
mobil Wildan melaju dengan santainya di jalanan ibu kota, yang saat itu lumayan padat
"kita akan kemana?" tampak Alya memberanikan bertanya pada Wildan, sebenarnya malas jika harus puter puter tanpa arah apalagi ia juga belum terbiasa dengan bau mesin mobil, perutnya sudah terasa mual dari tadi
"kita akan ke mall, kita beli keperluanmu!"
"apa kau tidak ada pekerjaan?"
bukankah dia dokter, tapi kenapa tidak sibuk sama sekali, batin Alya bingung
"o itu ...., tidak masalah kok, nanti kalau ada pasien pasti ada yang mengabariku!" Wildan memang dokter, tapi juga pemilik rumah sakit dimana dia praktek
breet.... breeet.... breeet.....
tiba- tiba sebuah telpon berdering
"iya hallo!"
entah apa yang di bicarakan di seberang telpon hingga ekspresi wajah Wildan berubah khawatir
"baik aku akan segera ke sana!"
tut tut tut
telpon pun mati
"kita ke rumah pasienku dulu ya!" Wildan menberi penjelasan pada Alya, dia tidak mau membuat Alya khawatir
"baik!" Alya hanya menjawab dengan pendeknya karena tak mau terlalu banyak bicara, ia hanya menahan perutnya yang mual karena mabuk kendaraan dengan terus memejamkan mata
mobil pun sampai di depan rumah mewah, dengan halaman yang luas, ya rumah ini tidak kalah besarnya dengan rumah Wildan
"ayo turun ..." Wildan mengajak Alya turun
mereka segera turun dari mobil dan tak lupa Wildan mengenakan jas kebesarannya, jas warna putih itu, yang menunjukkan identitasnya sebagai dokter, dan tak lupa sebuah tas berisi beberapa alat kesehatan, di saku jasnya juga tergantung sebuah stetoskop
Alya hanya bisa mengikuti langkah Wildan yang agak dipercepat, ya sedikit berlari,
sebelum sempat mengetuk pintu, seorang asisten rumah tangga sudah bersiap di depan pintu dan segera mempersilahkan kami masuk tak lupa dia menunjukkan kamar majikannya
"silahkan dokter!" setelah sampai di depan kamar, wanita paruh baya itu membukakan pintu kamar dan menyuruh mereka masuk, ya sebenarnya Wildan saja, tapi apa boleh buat Alya pun ikut masuk ke dalam
__ADS_1
"bi ...., bisa pinjam kamar mandinya?" Alya terpaksa meminta ijin pada bibi itu
"ya mari nona saya antar ....."
bibi itu segera mengantar Alya menuju ke kamar mandi
"ini nona kamar mandinya, maaf saya tinggal dulu"
"baiklah terimakasih bi ..."
Alya pun tak mau menunggu lama, ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan seisi perutnya
setelah merasa semua isi perutnya keluar, ia segera menyandarkan punggungnya ke dinding kamar mandi
"ah .... lega ...."
setelah beberapa saat akhirnya akhirnya Alya keluar dari kamar mandi, tapi bibi tadi tak ia temukan
ia mencari tempat di mana Wildan memeriksa pasiennya
"orang sakit biasanya kan di kamar, jadi kalau aku memeriksa satu persatu kamar ini pasti ketemu"
akhirnya Alya menyusur ke seluruh ruangan, ia menaiki tangga dan menemukan beberapa kamar di sana
hingga ia tiba di sebuah kamar yang berbeda dengan kamar lainnya, Alya pun segera membuka dengan pelan kamar yang tak terkinci itu
langkahnya terhenti saat dirinya melihat seseorang yang pernah ia kenal
"anda ....." Alya menunjuk orang yang sedang mengancingkan baiunya, nanpak jika dia baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah
pria itu segera menoleh pada Alya
"nona Alya , kau di sini?" tanyanya balik
"maaf, sebenarnya aku bersama dokter Wildan ....."
