
pov Wildan
setelah semua tamu pulang tuan sanjaya menyuruhku dan Alya untuk beristirahat, ini merupakan malam pertamaku sebagai seorang suami dan juga malam pertama Alya sebagai seorang istri
“nak kalian istirahatlah, kalian pasti capek!” aku hanya bisa diam menunggu jawaban Alya, karena walaupun aku sudah sangat capek aku tak mungkin masuk sendiri ke dalam kamar
“baik ayah, kalau gitu kami ke kamar dulu!” kini Alya menaiki tangga dan aku ikuti di belakangnya
Setelah sampai di depan kamar, Alya tampak menghentikan langkahnya, aku tau mungkin ia sangat gugup tampak dari raut wajahnya, tapi aku menikmati wajah lucunya saat gugup
“kenapa berhenti?” aku pura-pura tak mengerti
“tidaaaak ....”
“trus itu . kenapa?”
“ya udah kamu dulu aja deh yang masuk, aku mau ambil minum dulu!”
dia tampak mencari- cari alasan, dan segera berlalu meninggalkanku, akupun hanya mengeluarkan senyum jahilnya sambil menatapnya yang berlari menuruni tangga kembali
Setelah Alya tak terlihat, aku pun segera memasuki kamar Alya, ini untuk pertama kalinya aku memasuki kamar Alya, betapa aku sangat terkejut saat melihat warna cat dan ornamen kamar ini
“astaga...., kenapa semuanya pink ..., cewek banget sih dia ...!”
Rasa capek ini menbuatku segera merebahkan badannya di atas tempat tidur tanpa mempedulikan sekeliling, aku sudah merasa lelah karena seharian ini harus mengikuti serangkaian acara, tak butuh waktu lama , aku pun telah terlelap, tapi kemudian suara ponselnya mengagetkannya yang baru saja terlelap, matanya segera terbuka kembali
“hallo, apa apa?”
“saya mencurigai orang terdekat nona Alya tuan, tentang dalang hilangnya nona Alya beberapa tahun yang lalu!”
“baik lanjutkan penyelidikan, aku tunggu hasilnya, besok kita ketemu di kantor!”
“baik tuan, selamat malam!”
Aku sedikit terkejut, mataku tak mampu terpejam kembali
‘kenapa Alya tak juga kembali’
__ADS_1
***
Aku pun bangun dari tempat tidur, aku membuka pintu kamar dan mencari keberadaan Alya , saat hendak menuruni tangga langkahku ku hentikan , aku memutuskan untuk menunggu Alya di kamar saja
Tak berapa lama aku mendengar langkah kaki Alya yang menaiki tangga, aku yang semula duduk di sofa segera merebahkan tubuhku di tempat tidur dan pura- pura tidur kembali
‘kenapa dia lama sekali, tinggal buka pintu saja’
‘apa yang di lakukan di balik pintu’
Kemudian saat melihat pakaianku, aku tidak sadar kalau aku masih pakai pakaian lengkap, lengkap dengan sepatuku
‘bagaimana ini masak aku tidur pakek baju gini’
Tapi saat hendak melepas jasku , tiba- tiba suara pintu hendak di buka, aku kembali merebahkan tubuhku dan sedikit memejamkan mata, walau masih bisa melihat sekeliling dengan mata yang tidak benar- benar tertutup
Ceklek
Dia mendongakkan kepalanya terlebih dahulu, matanya menjelajah ke segala arah di dalam kamar, dia melihat ke arah ku di atas tempat tidur, perlahan- lahan dia masuk sampai- sampai suara langkah kakinya tak terdengar
‘wah..., dia sudah tidur ya?’ Alya memandangi ku yang matanya sudah terpejam, sambil menggoyang-goyangkan tangannya di atas wajahku memastikan kalau aku benar- benar tertidur aku hanya bisa menahan tawa
‘wah benar dia sudah tidur’
Alya segera lari ke kamar mandi tak lupa membawa piamanya, aku kembali duduk dan memperhatikan Alya dari belakang tampa ia sadari
Tak berapa lama ia segera menghampiriku yang sudah kembali pura- pura tidur,
‘pasti dia capek sekali, sampai ketiduran seperti itu’
saat hendak merebahkan tubuhnya di samping ku, entah apa yang kemudian membuatnya bangun lagi, ia memutari tempat tidur dan berhenti di sisi tempat tidur lainnya,ternyata ia hendak melepaskan sepatuku yang masih melekat di kaki,
‘bagaimana aku melepaskan jasnya? Dia pasti akan bangun’
Aku hanya bisa tetap pura- pura tidur sambil menahan tawa
‘mungkin jika aku pelan, dia tidak bangun’
__ADS_1
ia mulai mengangkat tanganku yang sedang bersedekap di dada b, akhirnya dengan susah payah dia bisa melepaskan satu lengan jasku, dia tampak begitu kesusahan, tapi aku ketap tidak berkeinginan untuk bangun, aku ingin tau seberapa kerasnya ia berusaha
‘sekarang bagaimana aku bisa mengangkat tubuhnya, besar begitu...’
Dia berusaha memiringkan tubuhku, bagaimana bisa dia memiringkan tubuhku dengan tubuh mungilnya itu, pasti kalau aku dekap dengan satu tangan saja ia tidak akan bisa melepaskan diri,
aku pura- pura menggeliatkan tubuhku dan memiringkan tubuhku supaya dia lebih mudah melepas jasku, Alya ternyata terkejut dengan geliatanku segera menjatuhkan butuhnya di bawah tempat tidur aku hanya bisa menahan tawa gemas melihat tingkah Alya
‘apa dia bangun ....?’
‘ah sepertinya tidak..’
Alya pun kembali bangun, dan kini posisiku sudah miring memunggunginya, jadi ia bisa lebih mudah melepaskan lengan jas yang satunya, setelah terlepas Alya segera menaruh jas ku di keranjang baju kotor di sudut ruangan, dan segera kembali ke tempat tidur
‘ah dasar kebo..., tidur kok sampek kayak gitu’ gerutu Alya sambil menyelimuti tubuhku
‘apa dia mengataiku kebo!’rasanya sedikit kesal sih tapi tak apalah aku suka tingkahnya yang menggemaskan
Alya mematikan semua lampu kamar kecuali lampu tidur, dan merbahkan tibuhnya di samping ku, memutup tubuhnya dengan selimut yang sama yang ia selimutkan ke tubuh ku, ia menutup tubuhnya hingga leher dan segera memejamkan mata
Tapi aku tak terima kenapa Cuma sebatas ini, harusnya dia juga membuka kemejaku kan, dia kan istriku sekarang, dia kan boleh melihat dada bidang ku
Tapi aku tak kurang akal, aku mendekap tubuhnya dengan tanganku, kini tubuh kami berada sangat dekat hanya terpisah oleh pakaian kami saja
ia sepertinya sangat terkejut saat tanganku melingkar di atas perutnya
‘apa ini...?’
‘woe...., kondisikan dong tangannya...’
Alya berusaha keras untuk mengangkat tangan ku, tapi semakin keras Alya berusaha, tangan ku terasa semakin kuat juga mencengkeram tubuhnya
Aku akan lakukan lebih dari ini saat kau sudah siap, aku tidak akan egois
‘ok, baiklah aku nyerah ...!’
Akhirnya Alya menyerah dan membiarkan tanganku mendekap tubuh mungil nya, kami pun akhirnya terlelap dalam tidur
__ADS_1