
Setelah sampai di depan rumah, Alya pun langsung berhenti dan memandang Wildan
“nanti sarapanlah bersama kami!” Alya menawarkan pada Wildan sambil meraih belanjaannya dari tangan Wildan dan masuk ke dalam rumah
“yessss ...!” Wilda mengepalkaqn kedua tangannya di dadanya , dia tertawa kegirangan sambil meloncat- oncat hingga kakinya menabrak kursi di depan rumahnya
jeduuuk
“auh ... auh .... auh... ,sakit!’ Wildan mengangkat salah satu kakinya dan berteriak kesakitan, ternyata Alya mendengar teriakan Wildan
“kamu kenapa?” Alya keluar dari rumahnya, dan segera menghampiri Wildan yang kesakitan
“tadi Cuma terbentur saja!”
Alya pun segera mendudukkan tubuh Wildan ,Alya melepas sepatu Wildan
“ini bengkak, ada darahnya, tunggu sebentar ...!” Alya terlihat panik, dan kembali masuk kedalam rumah, tak membutuhkan waktu lama dia sudah ke3mbali dengan membawa kotak obat, dia segera mengoleskan betadin dan membalut lukanya dengan kain kasa, Wildan tak henti- hentinya memandang wajah Alya, kalau dalam film pasti langsung ada angin yang lewat dan mengibarkan rambutnya hingga Wildan terpesona
“trus kalau seperti ini, bagaimana aku mandinya?” tapi kali ini Wildan malah protes, kenapa jadi Wildan yang sekarang suka protes
“tidak usah mandi ..., atau potong saja kakimu itu, supaya tidak terkena air, bereskan!” Alya langsung beranjak meninggalkan Wildan dengan membawa kotak obatnya, dia tidak ada waktu lagi mendengar celotehan Wildan ,karena dia harus segera memasak dan pergi ke kampus
“hah ...!” Wildan tak percaya dengan perkataan Alya, tapi kemudian dia tersenyum bahagia
“tapi aku suka ini ...., benar benar suka..., terimakasih Tuhan, kau mengabulkan doaku ....!” Wildan pun berlari masuk ke dalam rumah dan segera mengambil bhanduknya dan masuk ke dalam kamar mandi tapi dia teringat kembali perkataan Alya
“apa aku tidak mandi saja ya ...?” tapi sebelum memutuskian untuk tidak mandi, kemudian dia memikirkan cara agar kakinya tidak basah, dia keluar kembali bdari kamar mandi dan mencari kantong plastik dan membungkus kakinya dengan kantong plastik dan du bagian pangkal nya dia lakban agar air tidak bisa masuk
“aku memang jenius kan ..., sekarang aku bisa mandi tanpa memotong kakiku ....!” Wildan pun kembali masuk ke dalam kamar mandi dan segera mandi tanpa takut kakinya basah
Tak butuh waktu lama acara mandi pun selesai, kini Wildan sudah mengganti pakaiannya dengan memakai kemeja biru dengan celana navy nya
***
Di tampat lain Alya sedang berkelut dengan dapurnya, dia mulai dengan memasak sayur bayam yang di masak dengan jagung manis yang di potong potong, setelah selesai dengan sayurnya barulah dia membuat sambal terasi dengan campuran tomat segar dan tak lupa ddengan cekatannya dia menggoreng ikannya
Rasanya arona makanannya tercium sampai di tempat Wildan , tak butuh waktu lma Wildan pun sudah menyusul Alya yang sedang menggoreng ikan
“ada yang bisa saya bantu?” ternyata itu suara Wildan yang sudah berada di belakang Alya
“tidak usah, kamu duduk di situ saja!” Alya melarang Wildan mendekat ke dapur
__ADS_1
“kenapa memangya?”
“jangan banyak protes, nanti bajumu bau ikan ...,di situ saja, duduk dan lihat aku memasak, ok!”
“ok ...!”
