
"kenapa dia tutup pintunya, katanya mau di bantu bersihin ruangan, dasar payah" gerutu Alya di luar kamar Wildan
"tapi lihat aja dalam hitungan ke 5" Alya pun mulai menghitung, berharap pria yang berada di dalam tidak membuka pintu sehingga tidak kenambah pekerjaannya
"satu...., dua....., tiga....., empat...., lima......!" tepat di hitungan ke lima tiba tiba dari dalam, pintu pun terbuka
" aaaa........ tolong!" tiba tiba Wildan keluar kamar lagi, ya dia berteriak minta tolong, entah apa yang dilihatnya di dalam hingha mengharuskannya keluar kamar
"ada apa?" Alya pun sok tegar, aslinya dia juga takut, karena kamar itu sudah lama tak di tinggali, sangat jarang ada tamu datang ke desa itu
" bisa masuk sebentar ke kamar aku? " tapi tampa menunggu jawaban Alya, segera ia tarik tangan Alya ke dalam, hingga membuat si pemilik tangan begitu terkejut
"kamu bisa usir itu.....???" Wildan menunjuk pada lantai di dekat pojok lemari
"itu apa?" Alya begitu bingung karena tak menemukan apapun di sana
"ada kecoak di situ.....!" Wildan paham dengan tatapan Alya, ia pun berdiri di belakang Alya sambil menunjuk di bawah kolong almari , ia bersembunyi di belakang punggung alya.
"hahaha ......!" tawa alya pun pecah, ia merasa lucu, bagaimana badan sebesar itu takut dengan kecoak, memalukan
"kenapa......?" tanya wildan heran, ia segera beralih dari punggung Alya
"masak badan gede, kalah sama kecoak!" Alya lagi-lagi tersenyum meremehkan
"lebih baik aku di suruh berantem sama preman dari pada nglawan kecoak, ini kamu pegang sapunya, cepetan kamu usir kecoak itu!" Wildan segera mengambil sapu yang tergantung di dinding dan menyerahkannya pada Alya
"harus aku?" Alya pun mengambil sapu itu dengan ragu
"iya....., siapa lagi......?, kan di sini cuma ada kita berdua!" Wildan menatap Alya dengan penuh kekesalan
"tapi aku.......!" Alya membalik badan ingin menolak permintaan Wildan
"kamu kenapa?" Wildan pun heran dengan sikap Alya yang tidak searogan beberapa waktu lalu
"aku juga takuuuut!" Alya mengucapkan dengan memasang wajah melasnya
membuat mereka saling berpandangan, dan memutuskan untuk sama sama naik ke atas tempat tidur,
lagi lagi pandangan mereka saling bertemudan kemudian mereka menertawakan kekonyolan masing masing
hahahaha..........
cletuk
tiba tiba sentilan ringan mendarat di kening alya
"auh....sakit tau !" Alya segera mengelus keningnya yang sedikit nyeri karena ulah Wildan
"dasar cewek bodoh....., gitu sok berani!"
Wildan memiringkan senyumnya dengan nada mengejek
"apa kamu bilang....?" Alya tak terima dikatakan bodoh oleh Wildan membuatnya mendengus kesal
"kenapa aku bisa suka....!" Wildan berucap pelan sambil memandangi wajah Alya yang terlihat imut saat sedang cemberut, tapi sayang ucapannya menggantung
"suka....? suka apa?" Alya segera memptong ucapan Wildan
"e...e..., suka jaailin kamu!" Wildan menjadi salah tingkah , ia menjawab sekenanya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"tapi kenapa gugup?" Alya memiringkan wajahnya, mengamati Wajah Wildan
"sia....pa yang gugup!?" Wildan pun segera mengalihkan pandangannya, dan menatap ke sembarang arah supaya Alya tidak menyadarinya
"tapi lucu ya kalau kayak gitu, mukamu kayak kepiting rebus!" Ara berucap sambil turun dari atas tempat tidur
__ADS_1
"ah masak sih....????!" Wildan pun tampak salah tingkah, ia mengikuti langkah Alya
"kamu kenapa?" Alya heran karena Wildan terus mengikutinya
"kenapa? nggk kenapa kenapa tuh!aku cuma mau bantu kamu bersihin kamar aku aja"
Akhirnya mereka pun membersihkan kamar itu bersama-sama, membuat kecanggungan diantara mereka sedikit menghilang
"selesai ....... " Alya pun meregangkan badannya yang terasa sedikit kaku
"makasih ya ......" ucap Wildan
"hemmmmm ...." Alya enggan menanggapi ucapan Windan
"yaudah cantik sana keluar, aku mau mandi dulu....!" Wildan segera mendorong tubuh Alya agar keluar dari kamarnya
"ok..., ok ....!" Alya keluar dengan sedikit kesal
"nggak tau terimakasih banget dia ......, pengen nampol nih tangan ...." Alya mengusap tangannya yang terkepal, dan meniupinya bersiap untuk meninju
"apa .....?" tiba tiba kepala Wildan nongol dari balik pintu membuat Alya begitu terkejut
"tidak apa apa ...." Alya pun berlalu meninggalkan kamar Wildan,
tapi saat Wildan kembali masuk ke dalam kamarnya, Alya kembali mengendap endap ke mendekati pintu kamar itu, pintu di buka kembali
