
Keesokan harinya saat alya masih tertidur pulas di dalam kamarnya, tiba- tiba sebuah ketukan pintu membangunkan dari tidurnya
Tok tok tok
“siapa sih pagi pagi bertamu?’ Alya pun bangun dengan malasnya, hari masih sangat gelap, jam dinding masih menunjukkan pukul empat pagi, Alyan benar benar terperanjak saaat mendapati jarum jam masih pukul empat, dia berusaha mengucek- kucek matanya merasa tidak percaya
“masih pagi ...., ah aku mungkin Cuma mimpi!” Alya kembali masuk kedalam kamar dan membetulkan selimutnya
Tok tok tok
Tapi suara ketukan itu terdengar lagi
“tapi ini benar, aku tidak bermimpi, siapa pagi- pagi bertamu ya? Apa mungkin Wildan ya? Kurang kerjaan sekali sih dia , kayak nggak ada waktu saja!” akhirnya Alya bangun dari tidurnya dengan malas malasan
***
Di seberang rumah Alya, tau kan rumah siapa, ya rumah Wildan, dia juga mengalami hal yang sama, dia merasa terganggu karena ada yang mengetuk pintu di pagi- pagi buta seperti ini, karena rumah mereka hanya di batasi oleh tembok jadi ketukan itu terdengar jelas dari rumah Wildan juga
Wildan pun tak bisa melanjutkan tidurnya kembali, karena merasa penasaran dengan orang yang bertamu pagi- pagi sekali di rumah Alya, dia tak bisa mengabaikannya, dia lihat jarum jam masih menunjuk ke angka empat
“hah ...., masih jam empat, siapa pagi- pagi seperti ini bertamu!” Wildan rasanya malas untuk bangun tapi kemudian dia berpikir kembali
“jangan jangan dia Vino, pria kaku itu ..., jangan sampai dia mendekati Alya ...!” Wldan pun langsung terperanjak dari tempat tidur dan segera lari menuju ke arah pintu
***
Pintu pun terbuka secara bersamaan,
“kenapa sih pagi- pagi bertamu?” keduanya juga berucap yang sama, mereka benar benar kompak, dan orang yang berada di depan rumah hanya bisa mlongo dan memandang mereka secara bergantian, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat
“Rani ....!”
“kak Rani ....!”
Lagi lagi mereka berteriak bersamaan ..., mereka terkejut ternyata yang bertamu pagi pagi itu adalah Rani, kakak Alya dari kampung, dia tampak membawa satu tas besar dan tas kecil di bahunya
“wah ...., kalian kompak sekali .....!” Rani tampak memuji kekompakan mereka, Alya pun langsung berhambur memeluknya
“kakak ...., aku kangen!” rasanya enggan melepas pelukannya
“kalian tinggal bersebelahan ya?” Rani tampak heran dengan mereka yang tinggal bersebelahan
__ADS_1
“iya kak, ayo kita masuk, kakak pasti capek!” akhirnya Alya mengajak Rani untuk masuk ke dalam rumah dan menutup kembali puntunya
***
Sementata itu Wildan masih tampak tidak percaya dengan kelakuan dua orang wanita itu, siapa lagi kalau bukan Alya dan Rani
“dasar..., bukannya menyapa, aku malah di tinggal sendiri, ya sudahlah lebih baik aku joging saja!”
Wildan pun masuk kembali ke dalam rumah dan mengganti baju tidurnya dengan kaos ketatnya dan celana bahan kaos dan handuk di slempangkan di lehernya dan tak lupa memakai headset blutootnya danmenyakukan handphonenya
Dia kembali lagi keluar dari rumah dan kembali menutup pintunya dari luar , wildan pun berlari santai menyusuri jalanan yang masih sepi
Sesekali dia meregangkan badannya, dengan meliu- miukkan punggang dan memutar- mutar lehernya
***
Di dalam rumah tampak rani duduk di ruang tamu dan menaruh tasnya di samping ia duduk
“kakak berangkat dari rumah jam berapa?” Alya membawakan satu gelas kopi untuk kakaknya
“aku sebenarnya berangkat dari kemarin siang, setelah kamu telpon, aku benar- benar tidak tenang mandangar ceritamu tentang kekacauan hidupmu, jadi mau tak mau kakak langsung pamit sama bapak untuk menyusul kamu kesini!” jelas Rani panjang lebar
“trus kenapa lama sekali sampainya?”
