
setelah kepergian Alya dari rumah, tak pernah terlihat senyum Wildan, dia hanya seperti makluk yang tak punya hati, lebih terlihat seperti mayat hidup
kini sudah satu minggu berlalu setelah pesta itu, dia setiap hari hanya bisa pasrah seperti boneka bagi mamanya,
setiap kali Vina datang dan mengajaknya keluar rumah hanya bisa nurut karena mamanya
Wildan tak pernah lagi tidur di kamarnya lagi, kini dia lebih suka tidur di kamar Alya
"oh iya, Alya pasti masih kuliah ya, kenap aku tidak mencoba menemuanya ke sana, tapi apa Alya mau bertemu denganku!" Wildan tampak ragu dengan apa yang akan dia lakukan
kemudian dia bangkit dari tidurnya dan menuju meja tempat Alya menaruh beberapa barang pribadinya
"mungkun dia menunggalkan sebuah petunjuk untukku!"
Wildan pun membuka buka laci meja, dan memeriksa beberapa buku catatan Alya
tiba- tiba secarik kertas jatuh dari sebuah buku
kertas itu sebuah kuitansi, ya kuitansi pembayaran rumah kontrakan selama satu tahun ke depan
"iya ini ada alamatnya, tapi ini tanggal dan bulanya sudah dua bulan yang lalu, jadi tanpa memberi tahu aku Alya sudah menyewa kontrakan!"
"apa mungkin selama ini Alya tidak nyaman tinggal di sini?"
"apa aku yang terlalu memaksakan kehendakku padanya?"
kemudian Wildan tampak mencari cari ponselnya dan segera mencari nomor kontak seseorang
"hallo ....!"
"iya pak ada apa?"
"tolong kamu nanti cari sebuah alamat, biar aku kirim nanti alamatnya!"
"baik pak!"
"oh iya , kamu juga sewa kontrakan di samping kontrakan atas nama Alya !"
"baik pak!"
__ADS_1
"kalau bisa besok pagi sudah beres!"
"baik pak!"
Wildan tampak mematikan ponselnya dan menfoto kuitansi yang tengah di pegangnya dan segera mengirim foto itu ke nomor yang baru saja di telfonnya
*****
pagi pagi sekali Wildan keluar dari rumah, dia berjalan begitu cepat sambil menaruh ponselnya di telinga
dia tampak menghubungi seseorang
"hallo !"
"pagi pak!"
"bagaimana, beres?"
"beres pak, bapak tinggal masuk saja, di rumah warna kuning!"
"trimakasih!"
lagi lagi Wildan menutup begitu saja telfonnya
*******
dia sampai di depan kontrakannya dia segera menuju rumah dengan warna kuning, bersebelahan dengan warna biru
"ini pasti rumah Alya, aku kangen banget sama kamu!"
"tapi ya sudahlah mending aku masuk ke dalam rumahku dulu, aku mau kasih kejutan sama Alya!"
Wildan pun memutuskan masuk ke rumahnya dia menunggu Alya keluar rumah
****
tak butuh waktu lama, Alya membuka pintunya, dia melihat di samping rumahnya
"wah kayaknya ada tetangga baru, tapi kemarin belum ada, mungkin baru tadi pagi pindahnya ....!"
__ADS_1
"apa aku samperin aja ya sambil kenalan!". Alya pun menghampiri ke tetangga barunya
"pagi ....!" Alya mengetuk pintu sebentar
betapa dia terkejut saat melihat yang keluar dari rumah itu
"Wildan ....!"
"selamat pagi Alya ...!"
"kamu di sini.....?????"
"iya .. .!"
"kenapa?"
"karena aku milikmu. ...!"
"itu bukan jawaban yang aku inginkan!" Alya terlihat marah dan hendak berpaling meninggalkan Wildan, tapi langkahnya kalah cepat dengan tangan Wildan yang segera meraih tangan Alya hingga Alya jatuh ke pelukan Wildan
"lepas . ...!"
"aku nggak akan melepasmu lagi .....!"
"sudah terlambat, kenapa bukan malam itu kau bilang seperti itu!"
"apa ada yang berubah jika aku bilang malam itu jika aku juga ingin menahanmu pergi!"
"setidaknya aku tahu, masih ada tempat untukku!"
"kau selalu memiliki tempat di manapun aku bernafas, karena kau nafasku!"
"kau tunangan seseorang, jadi lepaskan aku, biarkan aku pergi!"
"tapi aku sudah pernah bilang kan , jika kau tidak menjadi milikku maka tak ada orang lain juga tidak akan memiliku!"
"kau jangan keras kepala, lepaskan aku ....!"
"jika aku tidak mau!"
__ADS_1
"aku mohon, lepaskan aku ....!" kali ini air mata Alya tak mampu terbendung lagi, Wildan pun hancur jika harus melihat air mata Alya
"baik aku lepaskan!" setelah terlepas dari genggaman Wildan , Alya pun lari menuju rumahnya dan segera menutup pintunya.