Promise Of Love

Promise Of Love
78. rayuan Vina


__ADS_3

Sore itu saat Wildan kembali lagi ke rumah, Alya sudah siap dengan koper- kopernya, dan saat Alya dan Wildan sibuk memasukkan koper mereka ke dalam bagasi. Tiba- tiba Vina memeluk Wildan dari belakang.


“Vina?” Alya dan Wilda sangat terkejut, Wildan segera melepaskan pelukan Vina


Alya merasakan sangat tidak suka dengan kelakuan Vina


‘hei..., apa apaan ini, kamu tidak lihat ada istrinya’ gumam Alya hati Alya terasa terbakar dengan api cemburu, tapi dia tak bisa berbuat apa apa hanya bisa berharap suaminya tidak akan tergoda


“apa yang kau lakukan Vina!” Wildan tampak menajamkan matanya


“jangan pergi dari sini!”


Vina dengan air mata yang terus mengalir di pipinya dengan wajah memohon


“apa hak mu melarang ku, aku ini suami adikmu, jadi hormati itu!”


“aku tak bisa jauh dari mu kak!” Vina tampak mengeluarkan air matanya


“hentikan drama mu ...!” bentak Wildan


Wildan pun segera menarik tangan Alya untuk masuk ke dalam mobil. Wildan mmelajukan mobilnya dan meninggalkan Vina yang masih berdiri tak rela


***


flashback


Ternyata seharian tadi sejak keluar dari rumah Vina sudah membuat Wildan kesal, dia terus menggoda Wildan dengan tubuhnya,


“kak aku mau ikut kakak ke kantor kakak!”


gelayut Vina dengan manja, tangannya tak pernah lepas dari lengan Wildan


“aku akan mengantarkanmu ke kantormu!”


Vina terus menggandeng tangan Wildan dan tak jarang dia meraba tubuh Wildan


“aku tau kakak tidak mendapatkan hak kakak sebagai suami setelah menikah, memang Alya itu wanita bodoh yang membiarkan kakak sekeren ini!”


Vina berusaha mengacaukan pikiran Wildan supaya berpaling dari Alya


“hentikan omong kosong mu!” Wildan tampak mengeraskan suaranya dengan tatapan dingin membunuh


“aku tidak akan berhenti, sebelum aku mendapatkan mu!” tapi ternyata bentakan itu tak membuat surut usaha Vina untuk terus menggoda Wildan


“berhenti bertingkah yang merugikan mu!” rasanya Wildan sudah mulai kehilangan kesabaran


“kalau aku tak bisa jadi istrimu biarkan aku jadi simpanan mu!”


Godaan Vina semakin agresif, dia sampai berani mencium bibir tipis Wildan, membuat Wildan benar- benar kehilangan kesabaran,


Setelah sampai di depan kantor, Wildan segera menurunkan Vina


“ingat jangan pernah menemui ku lagi, jangan mengganggu Alya!”


Itulah alasan kenapa Wildan tidak ingin berlama- lama berada satu atap dengan Vina, dia seorang laki- laki normal yang mungkin saja lama- lama dia bisa khilaf


flashback end


***


Sepanjang perjalan wildan hanya diam, dia tak bisa melupakan kejadian tadi pagi, dia takut jika sampai Vina tetap nekat dan menyakiti Alya

__ADS_1


“kau tidak papa?” Alya yang menyadari kecemasan di wajah suaminya


Wildan segera memegang tangan alya dan mencium punggung tangan nya, dia menyetir mobil dengan satu tangan


“aku tidak pa pa sayang, jangan cemas!” Wildan berusaha meyakinkan alya, dia tidak ingin Alya kepikiran


Kemudian kebisuan kembali datang di antara mereka, tapi tangan wildan masih enggan melepaskan tangan Alya


“apakah masih jauh?” Alya kembali memecah keheningan


“sebentar lagi sampai!”


“kenapa kau jadi pendiam sekarang?”


Alya begitu heran dengan perubahan Wildan yang drastis itu, tak biasanya dia diam jika di dekatnya


“siapa bilang , tidak tuh ...!”


Kemudian ia teringan dengan omongan Vina tadi pagi


“aku tau kakak tidak mendapatkan hak kakak sebagai suami setelah menikah, memang Alya itu wanita bodoh yang membiarkan kakak sekeren ini!” omongan Vina yang itu yang selaku ia ingat sepanjang jalan


‘dari mana dia tahu , seharusnya Cuma aku dan Alya yang tahu?’ batin wildan terus bertanya


‘apa dia menyusup di kamar kami?’


