
POV ALYA
Setelah pulang kuliah aku berencana menemui klien tante inez yang tertunda kemarin karena kedatangan Reva, jadi baru hari ini aku bisa bertemu
Kata tante inez mereka mengajakku janjian di kafe milik om Sanjaya, setelah perkuliahan usai aku langsung melesat menuju ke kafe
Sesampai di kafe , aku langsung menuju meja yang sudah di tunjuk, ternyata aku datang lebih dulu, aku memesan coklat dingin, karena udaranya sangat panas, hingga rasanya pengen minum sebanyak banyaknya
Mungkin sebentar lagi akan turun hujan, jadi udaranya sangat panas, untuk aku sudah berada di dalam ruangan
Akhirnya sepuluh menit pun berlalu , untuk menghilangkan kebosananku, aku memaninkan hpku hingga seseorang mengagetkanku
“anda dari inezboutique?” seseorang di depanku mengagetkanku , aku segera mengangkat kepalaku
Betapa aku terkejud saat bmelihat siapa yang berdiri di depanku, di sana ada Vina, rupanya dia juga tak kalah kagetnya denganku
“apakah dia klien tante inez?” aku bertanya dalam hati
“kau kenapa di sini, jangan- jangan kamu desainer yang di kirim tante inez untukku, ini tidak mungkin!!!” dia tampak tidak percaya, aku pun juga seperti itu
Mana mungkin aku bisa menangani baju tunangan orang yang aku cintai, tapi bukan bertunangan denganku tapi dengan orang lain
Tapi aku harus berusaha profesional, aku nggak mungkin mengecewakan tante inez, kalau aku sampai menolak itu akan membuatnya terluka
“iya, akulah orangnya, ini aku sudah membawa beberapa desain baju kamu bisa melihatnya, nanti kalau butuh apa yang kurang bisa aku tambahkan!”
“sebentar aku menunggu calon tunanganku dulu, dia juga mau datang!” Vina mengatakan itu dengan nada yang serasa memanaskan suasana yang sudah panas, hingga rasanya aku ingin sekali memesan minuman dingin lagi
Aku pun memutuskan memesan minuman lagi, tak lupa aku juga menawarkan minuman pada Vina, mau tak mau aku juga harus ramah sama dia karena dia klienku
“mau minum sekalian, aku maub pesen minum lagi?” aku menawarinya dengan ramah
__ADS_1
“boleh juga ...., oh iya sekalian buat kak Wildan!” rasanya aku pengen meremas mulut manisnya itu, menyebalkan sekali
“mas aku pesan es coklatnnya lagi ya.., dan kamu pesan apa?”
“aku mau dua gelas orenge jus ya ....!”
Tak butuh waktu lama pelayan pun sampai dengan membawa minuman di atas nampan satu gelas es coklat dan dua gelas orange jus, Vina tampak melihat lihat desain yang aku sodorkan untuknya
Kira- kira lima belas menit kemudian aku melihat Wildan masuk lewat bpintu depan kafe, ternyata Vina menyadari kehadiran Wildan juga, sebenarnya aku agak canggung, aku bingung harus berbuat apa, apa aku sanggup melakuklan ini, ini benar- benar berat
“kak Wildan, sini .....!” Vina tampak memanggil Wildan, aku tak mampu melihat ke arahnya, aku lebih baik menundukkan kepalaku
“Alya .....!” Wildan tampak terkejut melihat keberadaanku di sini, mau tak mau aku harus menghadapi ini
“ silahkan duduk dokter Wildan ...!” aku berusaha tegar
Wildan pun akhirnya duduk, tapi pandangannya tak beralih dariku, entah apa yang dia fikirkan, aku pun mulai persentasiku,
“kita rencananya akan mengambil tema di ruang terbuka, iya kan kak ...?” Vina tampak menggelayut manja pada Wildan
“terserah kamu saja ...!” Wildan masih dengan tatapannya padaku, aku benar benar tak tau apa maksud dari sikapnya
“silahkan anda memilih desainnya, kalau menurut saya, ini lebih cocok kalau di pakai di luar ruangan!” aku menunjuk ke salah satu gambar
“sedangkan untuk cowoknya tinggal menyesuaikan saja dengan warna baju ceweknya!” aku menjelaskan panjang lebar
“bagaimana kalau ini saja kak, aku suka ....!” rasanya aku risih sekali melihat pemandangan itu, aku saja tak pernah semesra itu sama Wildan
“terserah kamu saja ....!” Wildan tampak kesal
“untuk warnanya aku suka warna putih , iya kan kak!’ kali ini Wildan Cuma mengangguk saja
__ADS_1
“OK ...., untuk tahap terakhirnya biar aku ukur ya ..., bisa dari nona Vina dulu!” aku pun mulai mengukur dari lebar dahu , panjang baju , kingkar dada, kingkar pinggang, lingkar pinggul, lingkar lengan , semuanya tentang Vina sudah selesai
Sekarang giliran Wildan yang aku ukur, aku mengukur aku menanbahkan panjang lengan dan panjang jas , panjang kaki pada Wildan
Saat mengukur lebar bahu tiba- tiba tangannya memegang tanganku, aku tak tahu apa maksudnya, tapi memang rasanya aneh saja dalam keadaan seperti ini
Setelah selesai pengukuran aku pun ber pamitan untuk ke toilet,
“karena sudah selesai, kalian boleh pergi, aku permisi ke toilet dulu ....!” aku pun segera lari ke dalam toilet wanita,
Sebenarnya aku tak ingin buang air, tapi aku rasanya ingin sekali menuangkan air mataku sebentar saja, aku melihat ke cermin di dalam toilet, saat aku memastikan sudah tidak ada orang lagi dalam toilet aku segera menumpahka n air mataku, aku bingung dengan perasaanku sendiri
Tapi saat aku memutuskan untuk menyudahi tangisanku, tiba- tiba ada yang memutup puntu toilet, saat aku menoleh ternyata dia Wildan, untuk apa dia ke sini? Lalu bagaimana dengan Vino
“kenapa kau di sini, ini toilet wanita, bagaimana kalau ada yang masuk!” aku sangat bingung
“aku sudah memberi tanda toilet sedang di perbaiki, jadi tidak akan ada yang masuk kesini, sekarang jelaskan padaku apa yang kau lakukan?”
Entah apa yang dia pikirkan hingga dia senekat ini masuk ke dalam toilet wanita, rasanya aku ingin sekali memeluknya saat ini untuk meringankan sedikit lukaku, tapi itu tidak mungkin karena dia kini telah menjadi milik orang lain
-
-
-
-
-
jangan lupa like n vote ya 😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁
__ADS_1