"awas kecoak lo.....!" suara itu mengagetkan wildan yang sedang termenung memikirkan Alya,
setelah puas mengerjai Wildan, Alya pun berlalu sambil tertawa puas
"inilah Alya yang buat aku rela hingga kini mencarimu" gumam Wildan
"ternyata pencarianku tidak sia sia, aku cinta kamu gadis cerewet......" Wildan tersenyum sendiri menatapi kepergian Alya
-----------------------------------------------
cahaya senja mulai menghiasi langit jingga, Wildan yang merasakan badannya sudah sangat lengket pun segera mandi, kamar mandi yang tak seluas kamar mandinya di kota
20 menit kemudian ia sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya menampakkan otot otot tubuhnya yang ingin saling menonjolkann diri
ia membuka kopernya, mencari cari baju yang pas untuk bersantai, ia tak membawa terlalu banyak baju karena tak ada rencana untuk tinggal terlalu lama,
ia mengenakan kaos ketat warna abu abu yang menunjukkan perut berototnya dan celana hitam santai
kemudian ia raih lagi hpnya dan mengetik beberapa pesan
"ma aku nggk pulang, aku nginep untuk beberapa hari"
sudah terlihat tanda centang dua yang berarti pesan sudah terkirim, ya Wildan mengirimkan pesan pada mamanya
setelah berhasil mengirim pesan, ia pun merebahkan badannya yang terasa begitu lelah ke atas tempat tidur, tempat tidur dengan seprei polos warna biru langit, begitu menyejukkan
"baru sebentar aja wajahnya sudah membayang di pelupuk mata"
"gadis yang manis , menggemaskan
aku rindu gadisku......." Wildan tetus membauangkan wajah Alya yang begitu ia rindukan
tapi kemudian keningnya sedikit berkerut saat menyadari sesuati
"tapi kenapa dia tidak mengenaliku ya, apa dia benar benar lupa padaku ya?" senyumnya seketika menghilang, ia seperti sedang menguraikan sebuah teka teki
kemudian otaknya kembali berputar ke beberapa waktu lalu, sesaat dia sampai di tempat itu, ia teringat pada perkataan pak Danu,
flasback on
__ADS_1
"pak Danu ...." Wildan begitu ragu untuk mengatakannya
"ya ..., nak Wildan, apa ada sesuatu yang mengganjal hingga membawa nak Wildan datang ke mari?"
"sebenarnya ada alasan terbesar saya datang kemari pak Danu"
"apa itu?" pak Danu tampak begitu penasaran
"sayaencintai putri anda pak , Saya mencintai Alya"
ucapan Wildan berhasil membuat pak Danu begitu terkejut
"bagaimana bisa?"
"saya anak laki laki yang telah menyelamatkan Alya 10 tahun lalu dari penculik, saya berharap pak Danu dapat merestui niat saya untuk menikahi Alya"
"tapi Alya masih begitu kecil, usianya masih 18 tahun"
"saya akan menunggu pak hingga dia siap, tapi ijinkan saya membawanya ke jakarta, saya akan membiayai kuliahnya"
"maaf nak, saya tidak bisa memutuskan sendiri, biar Alya sendiri yang memutuskan, saya tidak mau memaksanya, jika nak Wildan sungguh sungguh dengan niat nak Wildan, maka luluhkan hatinya, baru saya akan memberi restu pada nak Wildan"
"terimakasih pak atas kesempatannya"
flaskback of
"Bagaimana aku bisa membuat Alya ikut pulang denganku tanpa paksaan ...., sedang sikapnya sekarang seperti itu padaku, dia benar benar tak mengingat siapa aku"
"sekarang kepalaku tambah pusing..., gak mungkin kan aku di sini lama? bisa bisa mama kebakaran jenggot" batin Wildan
lamunan Wildan melayang kemana mana, tiba tiba ketukan pintu terdengar
tok tok tok
"halo , pak dokter waktunya makan malam tiba!" suara Alya dari luar terdengar begitu nyaring
"akhirnya dia nongol lagi, pucuk di cinta ulang pun tiba" gumam Wildan, ia pun segera bangun dari tidurnya dan berjalan menuju pintu,
"iya sayang.....!" ia membuka pintu tanpa sadar dengan ucapannya
"ups.....!" segera Wildan menutup mulutnya
"kamu bilang apa?" Alya mengerutkan keningnya saat mendengar samar samar ucapan Wildan
"apa aku nggak bilang apa apa, kamu salah denger kali!" Wildan mencoba mencari alasan
"masak sih perasaan aku denger dia ngomong sayang" batin Alya
cletuk.....
dan lagi, sebuah sentilan berhasil mendarat di kening Alya,
"hei jangan bengong, ntar kesambet!" Wildan tersenyum menggoda
"dasar menyebalkan ....!" Alya pun sambil cemberut berlalu dari hadapan Wildan
**cinta...., ya cinta akan tau dimana ia akan berjalan, karena cinta tak pernah salah
by: triadefi**
jangan lupa kasih dukungan pada author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARNYA ya 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1