tidak bisa melanjutkan pertunangan ini, kalaupun aku harus melanjutkan pertunangan, itu hanya dengan Alya, maaf ...!” Wildan mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya dan menghadap ke semua orang di situ


Wildan memegang kembali tangan Alya, dan menariknya membawa Alya meninggalkan pesta, Alya tak berkata apa pun, dia juga tidak mencoba melepaskannya, dia hanya bisa memandang punggung Wildan yang terus membawanya berlalu entah ke mana


Mereka berjalan menuju ke mobil Wildan di parkir, dia membukakan pintu untuk Alya, dan Alya pun hanya bisa diam saja tampa mengalihkan pandangannya pada Wildan


Wildan menutup kembali pintu mobilnya, dan masuk dari pintu yang lain, dia menyalakan mesin mobilnya, entah mau membawa Alya ke mana, dia hanya terus diam seribu bahasa, dan Alya tetap saja memandang Wildan dengan berjuta pertanyaan


Akhirnya mobilnya sampai juga di sebuah pantai, Wildan lagi- lagi membukakan pintu untuk Alya tanpa sepatah kata pun


“apa kau suka?’’ itu kata pertama yang muncul dari bibir Wildan setelah diamnya sekian lama


“apa yang kau harap dari semua ini?’’ Alya memandang Wildan penuh makna


“aku mencintaimu, lebih dari hidupku, kalau pun sekarang kau menyuruhku untuk menenggelamkan diriku di lautan itu, akan aku lakukan, tapi jangan pernah memintaku untuk pergi darimu!”


“aku ...!” Alya tak melanjutkan perkataannya


“Alya dengarkan ini ...!” Wildan maju beberapa langkah dari Alya berdiri


“aku berjanji


Janji cintaku untuk Alya


Aku berjanji


Untuk kehidupanku yang lalu


Kehidupanku yang sekarang


Yang akandatang


Dan kehidupan- kehidupanku berikutnya


Aku berjanji


Hati ini, jiwa ini, raga ini

__ADS_1


Akan selalu menjadi milikmu


Baik di tujuh kehidupan berikutnya pun


Cinta ini akan tetap sama”


Wldan pu sambil berteriak memecahkan keheningan malam itu, di sana hanya terdengar deburan ombak


Kini Alya menhampiri Wildan sambil memeluknya dari belakang, dia melingkarkan tangannya di perut Wildan


“aku sempat berfikir , aku akan kehilanganmu ...!” suara Alya lirih di punggung Wildan


“maafkan aku ....!”


Kini Wildan berbalik menghadap Alya


“untuk yang mana?”


“untuk air mata yang telah kau jatuhkan untukku!”


“kenapa kau jahat sekali, kamu sengaja membuatku menangis!’’ Alya memukul – mukul dada bidang Wildan


“kau tahu pukulan ini lebih ringan di bandingkan aku harus melihat air matamu yang jatuh!”


“benarkah ..., baiklah aku akan lebih keras lagi ...!” Alya membabi buta memukul dada Wildan


“auh ..., auh ...!” Wildan tampak kesakitan tapi dia tidak mau menghentikan Alya


Setelah puas memukuli Wildan, Alya duduk du atas pasir memandang ke samudra luas, wildan punikut duduk di samping Alya


“bolehkah kita disini sampai pagi?”


“suka suka kamu, kenapa?”


“aku ingin melihat matahari pagi ...!”


“baik lah ....!”


“kamu masih hutang penjelasan padaku, tapi aku tidak akan memintanya sekarang, aku masih ingin menikmati suasana pantai!”


“tanpa kamu minta pun aku pasti akan menjelaskan semua!”


Mata mereka menatap jauh ke depan dengan berbagai angan di dalamnya, Alya mengusap beberapa kali bahunya, memang udara malam di pantai semakin dini semakin dingin


Wildan nampak melepas jasnya dan memakaikannya pada pundak Alya, tak cukup itu dua juga segera memeluk tubuh Alya supaya lebih hangat sambil menanti munculnya sun rise


-


-


-


-


-


-


terimakasih ya tas dukungannya jangan lupa like n vote ya

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2