"jadi kau tersesat lagi, di rumahku ....?"
"iya ...., maaf karena telah lancang masuk ke kamar anda, saya akan keluar" Alya pun segera berbalik badan hendak melangkah, tapi tangannya lebih dulu di tarik dari belakang, hingga pangkahnya terhenti
"tidak ...., biar ku antar kau ke kamar ibuku ...." kini dia yang menarik tangan Alya keluar dari kamar itu dan menuju ke kamar yang belum Alya periksa
__ADS_1
di sana tampak Wlidan sedang memeriksa keadaan seorang wanita paruh baya yang tergelai lemas di atas tempat tidur dengan wajah pucatnya
setelah selesai memeriksa, tampak Wildan mengeluarkan buku kecil dan pulpen, dia mencatat sesuatu di sana dan segera menyobek kertas itu dan diserahkan pada laki- laki yang seumuran dengan Wildan
dan ya dia pria itu, pria yang menarik tangan Alya adalah pria yang sama yang sudah berbaik hati memberi tumpangan saat mobil Wildan mogok itu dia Vino
"senang bertemu dokter kembali !" tampak Vino sedang mengulurkan tangannya pada Wildan sebelum menerima kertas dari Wildan
"sama- sama tuan Vino!" jawab Wildan
"ini resep obat untuk ibu anda, bisa segera di tebus di apotek, dan ibu anda sudah saya beri suntikan, yang akan sedikit meredakan rasa sakitnya, biarkan untuk sementara beliau istirahat!" Wildan pun menjelaskan dengan panjang lebar
"baik dokter, mari kita mengobrol sebentar di sana !" Vino menunjuk sebuah ruangan yang tampak seperti ruang keluarga
Wildan dan Alya pun mengikuti langkahnya dan mempersilahkan mereka duduk
"bi buatkan minuman untuk kami, dan ini berikan pada pak totok untuk di tebus di apotek!" Vino menyuruh asisten rumah tangganya dan menyerahkan lembaran yang di berikan oleh Wildan tadi
"baik tuan muda!" bibi itu segera berlalu dan tidak berapa lama minumanya pun datang tiga gelas besar orange jus
"nona Alya, saya tidak menyangka dokter akan mengajakmu juga, senang bisa bertemu kenbali dengan mu nona!" tatapan ketertarikan yang di berikan oleh Vino tampak jelas terbaca oleh Wildan
"senang juga bertemu dengan anda tuan Vino.!" senyum Alya mengembang di bibirnya menambah kecantikannya,
tapi cemburu tampak keluar dari raut muka Wildan, ia menautkan alisnya, dan menajamkan matanya sedikit memberi kode pada Alya untuk tidak mengeluarkan senyumnya
"berheti tersenyum padanya, kalau tidak ....!" batin Wildan tampak kesal, Wildan terus menatap Alya dengan tatapan yang berbeda
"dasar Wildan ini menyebalkan sekali!" ternyata Alya menyadari kode dari Wildan, hingga dia pun ikut menggerutu
*****
"maaf kami tidak bisa berlama- lama di sini, kami masih ada urusan, jadi kami permisi dulu!" tiba- tiba Wildan berpanitan
"ya sudah lain kali kita bisa berbincang bincang lagi, terimakasih atas waktunya dokter"
Wildan pun mengandeng tangan Alya keluar dari rumah Vino, jelas tampak Wildan tidak ingin melepaskan tangan Alya , mereka menuju mobil mereka di parkir
ternyata Vino masuh setia memperhatikan Alya dan Wildan hingga mobil mereka perlalu dan menghilang dari pandangannya
**banyak orang tak menyadari kapan cinta itu hadir, tapi ia dapat merasakan efek dari cinta itu
__ADS_1
jangan lupa kasih dukungan pada author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARNYA ya 🙏🙏🙏🙏🙏 dan lagi kasih vote juga**