
mentari sudah mulai berjaga di ufuk timur, sinarnya mengenai selah selah kelambu yang menutupi jendela kaca, mengundang seseorang untuk menikmati hangatnya mentari pagi
Wildan yang terbiasa berolah raga , memilih keluar dari kamarnya untuk menikmati udara pagi, karena tidak ada alat olah raga,
akhirnya ia memutuskan untuk joging sambil menikmati udara pagi di pedesaan, sungguh udara yang sejuk, beda sekali drngan udara di jakarta yang sudah jelas gimana polusinya
tak lupa Wildan pun berpamitan dengan pak Danu,
ya dan bonusnya maka pak Danu pasti menyuruh Alya menemaninya
sungguh rencana yang luar biasa
tapi jelas Alya menanggapinya dengaan gerutuan di sepanjang jalan
"aku suka wajah imutmu itu.....!"Suara Wildan menghenyikan langkah Alya, ia segera memutar badan menghadap Wildan yang berdiri tak jauh di belakangnya
"apa maksudmu...?" Alya bertanya dengan nada judesnya, ia benar benar jutek
cletuk .......
tiba tiba sentilan mendarat di kepalanya
"au.... sakit tau....!" kini bibir Alya semakin mengerucut
"jangan seperti itu, jangan salahkan aku jika nanti aku menciummu ya....!" ancam Wildan
ktok......
tiba tiba jitakan keras mendarat di kepala Wildan
"dasar mesum.....!"
"awas ya kau ...., akan ku balas ini !"
Wildan pun mengejar Alya yang sudah lari terlebih dahulu
mereka berjalan menyusuri jalannan yang samping kiri dan kanannya ri penuhi dengan hamparan sawah yang luas, berbagai macam sayuran tertanam di sana
jauh di sana hamparan hutan yang tak kalah luas, begitu menyejukkan mata
akhirnya mereka pun tiba di bukit kecil yang indah,
__ADS_1
jika melihat ke arah utara dan timur akan di suguhi pemandangan gunung yang tinggi dan sinar matahati terbit,
jika mengarah ke selatan maka ada perkampungan, dan barat terdapat hamparan sawah yang luas
Wildan merentangkan tangannya sambil memejamkan mata dan menarik nafasnya dalam dalam
"ini indah....., benar benar indah .......!" ucap Wildan
"kau suka?????" taya Alya
"ya aku suka....., sangat suka!"
"tapi aku tidak suka, aku ingin segera pulang!"
kata kata Alya mengagetkan Wildan, yang segera membuka matanya, dan beralih memandang Alya
"apa maksudmu....?"
"ayo kita pergi ada yang mengawasi kita!" kata Alya sambil berbisik di telinga Wildan
ya memang benar,
tapi Alya sudah menyadarinya dari awal, karena itulah yang akan terjadi jika Alya keluar rumah, maka dari itu Alya lebih nyaman tinggal di rumah, jika tidak pergi beramai ramai
Alya pun segera menarik tangan Alya, ya sekarang Wildan pun sudah merasa ada yang mengawasi mereka
"ada apa ini?????" tanya Wildan penasaran
"diamlah pak dokter ......!" mereka pun segera menuju ke keramaian, lebih tepatnya kembali ke perkampungan
"kau hutang penjelasan padaku!" wajah Wildan tampak marah, rasanya ia ingin sekali menghajar mereka, yang membayangi hidup Alya, ataukan Wildan, kekacauan berkecamuk di otak Wildan
setengah jam kemudian mereka sampai di rumah kembali,
tiba tiba Wildan menarik tangan Alya dan membenamkan tubuh Alya di dada bidangnya
"aduh ......" Alya mengaduh saat tanpa sengaja tangan Wildan mengenai tangan Alya yang terluka
"kenapa .....?" Wildan segera melepas pelukannya
"tidak pa pa ...." Alya segera menarik tangannya yang terluka, tapi Wildan lebih cepat menarik tangan nya dan menyingkap lengan baju Alya hingga menampakkan tangan Alya yang terperban, darah merembes di sana karena terkena lengan Wildan
__ADS_1
"ini kenapa?" Widan begitu khawatir, ia segera menarik Alya masuk ke dalam kamarnya
ia menyuruh Alya untuk duduk di bangku yang memang tersedia di dalam kamar
kemudian ia mengambil peralatan dokternya, ia membuka perban Alya dan melihat jahitan di tangannya
ia memberikan obat di luka Alya dan memerbannya kembali
" sekarang jawab pertanyaanku tadi!" Wildan pun segera meminta jawaban yang belum ia dapatkan
"apa......?"Alya pun ganti bertanya, seolah olah dia tidak tau apa apa
"ini luka apa.....?"Wildan pun menajamkan matanya
"apa kau takut .....?" tanya Alya,
" ya..., aku takut, aku takut terjadi sesuatu padamu ...." Wildan mengeraskan suaranya
"kenapa?" Alya gagal faham dengan ucpn Wildan
"kau jangan membuatku takut ......, ceritakan padaku semuanya ....." Wildan memaksa
Alya menghela nafas panjang, meyakinkan diri bahwa orang di depannya pantas mendengakan ceritanya
"itulah kenapa aku tidak punya teman, teman yang mau berdekatan dengan ku semuanya takut, kecuali bapak dan kak Rani !"
Alya pun menjawab dengan tatapan kosong, seperti sedang memutar memori lama, dan Wildan pun masih dengan sigapnya mendengarkan
"tapi ada satu temanku, dia di hatiku dia namanya .......!" tapi tanpa melanjutkan kata katanya Alya pun langsung nylonong meninggalkan Wildan yang masih bengong
"aku haus.....!" itulah kata terakhir yang Alya ucapkan sebelum masuk rumah
"dasar gadis ceroboh......, apa yang dia fikirkan, memang dia bisa berteka teki dengan ku" gerutu Wildan
"tapi ada satu temanku, dia di hatiku dia namanya ......., siapa yang dia maksud?" kemudian ucapan Alya menggema di pikirannya
sekarang tanda tanya tanda tanya itu memenuhi fikiran Wildan
"tapi aku pasti bisa menemukan jawabanya" batin Wildan
jangan lupa kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya🙏🙏🙏🙏
__ADS_1