
Sepulang bik jum, Wildan pun masuk kembali ke ruangan Alya, dia duduk di samping Alya yang terbaring lemah
“Alya ..., sayang jangan seperti ini , aku benar- benar takut kehilangamu ....!”
Wildan memegang tangan Alya
“aku merasa sakit, entah kenapa hatiku takut merasakan kehilangan!”
Wildan terus memandangi wajah Alya dan sesekali mengusap rambutnya yang berantakan. Rasanya ingin sekali menganggapai wajah sayunya
Hingga Wildan memejamkan matanya di samping Alya
***
Alya membuka matanya saat merasakan ada orang yang mengganti infusnya, ternyata benard di sana ada perawat yang menganti cairan infusnya, saat menoleh ke sampingnnya dia melihat Wildan yang tertidur pulas sambil memegang tangannya
Perawat itu tersenyum pada alya dan hendak menyapa Alya , tapi terlebih dulu Alya menghentikan dengan menaruh jari telunjuknya ke bibirnya sendiri, melarang perawat itu bersuara, perawat yang faham dengan isyarat Alya segera meninggalkan Alya dan Wildan sambil tersenyum
Alya menatap lekat wajah Wildan , dia mengelus rambut Wildan
“kamu pasti khawatir banget ya sama aku, maafkan aku ya, aku sudah membuatmu khawatir!”
“dasar cowok aneh ...”
“kamu bilang apa barusan?’’
Tapi ternyata Wildan dari tadi Cuma pura- pura tidur, dia mendengar semua yang di ucapkan Alya
__ADS_1
“kamu nggak tidur ya?”
“tidur ...!”
“tapi kok dengar aku bicara?”
“kamu bergerak terus, gimana aku nggak bangun, gimana keadaanmu sayang, sudah baikan?”
“aku sudah baikan!”
“benarkah? Gimana perutmu? Apa masih sakit?”
“sudah enggak, kan dokternya pakek cinta!”
“bisa saja kamu ini!” sambil memencet hidung Alya
***
Sore harinya Tuan sanjaya sampai juga di rumah sakit, kini Alya sudah di pindahkan dari UGD ke rawat inap, ya pastinya ruang VVIP, karena pemilik rumah sakit ini adalah Wildan sendiri
Tuan Sanjaya segera menemui Alya , dan tak hentinya meminta maaf karena telah meninggalkannya sendiri dan membiarkannya celaka
“maafkan ayah nak ...!”
“ayah tidak salah, aku saja yang kurang menjaga makananku ...!”
Mereka pun berbincang- bincang cukup lama, kemudian tuan Sanjaya baru sadar kalau di sekitarnya dia tidak menemukan nyonya Helsa maupun Vina
__ADS_1
“nak ....!”
“iya , apa yah ?”
“dimana mama dan kakakmu?”
“mereka pasti sibuk yah, jadi belum sempat ke sini, lagi pula aku sudah baikan , lihat aku tidak lemas lagi kan, kita juga bisa pulang sekarang!” Alya sambil dengan girangnya menggerak- gerakkan badannya, dia berusaha menutupi perasaannya sendiri
Walaupun kesal tapi tuan Sanjaya tidak mau menampakkan pada putrinya, dia mengelus dengan penuh kasih sayang rambut Alya yang tergerai tak di ikat
***
Setelah dua hari di rumah sakit akhirnya Wildan membolehkan Alya pulang, dia tidak tega mendengar rengekan Alya yang meminta pulang
Kali ini Vina dan nyonya Helsa ikut menjemput Alya pulang dari rumah sakit, tapi bukannya mereka benar- benar peduli pada Alya tapi ini semua mereka lakukan demi mendapatkan hati tuan Sanjaya
Selama perjalanan mereka bersikap manis pada Alya , walaupun merasa tidak nyaman, tapi Alya tak ingin membuat keributan, melihat sikap Vina dan mamanya yang berubah 180 derajat rasanya lebih menakutkan ketimbang perlakuan buiruk mereka
Sesampai di rumah pun mereka mengantar Alya sampai ke dalam kamar Alya, sekarang mendekati Wildan bukan prioritas mereka lagi, sekarang yang menjadi prioritasnya adalah menjauhkan Alya dari tuan Sanjaya, mereka takut jika Alya yang akan mewariswsi kerajaan bisnis Ask Company
Mereka mencoba berbagai cara untuk menjatuhkan Alya di depan tuan sanjaya dan terus mencari muka, sampai- sampai Vina meminta tuan Sanjaya untuk memberi pekerjaan di kantornya supaya bisa lebih dekat dengan Tuan Sanjaya
***
Alya masih menyibukkan dirinya dengan membuat desain baju, tapi kini bedanya Alya telah memiliki butik sendiri, walaupun tidak sebesar inezBoutique, tapi Alya sudah senang karena bisa mengelolanya sendiri, dia juga sudah memiliki 6 kariawan yang semuanya perempuan, Alya sengaja tidak mengambil kariawan laki- laki karena tidak mau ada masalah di kemudian hari,
Dia memiliki mesin jahit sendiri, dia memperkerjakan penjahit, dan dia juga memilih sendiri kain untuk desain bajunya
__ADS_1
Tak jarang Wildan datang mengunjungi butik Alya hanya untuk sekedar mengajaknya makan siang, Alya lebih suka pulang pergi dengan mengendarai sepeda motornya dari pada di antar jemput