Wildan terus saja asik dengan pikirannya sendiri,


sedangkan Alya tak hentinya memperhatikan wajah suaminya yang terlihat banyak sekali yang sedang ia pendam


“boleh aku bertanya?” untuk mengurangi rasa penasaran atas suaminya Alya memberanikan diri bertanya


“iya..., bertanyalah ...!”


“apa yang membuatmu memilih aku jadi istrimu?”


“karena cinta!”


“apa yang membuatmu cinta?”


“kenapa kau bertanya yang membingungkan ku?”


“kenapa balik bertanya, jawab saja!”


“jangan tanyakan mengapa, apa, kapan, dimana, tapi yang jelas siapa yang aku cinta!”


“aku benar- benar tidak mengerti!”


Kini tangan Wildan mengacak- acak rambut Alya gemas


“tanya tapi di beri jawaban malah tidak mengerti, dasar bocah!”


“salah siapa menikah dengan bocah!” Alya mengerucutkan bibirnya kembali tanda ia benar- benar sebal, tapi ternyata tingkah Alya yang ini selalu membuat Wildan semakin gemas


“jangan menggodaku, ini masih di jalan!”


“siapa juga yang menggoda mu?”


“bibirmu itu yang menggoda , dasar ...!” Wildan kembali mengacak –acak rambut Alya


“kenapa sih suka sekali mengacak- acak rambutku?”

__ADS_1


Wildan hanya menanggapinya dengan senyuman, Alya yang di buat kesal hanya memalingkan wajahnya, dia menatap keluar, di luar tampak mulai turun hujan


***


Akhirnya mobil mereka sampai juga di halaman sebuah rumah besar,


“sudah sampai!”


Wildan menoleh ke arah Alya, tanpa di sadari ternyata Alya sudah tertidur dari tadi


“sudah tidur, pantas saja dia diam saja!”


Wildan pun turun dari mobil, ternyata di dekat mobil pak Harun sudah menunggu kedatangan mereka


“selamat datang tuan muda!”


Wildan hanya membalas dengan senyuman


“tolong keluarkan barang- barang kami saja pak, biar aku yang menggendong Alya!”


“baik tuan!”


“ini kuncinya!”


Wildan menyerahkan kunci mobilnya kepada pak Harum


Tanpa menjawab pak harun langsung mundur beberapa langkah dan membiarkan tuannya untuk masuk rumah terlebih dahulu


Wildan pun menggendong Alya sampai di kamar lantai atas, seorang pelayan lagi mengikuti wildan di belakangnya, pelayan itu membukakan pintu kamar


Setelah masuk kamar Wildan segera merebahkan tubuh Alya di atas tempat tidur


“aaah ..., capek juga!”


Wildan tampak meregangkan badannya


“ada yang bisa saya bantu tuan?”


Tanya pelayan yang dari tadi mengikutinya


“tidak usah terima kasih, istirahatlah!”


“baik tuan!’


Pelayan itu mundur beberapa langkah dan menutup pintu kamar tuannya tanpa mengeluarkan suara


Setelah pelayan keluar, Wildan segera masuk ke kamar mandi , mandi dan mengganti bajunya dengan baju tidur


Ia menghampiri istri kecilnya sedang tidur, di pandangi wajah istrinya lekat,


“dia cantik sekali, rasanya tidak akan puas memandangi wajahnya sepanjang hari pun”


Wildan merebahkan tubuh di samping istrinya , memiringkan badanya dan menggunakan tangannya untuk menyanggah kepalanya


“aku berjanji sampai kapanpun aku akan tetap menjagamu, kau hidupku”


Wildan menindih sebagian tubuh Alya, membuat Alya sedikit mengeliat, tapi ternyata tak membuatnya terbangun


“kamu manis sekali, bocahku”


Wildan mengecup bibir Alya, dia tak ingin membuat Alya terbangun, walaupun tak bisa di pungkiri nalurinya sebagai lelaki kini tak bisa terbendung saat berdekatan dengan istrinya, tapi ia tak mau melakukannya dengan paksaan, dia ingin melakukannya dengan persetujuan Alya

__ADS_1


Ia hanya bisa memeluk tubuh istrinya sepanjang malam hingga terlelap dalam tidurnya


__ADS_2