Promise Of Love

Promise Of Love
57. makan malam 2


__ADS_3

Wildan pun sampai di rumah tepat pukul setengah enam sore, tak menunggu waktu lama Wildan langsung mengetuk pintu rumah Alya


Tok tok tok


Tapi tak kunjung ada jawaban dari dalam, rumah juga tampak sepi, dia mengintip di jendela rumah Alya, tapi tak ada satu orang pun di dalam rumah, Wildan pun memutuskan untuk menunggu Alya di depan pintu, tak berapa lama di ujung jalan tampak Alya dan Rani berjalan berdua


“kalian dari mana?”


“aku baru nemenin jalan- jalan ...!”


“iya Wildan, sekalian ini Alya sama aku!” Rani berusaha menjelaskan


“kamu lupa ada janji denganku ...!” Wildan tampak sedikit marah


“oh iya ..., aku lupa ..., maaf aku siap- siap dulu ....!” Alya tampak panik


“Alya tunggu ...., !” Wildan menarik tangan Alya


“ada apa lagi ....?”


“ini ..., pakailah ...!” Wildan meyerahkan tas yang berisi baju yang sudah dia beli dari boutique tadi


“ini apa?”


“jangan banyak protes, pakai aja ..., aku juga mau siap siap!” Wildan pun meninggalkan Alya dan Rani


Kini Wildan sudah siap dengan kemeja salm dan jas hitamnya sengaja dia pilih warna yang sama dengan baju Alya, tampak menawan dengan lengan di lipat hingga bawah siku, setelah menyemprotkan sedikit parfum ke seluruh bagian tubuhnya dan merapikan rambutnya sedikit sisiran ke belakang menambah kesan dewasa


Wildan pun segera keluar dari rumah dan mengetuk pintu rumah Alya, tak berapa lama Alya sudah keluar dengan memakai baju yang sudah di pilihkan Wildan


Betapa Wildan terpesona dengan penampilan Alya, di tambah dengan sepatu flatnya menonjolkan karakter Alya yang tak terlalu feminim


“kak kami berangkat dulu ya ...!” Alya berpamitan pada Rani


“iya hati- hati ya ...!”


“kan ada satpam ku bersamaku ,jadi kakak nggak perlu khawatir ...!”


Mereka pun tertawa bersama , dan tak menunggu waktu lama mereka pun berangkat, tapi Alya belum tau tujuan sebenarnya


“kamu cantik ...!” puji Wildan di dalam mobil, sambil terus konsentrasi menyetir


“yang cantik jalannya apa aku?”


“ya kamu lah ...!”


“tapi kenapa lihatnya ke jalan?”


“soalnya aku takut, kalau memandangmu aku nggak akan pernah bisa lagi berpaling darimu ...!”


“mulai deh gombalnya!”


Akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah besar, Alya tampak berfikir heran


“Wildan , ini rumah siapa?”


“sudah, kita masuk saja, nanti kamu juga tau sendiri!”

__ADS_1


Mereka pun mulai mengetuk pintu yang sangat besar itu, Alya melihat pintu yang sepertinya tak asing, bayangan bayangan masa lalu saling berkelebatan di benak Alya dan tak lama kemudian seseorang membukakan pintu


“silahkan masuk tuan ..., tuan dan nyonya sudah menunggu ...!”


“terima kasih bik!” tapi Alya tak hentinya melihat bibi itu, rasanya dia mulai membuka tabir masa lalunya


Wildan pu menggandeng tangan Alya masuk ke dalam rumah, tapi Alya tetap menoleh ke belakang menatap bibi yang masih berdiri di depan pintu yang juga menatap Alya penuh arti, hingga sebuah suara mengagetkannya


“selamat datang Wildan ...!” sebuah sapaan dan pelukan hangat menghampiri tubuh Wildan, ya dia adalah tuan Sanjaya, tapi saat melepas pelukannya dia terkejut saat melihat yang bersama Wildan adalah Alya, gadis yang beberapa kali dia temui


“Alya ....!”


“Tuan Sanjaya ....!” Alya balik menyapa tuan Sanjaya


“jadi kalian sudah saling kenal?” Wildan tampak terkejud, tapi tuan Sanjaya masih enggan untuk beralih dari memandang Alya


Rasanya kepala Alya semakin pusing, karena semua bayangan masa lalu muncul tanpa di untang, saling muncul dan pergi begitu saja,tiba- tiba ....


Gubrak ....


Alya jatuh pingsan


Saat Alya bangun dia sudah berbaring di sebuah kamar yang luas, dia melihat satu persatu orang yang ada di sana


ada Wildan yang tak hentinya memegang tangannya, seakan tangannya enggan menjauh dari tangan Alya,


ada tuan Sanjaya, Vina,” oh tidak ini masalah besar” pikir Alya, ada wanita paruh baya yang sangat modis


‘KAU TIDAK PA PA ?” Wildan tampak sangat cemas


Tapi Alya masih bingung ...