Akhirnya Wildan menyerah dan hanya bisa melihat ke arah Alya yang sedang memasak, dia benar- benar terpesona melihat Alya yang sangat cekatan memasak, karena selama ini dia belum pernah melihat Alya memasak, jadi dia sedikit tak percaya, di kampung pun yang biasa memasak adalah Rani
“masakan selesai ...!” Alya pun membuyarkan lamunan Wildan, Alya segera menata makanan di meja makan yang tidak sebesar di rumah Wildan
“ya sudah kamu tunggu di sini, aku mandi dulu!” Alya pun meninggalkan Wildan yang sedang duduk, dia masuk ke dalam kamar dan mengambil baju gantinya dan sebuah handuk, kerana kamar mandinya tidak menjadi satu dengan kamarnya jadi dia harus membawa sekalian baju gantunya, karena di situ ada Wildan tidak mungkin dia keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk
Alya pun lewat kembali di depan Wildan karena ruang makan ada di antara kamar tidur dan kamar mandi, kamar mandinya bersebelahan dengan dapur, Alya segera masuk ke dalam kamar mandi
“Wildan ...., kamu di sini?” tiba- tiba sebuah suara mengagetkan Wildan yang sedang bermain ponsel
“eh ...Rani, iya ..., duduklah ...., gimana kabar kamu dan bapak?”
“kami baik, bagaimana hubunganmu dengan Alya?”
“rumit ....!”
Tiba –tiba Alya keluar dengan rambut basahnya, Wildan tampak terpesona dengan kecantikan Alya tanpa make up itu
“hem, hem, hem...!!!”
Deheman dari Rani membuyarkan lamunan Wildan, Alya pun ikut dudk bersama mereka dengan masih mengalungkan handuknya di leher
“taruh dulu handukmu di tempatnya ...!” Rani protes dengan kelakuan Alya
“iya kak ...!” akhirnya Alya bangkit kembali dari duduknya dan menaruh handuknya di jemuran dan kembali lagi di meja makan, dan merekapu memulai sarapan dengan sedikit obrolan- obrolan ringan
“Wildan kenapa kamu tidak pakai sepatu?” Rani tampak heran karena Wildan akan ke rumah sakit tampa sepatu
“karena adikmu itu telah membalut kakiku jadi aku tidak bisa pakai sepatu, kalau aku pakai sepatu ,adikmu itu pasti akan memotong kakiku!” Wildan dengan wajah memelas
“benar seperti itu Alya?” kini rani melihat ke arah Alya
“bagaimana kakak bisa percaya dengannya, yang adik kakak bukan dia!” Alya mengerucutkan bibirnya pura- pura ngambek
Kring kring kring🎶🎶🎶🎶
__ADS_1
Tiba- tiba suara ponsel menbuat mereka ter diam
“ini ponseelku, maaf aku angkat dulu ya!” Wildan pun meminta ijin untuk mengangkat telponnya
“silahkan!” Rani dan Alya pun bersamaan
Di sana ada nama om Sanjaya di layar ponsel Wildan
📞“hallo, pagi om ...!”
📞“pagi wildan, kamu bisa ke kantorku pagi ini?”
📞“ada apa om?”
📞“om sudah menemukan foto yang kamu minta!”
📞“benarkah..., baik om, aku segera ke sana!”
Wildan pun mengakhiri bicaranya di ponsel, kini mereka pun melanjutkan makannya,
“aku ingin di rumah saja sekalian in!” Rani pun memberatahu mereka
“baik kak ...!” Alya pun setuju dengan yang di katakan kakaknya dan wildan pun berpamitan akan mengambil tasnya
“ku antar kau ke kampus ya ...!” Wildan menawarkan diri, ini bukan tawaran tapi paksaan
“apa aku bisa menolak ...!” Alya hanya bisa pasrah
Mereka pun berangkat bersama dalam satu mobil
-
-
-
-
trimakasih atas dukungannya, jangan lupa like n vote ya
kritik yang membangun juga aku tunggu lo ya
__ADS_1