Promise Of Love

Promise Of Love
41. persaingan cinta


__ADS_3

Saat Alya dan Wildan keluar dari rumah Wildan, mereka terperanjak saat mendapati Vino sedang berdiri di depan Pintu rumah alya dan menatap mereka dengan penuh keheranan


“bagaimana bisa kalian berdua?” Vino langsung melontarkan pertanyaan itu tanpa menunggu penjelasan dari mereka


“Vino....., ini tak seperti yang kamu lihat !” Alya tampak berusaha menjelaskan


“kenapa kamu repot- repot memberi penjelasan padanya memangnya siapa dia, saudara juga bukan!” Wildan marah melihat perhatian Alya terhadap perasaan Vino


“kamu pucat sekali, kamu sakit ya?” tanpa mendengar protes dari Wildan Vino langsung mendekati Alya dan memegang dahi Alya


“apaan ini jangan pegang – pengan ....!” Wildan langsung menepis tanggan Vino


“aku Cuma demam kok ...!” Alya berusaha menjelaskan keadaannya “trus apakah aku harus terus berdiri di sini, aku sangat pusing, biarkan aku masuk dan istirahat!” Alya tampak kesal dengan kelakuan mereka berdua


“baiklah biar aku antar ke kamarmu!’ Wildan pun memapah Alya menuju ke kamarnya dan Vino masih terdiam tak percaya


Akhirnya Vino tak butuh waktu lama untuk sadar dari diamnya dan mengikuti Alya dan Wildan masuk ke dalam rumah


Wildan menidurkan Alya di tempat tidurnya, dan menyelimutinya


“aku buatkan sup hangat dulu ya!” saat Wildan hendak meninggalkannya, Alya menaqrik tangannya


“ada apa?”


“trimakasih ya!” dengan senyum lembutnya yang membuat hati yang melihatnya terasa damai, walaupun wajahnya pucat tapi kecantikannya tak pernah pudar, Wildan pun membalasnya dengan senyuman


Alya segera melepaskan tangan Wildan , Wildan pun berlalu meninggalkan Alya hendak ke dapur tapi langkahnya terhenti saat melihat Vino di hadapannya


“aku boleh masuk kan?” Vino meminta ijin pada Alya dan Wildan

__ADS_1


“masuklah ......!”Wildan membiarkan Vino masuk


“trimakasih!” tanpa menunggu jawaban dari Wildan, Vino pun langsung masuk


Wildan pun berlalu meninggalkan mereka berduamenuju ke dapur, dia tampak sibuk memasak sup untuk Alya, walaupun dia seorang dokter dia jiga hobby memasak, di sela waktu luangnya dia habiskan untuk memasak


“kenapa sih harus selalu ada dia, memangnya siapa dia? Selalu ada di waktu yang tidak tepat!’ Wildan terus menggerutu di sela sela dia memasak


Tak butuh waktu lama , supnya siap untuk di hidangkan, Wildan pun segera membawa sup itu ke kaamar Alya tak lupa dia juga membawakan segelas air putih dan obat penurun panas untuk Alya


Saat sampai di depan kamar Alya, dia kesal sekali saat melihat Alya bisa tertawa lepas di samping Vino dengan becandaan becandaan Vino membuat hatinya kini kian terbakar


“kenapa, kenapa bukan aku yang membuatmu tertawa seperti itu!” gumamnya dalam hati


“eh ...., Wildan ..., apa sudah matang supnya, aku laper sekali?” ternyata Alya menyadari kedatangan Wildan, dia langsung merengek manja pada Wildan


“aku suapi ya .....!”


Alya pun menganggukkan kepalanya tanda dia setuju, kini Wildan menyuapi Alya dengan penuh kasih sayang, cintanya kepada Alya rasanya semakin hari semakin bertambah, kalau sedang bersama Alya seolah dia lupa kalau kini ada masalah besar yang sedang menimpa hidupnya, dalam waktu dekat dia harus bertunangan dengan orang lain bukan Alya


Jika harus mengingat hal itu, rasanya hidupnya percuma , apa lagi kini dia belum menemukan titik terang tentang asal usul Alya


Disisi lain, Vino yang melihat kemesraan itu merasa sangat cemburu, tapi apa boleh buat, merekia yang lebih dulu dan bukan dia, dia hanya jadi orang ketiga dari hubungan mereka


“apa aku salah jika harus mengharap cinta dari orang yang sudah mencintai orang lain, tapi aku juga tak sanggup jika harus merelakan begitu saja, apa lagi jika melihatnya menangis karena pria itu, rasanya aku benar- benar tidak rela, sakit yang kurasakan tak sebanding dengan sakit yang dia buat untuk Alya!” bati Vino terus berperang memikirkan Alya, antara merelakan dan memperjuangkan


“tapi apa yang pria iyu lakukan pada Alya tak bisa di benarkan, bagaimana bisa dia mengikat Alya padahal dia akan bertunangan dengan gadis lain!!”


Akhirnya Wldan selesai menyuapi Alya

__ADS_1


“sekarang kamu harus minum obat ...!” Wildan menyodorkan satu butir pil dan air putih, tapi bukan Alya kalau tak protes


"obat apa ini?"


"obat bius!" Wildan tampak kesal menanggapi protes Alya


"hah ..... obat bius ?"


"ini paacetamol, obat penurun panas, makanya jangan banyak protes, cepetan minum!"


"baik, kamu becandanya ngeri sih!"


akhirnya Alya mau minum obat


"sekarang kamu istirahat dulu, aku akan jaga di luar, nanti kalau butuh apa apa panghil aku aja!" Wildan membenarkan tidur Alya dan menyelimutinya, kini Wildan dan Vino meninggalkan Alya tidur


Wildan dan Vino berjalan beriringan keluar dari rumah Alya


-


-


-


-


-


jangan lupa like dan comennt ya dan satu lagi vote nya ya 😉😉😉😉😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2