
Pagi ini saat bangun tidur, Alya sedikit menggeliatkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa kantuk, tapi ternyata ia kesulitan , saat membuka matanya ia baru sadar jika tubuh Wildan menindih separoh dari tubuhnya
“pantas , berat sekali...!”
Alya berusaha menggeser tubuhnya, ia melihat sekeliling kamar, matanya tampak menjelajah tak percaya
“aku di mana? Ini bukan kamarku, apa ini hotel, atau apartemen ?”
Alya segera membangunkan tubuhnya, dia mencari letak jam dinding, setelah menemukan dia melihat masih jam 4 pagi, Alya memang terbiasa bangun pagi
Kemudian dia memutar otaknya kembali
“aku kemarin mau pindah rumah, apa ini rumah baruku? Tapi ini kamarnya besar sekali! Masak iya ini rumah barunya?”
Kemudian Alya turun dari tempat tidur, ia berkeliling melihat ada beberapa pintu, dia membuka salah santu pintu, ternyata pintu itu adalah pintu ke kamar mandi
Wildan yang sebenarnya sudah bangun membiarkan istrinya dalam kebingungan, ia merasa jika istri kecilnya itu bingung terlihat sangat menggemaskan
“baiklah aku akan menonton ini, pasti seru!” gumam Wildan dalam hati
Alya yang lega telah menemukan kamar mandi segera masuk, ia ingat kalau kemarin sore dia tidak mandi makanya badannya lengket dan ingin segera mandi, tapi setelah mandi dia baru sadar kalau dia lupa tidak membawa baju ganti
“ya ampun, bagaimana ini, aku juga tidak tahu dimana ia menaruh koperku kan!”
Ia terduduk lama di kamar mandi, kemudian matanya tertuju pada sebuah handuk yang menggantung
“untung ada kamu” Alya segera meraih handuk itu dan melilitkan ke tubuhnya
Kemudian dia keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk, Wildan yang melihat pemandangan itu , rasanya enggan untuk melewatkannya, tapi dia juga tidak mau membuat alya terkejut
“untung Wildan masih tidur, coba kalau dia sudah bangun dan melihatku seperti ini”
“membayangkannya saja aku sudah ngeri”
__ADS_1
“trus di mana aku mencari baju, di sini tidak ada lemari pakaian!”
Kemudian alya menuju ke pintu satunya, dia membuka pintu itu, tapi trnyata itu pintu menuju ke ruang kerja Wildan, kemudian dia mencari pintu yang lain, saat di buka ternyata itu pintu yang menuju ke brangkas- brangkas rahasia,
“tinggal dua pintu lagi, aku pilih yang mana dulu ya?’’
Alya pun menuju ke pintu besar, saat tangannya hendak membuka pintu, ia di kejutkan dengan suara wildan
“kamu mau kemana dengan hanya pakai handuk?”
Alya terkejut dan segera menutupi tubuhnya , handuk itu terlalu pendek
“jangan perlihatkan tubuhmu ke orang orang”
Wildan menghampiri Alya, alya yang terkejut segera mundur, tapi sayangnya langkahnya terhenti ketika punggungnya sudah mengenai pintu, wildan pun semakin dekat
“kenapa kamu takut, aku suamimu!” Wildan meraih pinggang alya hanya dengan satu tangan, alya tapak semakin gugup, seketika keningnya sudah penuh dengan keringat dingin
“a- aku ..., gu- gup ...!”
Saat alya sudah hampir kehabisan nafas, Wildan melepaskan ciumannya, lalu wildan kembali dengan ciuman yang kedua , kali ini lebih lama dan dalam
Bibir wildan mulai menelusuri telinga, leher dan bahu Alya. Alya hanya bisa memejamkan mata, kini Wildan menggiring tubuh alya ke tempat tidur
Dan akhirnya semua berlanjut di kamar tidur, setelah menyelesaikannya merekapun tertidur kembali’ hingga tanpa terasa matahari sudah menerobos melewati celah- celah horden
Alya bangun dengan posisi Wildan memeluknya dari belakang, mereka berdua tidak mengenakan baju sehelai pun, Alya mencoba untuk beranjak tapi kemudian ia merasakan bagian bawah tubuhnya sangat sakit.
Alya pun mencoba duduk, tapi rasanya tak nyaman, Alya mengambil handuk yang tadi ia kenakan dan tak jauh dari sisi tempat tidur dan langsing di lilitkan kembali ke tubuhnya, ia berjalan dengan hati- hati karena rasa sakit.
Ternyata Wildan sudah bangun dan memperhatikhan Alya yang sedang kesakitan, Wildan mengerti dia kesakitan karena ulahnya.
“biar aku bantu ya...” tanya Wildan sambil menghampiri alya yang hampir jatuh
__ADS_1
“tidak ...., bantu aku sampai di depan kamar mandi saja” Wildan pun menuntun alya sampai di kamar mandi, setelah Alya masuk ke kamar mandi, wildan yang masih telanjang bulat segera naik kembali ke tempat tidur
Wildan mencari celananya, ia membuka selimut dan di lihat nya ada noda darah di atas sprei.
Dia tersenyum, tapi kemudian dia merasa kasihan pada Alya
“pasti dia sangat kesakitan”
Wildan bangun dan menuju ke kamar mandi, yang tidak di kunci oleh Alya,Wildan menghampiri alya yang terlihat kesakitan di atas bathtub
“apa sangat sakit? Kita kerumah sakit ya?” Wildan sangat cemas ia jongkok di depan Alya yang sedang duduk
“nggak usah ...!”
“ya sudah kalau gitu kita mandi bareng saja!”
Akhirnya mereka pun berendam bersama di bak mandi
Setelah keluar dari kamar mandi Wildan menunjukkan ruang lemari pakaiannya, di sana sudah terjejer rapi pakaian alya dan Wildan di lemari yang terpisah,
“ini semua baju siapa?”
“ya baju kamu sayang, itu yang beli aku sebelum kita menikah, jadi kalau kita pindah ke sini kamu nggak bingung baju ganti lagi!”
“dan ini?”
Alya sambil menunjukkan dalaman wanita
“itu baru semua sayang, khusus aku beli buat kamu!”
“bagaimana dia bisa tau ukuran ku?’ gumam Alya dalam hati
Alya hanya bisa memegangi dahinya tanda frustasi
__ADS_1
“terserah kamu lah ...., oh iya kamu kok nggak siap- siap, nggak ke rumah sakit?”
“nggak ah, seharian ini aku ingin menemani istriku yang cantik!”