“kamu pingsan ...!” Wildan tampak menjelaskan


“aku pingsan?”


Di sana tampak Vina menahan marah melihat perhatian Wildan pada Alya, selain itu wanita modis itu juga memandang dengan pandangan yang sama dengan Vina, dia menutupi kebencian di balik senyumnya


“ya sudah biar dia istirahat dulu sayang, kita makan malam dulu ...!” ajak wanita modis itu dia adalah nyonya Helsa


“mungki itu akan lebih baik jika aku tinggalkan sendiri dengan orang yang pernah di kenalnya di masa lalunya” batin Wildan


“baiklah tapi aku minta bibi menemaninya dulu selagi kita makan!” Wildan tampak menunjuk bibi yang usianya kita kira lima puluh tahunan itu, dia sedang melihat Alya dari balik pintu


“ba- baik tuan ...!” bibi itu tampak gugup


Akhirnya semua orang keluar dari kamar kecuali bibi itu dan Alya yang masih berbaring


***


Bibi itu mendekati alya yang sedang berbaring, pandangannya benar- benar tak mau lepas dari Alya, dia duduk di samping Alya dan mengelus lembut pipi Alya dengan mata yang berkaca- kaca


“bibi kenapa?” Alya tampak keheranan


“non Alea .....!” bibi itu memanggil Alya dengan sebutan Alea


Alya merasa heran, tapi nama itu juga tak asing baginya, dia merasa ada sesuatu di sini, di rumah ini, dan bibi itu

__ADS_1


“non ...., aku yakin non ..., non Alea, bibi tidak salah!” kali ini bibi itu benar- benar menitikkan air matanya, yang semakin mengalir deras


Alya pun langsung memeluk bibi itu, dia tidak tega melihat bibi itu menangis, rasanya ikut sakit melihat air mata yang mengalir itu


“bibi siapa?” Alya penasaran


“aku bi jum, bi jum yang sudah merawatmu sejak kamu bayi non ...!”


Bayangan bayangan masa lalu pun muncul kembali saat memdengar nama bi jum, kemudian Alya memukul- mukul kepalanya dan bi jum mencoba menghentikannya


“bodoh, bodoh ...., apa yang terjadi


denganku ....?”


“jangan lakukan itu non, jika non tak belum bisa mengingatnya jangan di paksakan non!”


Kepala Alya terasa sangat sakit, saat bayangan bayangan masa lalunya muncul


“bi jum maafkan aku , aku sudah tidak apa apa , bisakah bi jum mengantarku ke depan?”


Alya rasanya tak sanggup lagi di tempat itu,


dia ingin segera pulang, bi jum pun mengiyakan, tapi saat menatap ke orang- orang di sana, Alya merasa sakit sekali melihat Vina yang terus menggandeng tangan Wildan, dia terus bertanya untuk apa dia di sini, di tempat calon tunangan Wildan


“kamu sudah bangun!” saat melihat Alya Wildan pun langsung berdiri dari duduknya


“ayo kita pulang ....!” Alya mengajak Wildan pulang


“baiklah ..., tunggu sebentar, biar aku bicara dulu sama bi jum ....!’’ Wildan pun tampak menghampiri bik jum dan membawanya sedikit menjauh dari Alya dan orang- orang di situ, mereka tampak berbicara hal yang serius


Sambil menunggu Wildan dan bik jum berbicara, tuan sanjaya menghampiri Alya


“nak kau sudah tidak pa pa, apa tidak sebaiknya kamu menginap di sini saja ?” tuan Sanjaya tampak cemas


“tidak pa pa om ..., aku sudah baikan, biar aku pulang saja !” Alya menolak dengan lembut


Akhirnya Wildan pun selesai berbincangnya dengan bik jum dan kembali menghampiri Alya


“ya udah om, kami pulang dulu ..., mungkin nanti kami akan sering ke sini!” pamit Wildan pada keluarga Tuan sanjaya


“biar aku antar ke depan ya kak ...!’’ Vina tampak menggelaqyut manja di tangan Wildan, Wildan pun tak mampu menolak, jika dia menolak pasti banyak yang curiga dan yang kena pasti lagi- lagi Alya


Setelah sampai di depan pintu , Wildan punberpamitan kembali kepada keluarga Sanjaya, wildan mengajak Alya masuk ke dalam mobil, Alya tampak lebih banyak diam, mereka menunggu sampai mobil Wildan tak terlihat lagi baru masuk ke dalam rumah


,


,


,


,


,


,


terimakasih atas dukungannya jangan lupa ya like n koment ya

__ADS_1


saya tunggu kritik dan saran ya


😂😂😂😂


__ADS_2