
jingga sudah mengiasi langit senja sore ini, semilir angin segera memberi kabar ke peraduan bahwa dingin pun akan menyusup
Sore itu saat Pak Danu berencana hendak pergi menghadiri rapat rutinan di desa,
"bapak ke balai desa dulu ya ...." pamit pak Danu pada Alya dan Rani
"bapak bagaimana kalau aku ikut denganmu, aku pengen jalan jalan , boleh ya ...." Alya mengusulkan diri untuk ikut,
"baiklah ...., kamu nggak pa pa kan kalau aku tinggak sendiri?" tanya pak Danu pada Rani
"nggak pa pa pak, kan ada pak dokter ....." ya karena ia fikir Wildan tidak mungkin kemana mana di sore ini,
akhirnya mereka berdua pun berlalu mengendarai motor kebanggaan keluarganya
****
Wildan yang melihat kepergian Alya dan pak Danu, segera menghampiri Rani yang srdang duduk santai di teras sambil membaca majalah
"hai ...rani!" Wildan mrnyapa Rani dengan ramah,
dan di ikuti senyum mengembang dari wajah rani, ya sangat cantik, lebih cantik malah dari Alya tapi mau di kata apa bila hati sudah memilih mata mau berkata apa
"boleh aku duduk?"dengan senyum menawannya, menggoda siapa saja yang melihatnya
"iya silahkan pak dokter!" Rani pun segera menggeser duduknya memberi tempat pada Wildan
"panggil namaku saja, supaya tidak canggung, sepertinya usia kita juga tidak beda jauh kan!"
"baiklah .....wildan!"
__ADS_1
"nah begitu kan kita jadi tampak seumuran!"
"bukankah kita memang seumuran!" rani pun sambil tertawa...,
ya memang benar mereka berdua memang seumuran usia mereka dua puluh lima tahun, mrmang terpaut jauh dengan usia Alya yang masih delapan belas tahun
mereka bercanda dengan sangat asyik nya, mereka terlihat lebih cepat akrab, ya memang Rani orangnya mudah sekali akrab dengan orang lain, berbeda dengan Rani, Alya lebih menutup diri, walaupun selalu di tutupi dengan keceriaannya
tiba tiba suara serius keluar dari mulut Wildan
"Ran...., boleh aku bertanya sedikit tentang Alya?"
" maksudnya?" seketika itu raut muka Rani menampakkan kecemasan,
tapi ia maklum, dia juga sudah tau maksud kedatangannya ke sini memang hanya untuk alya,
kemudian senyum yang sedikit terpaksa dia pasang, mau tak mau dia harus menepiskan ketertarikannya pada Wildan
"tolong ceritakan sedikit tentang Alya dan preman preman itu!"
"akuu harus mulai dari mana ya....?" Rani tampak bingung harus mulai dari mana
"dari kalian menemukannya saja!"
"hah.... dari mana kau tau itu.....????".Wajah Rani tampak sangat terkejut,
bagaimana orang asing du depan nya ini mengetahui asal ususl Alya, tapi kemudian dia menatap wajah Wildan dengan seksana,
dan ya keterkejutannya berlanjut
__ADS_1
"kau....... , apakah aku tidak salah .....!" Rani benar benar terkejut
"ya......, kamu tidak salah , aku anak itu yang keluar dari hutan bersama Alya......"
" sebelum aku memperkenalkan diri keluargaku datang dan membawaku pergi, tanpa sempat aku berpamitan pada Alya!"
sekarang Rani tahu , ia tahu maksud Wildan apa? dan untuk apa? sekarang wajah Rani tampak murung dengan matanya yang masih menerawang jauh, mengingat ingat masak kecil mereka saat menemukan Alya
"dan bodohnya aku lupa daerah ini, baru kali ini aku menemukannya, setelah pencarianku bertahun tahun!"
"trus, mana mungkin hanya demi Alya kau sampai di sini?" Rani pun bertanya dengan penuh keheranan
"ya awalnya aku juga berfikir seperti itu, tapi setelah kejadian itu, wajah alya tidak pernah luput dari ingatanku, sekarang kau sedah percaya padaku...?" tampak Wildan sedang meyakinkan Rani untuk bercerita
setelah mengeluarkan nafas dalamnya, yang sepertinya telah ia tahan selama mendengarkan cerita Wildan
"baiklah aku percaya!" dengan menata posisinya ia mulai bercerita
"awalnya tidak sekacau itu, Alya memilih tinggal di rumah kami, karena ia lupa dengan daerah asalnya, dan perasaan tertekan membuat kami tidak lagi menanyakan asal usulnya, yang lambat laut dia mulai ceria kembali, tapi beberapa tahun terakhir, bayangan hitam itu muncul lagi, tepatnya saat ia menginjak kelas satu SMA, tiba tiba orang orang misterius itu menghadang Alya dan hendak menculiknya kembali, dan itu berulang hingga beberapa kali, tampaknya memang ada yang sedang mengincarnya, sejak saat itu Alya tidak pernah berani keluar rumah sendiri, dia jadi sedikit tertutup, temannya mulai jauh darinya!"
tampak Wildan sedang mengepalkan tangan dengan wajah memerah seperti hendak menelan siapapun yang berani mengganggunya
**tapi mau di kata apa bila hati sudah memilih , mata mau berkata apa
by: triadefi**
__ADS_1
jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan like dan komentarnya ya 🙏🙏🙏🙏