
Setelah selesai belanja baju, Wildan mengajak Alya ke salon, dia tidak ingin ada yang meremehkan Alya. Alya nya harus tampil cantik.
Awalnya Alya menolak, tapi apa boleh buat kalau tidak memaksa berati bukan dr. Wildan. Pria itu begitu keras kepala.
"Apa boleh buat ....., aku selalu kalah darimu!" gerutu Alya pada dr. Wildan.
"Tapi aku kalah satu hal sama kamu!" ucapan Dr. Wildan seketika memancing Alya untuk menoleh ke arah dr. Wildan.
"Apa itu?" Alya tampak penasaran.
"Kau kalahkan hatiku!" ucap Dr. Wildan sambil mengeluarkan senyum manisnya.
"Mulai dech gombalnya!" ucap Alya sambil memukul pundak Dr. Wildan dengan tasnya.
"Aduh ...., aduh ...., cukup sayang ....." akhirnya Alya pun menghentikan bby pukulannya.
cletuk
Seperti biasa sentilan penuh cinta mendarat di dahi Alya.
"Aduch ....., kebiasaan dech!"
"Siapa suruh menyiksa calon suamimu, hah ...?"
"Siapa calon suamiku?"
"Jangan buat aku gemas di sini ya, kalau tidak mau aku ...." ucap Wildan sambil mendekatkan bibir Dr. Wildan ke bibir Alya.
"Sudah cukup ....., ampun ....!" ucap Alya sambil menahan bibir dr. Wildan agar tidak lebih mendekat lagi.
"Ya udah cepetan masuk....! Aku akan pergi sebentar, biar mereka yang akan menanganinya untukmu!" Wildan sambil mendudukkan Alya di kursi salon, dan memanggil para pegawai salon.
"Memangnya aku mau di apakan?" Alya tampak sedikit panik. Ini untuk pertama kalinya Alya berada di salon kecantikan. Yang ia tahu selama ini, salon adalah salon potong rambut. Alya begitu gugup.
"Nggak usah takut mbak, kami akan memake over mbak! Di jamin wajah mbak bisa kinclong" salah seorang pegawai salon menenangkan Alya, sepertinya dia senior di salon itu.
"Ini mbak baju yang akan dia kenakan!" Wildan menyerahkan tas berisi baju yang sudah di pilih di butik lengkap dengan sepatu hak tingginya.
"Aku pergi dulu ya, sayang!" Wildan pun segera berlalu meninggalkan Alya.
"Cowoknya ganteng banget ya mbak, sudah ganteng, dokter lagi!" Alya hanya menanggapinya dengan senyuman.
******
Selagi Alya di make over, Wildan pun pergi ke kantor papanya, dia hendak menemui Aris kakaknya.
tot tot tot
__ADS_1
"Masuk!"
Terdengar dari dalam menyahuti ketukan Wildan, Wildan pun segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruangan besar itu tampak seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Wildan....., ada angin apa hingga membawamu datang ke sini?" dia Aris yang segera menghampiri Wildan dan mempersilahkan duduk di sofa yang berada di bagian lain dari ruangan itu.
Wildan pun tanpa canggung langsung duduk, itu memang juga kantor Wildan tapi dia lebih suka mengurus rumah sakitnya.
Sedangkan perusahaan papanya dia percayakan pada kakak sulungnya untuk mengelola, hanya sekali waktu saja Wildan akan mengurus perusahaan jika ada masalah yang rumit.
Tapi waktunya lebih banyak di habiskan di rumah sakit. Rumah sakit sudah menjadi jiwanya.
"Pesta ini sebenarnya dalam rangka apa? Apa kakak tau sesuatu?" karena Wildan tidak begitu percaya dengan yang di katakan mamanya.
"Ini sebenarnya ada hubungannya kerja sama papa dengan askCompany !"
"Maksudnya?"
"Kemarin perusahaan kita dan askCompany melakukan kerja sama, dan dalam kerja sama itu memenangkan tender yang besar kak, mungkin karena itu!"
"Mudah-mudahan tidak ada yang lain dech!" Wildan tampak masih cemas.
"Tidak usah cemas, semua akan baik-baik saja!" Aris memenangkan Wildan dengan menepuk punggung Wildan pelan.
"Aku meninggalkannya di salon!"
"Waah..., luar biasa adikku ini, mr perfect!"
"Bisa aja kakak ini!"
Tiba - tiba fikiran Wildan melayang , dan teringat sesuatu.
"Apa kakak sudah menemukan petunjuk tentang Alya?" Wildan tampak bertanya serius pada Aris.
"Sedikit sih! tapi juga akan membantu" Aris tampak menghentikan bicaranya.
"Maksudnya?"
"Kata salah satu preman yang pernah mengikuti Alya, aku berhasil mencari informasi darinya, katanya dia di suruh oleh orang dari jakarta, dia seorang perempuan, tapi dia juga tidak tau namanya!"
"Berarti benar kalau Alya dari jakarta?"
"Sekarang tinggal Alya kuncinya, kalau dia mengenal satu orang saja di sini dari masa lalunya maka akan memudahkannya untuk mencari orang tuanya!"
"Benar juga katamu, mungkin dengan mengajaknya ke acara-acara pesta akan memudahkan dia mengenali salah satu dari mereka!"
__ADS_1
"Iya, kamu benar!"
"Ngomong-ngomong preman-preman yang di kirim untuk mencelakai Alya sudah kakak urus kan?"
"Kamu kan bisa lihat sendiri, selama di jakarta tidak ada lagi yang berusaha mencelakainya!" Aris tampak menyombongkan diri.
"Memangnya kakak apakan preman-preman itu?"
"Mereka sudah aku bayar lebih , dan mengabarkan pada bosnya kalau Alya sudah lenyap, hebat kan kakakmu ini?!" lagi-lagi Aris tampak menyombongkan diri di depan Wildan.
"Kakak memang bisa di andalkan....!" Wildan tampak menyunggingkan senyuman.
"Tapi ....!" Aris tampak memikirkan sesuatu.
"Tapi apa lagi?"
"Tapi bukankah nanti kalau sudah mulai terbuka masa lalu Alya, ancaman itu juga akan datang lagi!"
"benar juga....., brati kita harus tetap waspada !"
"benar adikku yang 'bucin' ....!"
"Kakak ini, senang sekali menggoda adikmu ini!"
Mereka bercanda dengan puasnya, hingga jam menunjukkan pukul lima sore dan Wildan menyudahi obrolannya dengan Aris.
"Kak ...., aku harus pergi." ucap dr. Wildan.
"Ok ...ok ...., Sambut putri mahkotamu itu adikku ...."
"Sampai jumpa nanti malam, kak ...!
Dr. Wildan pun meninggalkan kakaknya. Ia segera melangkahkan kakinya menuju ke lantai bawah. Mobilnya sudah terparkir di depan loby.
Dr. Wildan segera masuk ke dalam mobil.
"Ayo berangkat ...!" perintah dr. Wildan pada sopirnya.
"Baik pak ..."
****
BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih upah pada author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
kasih Vote juga ya
__ADS_1
Happy Reading 😘😘😘