“siapa kak namanya?”
“ya ampun, aku lupa tanya namanya!” Rani tampak memukul keningnya sendiri
“ya sudah kak kalau jodoh pasti ketemu lagi ..., kakak pasti capek, kakak tidur aja, biar aku belanja di depan, nanti biar aku yang masak!”
“ok, aku tidur dulu ya!”
“iya kak, aku keluar dulu ya!” Alya pun keluar dari rumah dan tak lupa menutup pintunya kembali, Alya berjalan menyusuri jalan untuk mencari tukang sayur.
Tak berapa lama akhirnya Alya menemukan tukang sayur , tukang sayur itu nampak sudah di kerumuni ibu- ibu yang sedang belanja juga
“pagi bu ...!” Alya menyapa ibu –ibu yang sedang berbelanja
“pagi mbak Alya, belanja mbak ...?” salah satu ibu itu menyapa balik sapaan Alya
“iya bu ...!” Alya menjawab singkat sambil memilih milih sayuran yang ingin dia beli
__ADS_1
“mbak Alya ini rajin sekali ya , cocok sekali sama pak dokter ganteng itu, kenapa nggak jadian saja sih mbak?” tanya ibu yang lainnya
“ah ibu ini bisa saja ...!’ Alya tidak mau menanggapi dengan serius apa yang di katakan ibu- ibu itu
Akhirnya Alya mendapatkan sayur yang dia inginkan, dia memilih satu ikat sayur bayam, jagung manis, ikat laut segar , tomat , cabe ban terasi, dia berencana memasak sayur bayam dengan sambal terasi dan lauk ikan, alya pun menyerahkan belanjanya pada pak tukang sayur untuk di hitung
“pagi ibu ibu ....!” tiba- tiba Wildan datang dan menyapa ibu- ibu yang sedang berbelanja, Alya pun ikut menoleh melihat kedatangan Wildan
“yang sedang kita bicarakan datang juga ....!” salah satu dari mereka menanggapi
“iya, dia dokter yang tampan sekali, kita beruntung kedatangan dokter tampan seperti dia!”
“ibu- ibu ini bisa saja memujinya!” Wildan hanya menanggapi sekenanya
benar sekali mereka tidak terlalu berlebihan memuji Wildan, tak jarang mereka akan membantu masyarakat di sekitar dengan cuma Cuma
“jangan terlalu memuji bu, aku bisa lupa diri!” mata Wildan tak hentinya memperhatikan Alya yang sibuk menghitung belanjaan
“kapan kalian akan menikah, kami menunggu undangannya ya!” celoteh dari ibu- ibu yang lain
Alya nampak semakin tidak nyaman dengan obrolan ibu- ibu itu
“semuanya berapa pak?”
“semua tiga puluh lima ribu!” setelah menghitung pak tukang sayur menyebutkan jumlah yang harus di keluarkan Alya, Alya pun mengeluarkan uang lima puluh ribuan, dan pak tukang sayur memberikan kembalian lima belas ribu
Alya pun segera pergi meninggalkan ibu-ibu dan tukang sayur, ternyata Wildan pun berlalu mengikuti Alya
“hei ..., bisa aku bantu!” Wildan tampak meraih belanjaan Alya
“aku punya nama ya ...!” Alya tampak kesal
“sebenarnya aku masih bingung harus memanggilmu seperti apa, tapi aku sebenarnya lebih suka memanggilmu cinta atau sayang ...!’’ mereka pun bercakap cakap sambil terus berjalan, hingga mereka pun sampai di depan rumah,
-
-
-
-
__ADS_1
trimakasih sudah membaca novelku, jangan lupa like n coment ya vote nya juga