Promise Of Love

Promise Of Love
62. hari ke 3(menjelang pertunangan)


__ADS_3

Hari ini hari ke tiga Alya datang ke rumah tuan Sanjaya, urusan dekorasi luar ruangan sudah rapi,


walau pun kemarin sempat ada insident tapi dia tidak peduli ini sudah resiko pekerjaannya, persiapannya sudah mencapai delapan puluh persen


Kali ini kelihatannya wildan lebih protektif dengan Alya, yang biasanya dia Wildan Cuma mengantar Alya sampai di depan sekarang Wildan malah ikut masuk dan melihat pekerjaan Alya


Woe Alya jangan GR mungkin saja Wildan ngelakuin ini Cuma pengen deket sama calon tunangannya


Begitulah kira- kira batin Alya


Setelah tiba dirumah tuan Sanjaya, Alya dan Wildan masuk bersamaan, di sana sudah ada keluarga tuan Sanjaya, pastinya kalian tau apa yang terjadi jika Vina melihat Wildan


“kak Wildan ....!” begitulah sambutan Vina tanpa mempedulikan Alya di samping Wildan, Vina segera memeluk dan menarik tangan Wildan kegirangan


Memang tidak bisa biasa saja batin Wildan sebal


“mari sarapan bersama ....!” Vina menuntun Wildan ke meja makan di ikuti Alya,


dia menarikkan kursi untuk Wildan , dia duduk di sebelah Wildan duduk, sedangkan Alya masih berdiri mematung, dia bingung harus duduk di mana


Tak apa apa kali ya kalau aku duduk di kursi dekat tuan Sanjaya, kan masih ada kursi kosong


Tapi belum sampai dia menarik kursinya, tiba- tiba ....


“siapa suruh kamu duduk di situ, sana kalau mau sarapan, di belakang sama bik jum!” suara nyonya Helsa mengagetkannnya


“mama ini apa- apaan sih, papa yang nyuruh Alya duduk di sini ..., ayo nak duduklah ....!”


Tuan Sanjaya pun ikut andil bicara, kini nyonya Helsa hanya bisa diam, tuan sanjaya menarikkan kursi untuk Alya


Kini Alya tak segan lagi untuk duduk, dia sekarang duduk di sebelah Tuan Sanjaya duduk, mereka menikmati makannya dengan sedikit berbincang ringan


Setelah selesai sarapan Tuan Sanjaya langsung berangkat ke kantor, sedang Vina masih saja menempel pada Wildan,


sedangkan nyonya Helsa ada keperluan jadi ikut bersama Tuan Sanjaya dan Alya harus merana melihat Vina yang tak mau lepas dari Wildan


Haruskah aku melihat pemandangan ini setiap hari, sungguh menyebalkan, kenapa tangannya itui tak bisa di atur, memang tidak bisa sedikit menjauhkan tangannya itu, memang mereka anggap apa aku ini, tembok, nggak bisa lihat


Alya terus saja menggerutu di sepanjang pekerjaannya,


dia kini menata bagian dalam ruangan, dengan memberi sedikit hiasan di sana- sini


***


Hari sudah mulai siang, Alya menunggu barang yang belum juga datang, berupa gaun dan beberapa aksesorisnya


Alya mengambil ponselnya dan mencari salah sati nomor di ponselnya, seytelah ketemu, dia pun segera menghubunginya


Tut tut tut ....

__ADS_1


“hallo tante ...!”


“iya hallo Alya, bagaimana persiapannya, ?’’


“sudah sembilan puluh lima persen tante, oh iya bisakan tante menyuruh orang untuk membawakan gaun nya supaya bisa di coba dulu, kalau kurang pas nanti bisa langsung di perbaiki!”


“baiklah kamu tunggu, biar aku mengirim orang untuk membawakan gaunnya ...!”


“terima kasih tante ...!”


“iya sama- sama ...!”


Kini Alya segera menutup ponselnya,


dia benar- benar tak menyangka seharian ini harus melihat mereka yang terus menempel,


walaupun Wildan sering sekali tampak menghidar, tapi percuma, bisa lepas sebentar sudah di gandeng lagi


Tak jarang Wildan juga curi- curi kesempatan untuk mendekati Alya, tapi belum puas berbicara dengan Alya , Vina sudah menghampiri mereka,


Mengapa siang ini gerah sekali ya, aku ngadem dulu saja, mendingan aku ke kamar itu saja


Tak perlu waktu lama Alya pun meminta kunci kamar itu, ya kamar yang di tunjukkan tuan Sanjaya tak ada yang di beri akses untuk masuk termasuk Vina dan nyonya Helsa selain bik jum yang setiap hari membersihkannya, kemudian bik jum akan segera menguncinya kembali


“bik jum ...!”


“iya non ada apa?”


“kamar yang mana non?” bik jum terlihat bingung


“kamar yang kemarin di tunjukkan sama tuan Sanjaya, kamar yang di pojok itu!” sambil menunjuk le pojok atas ruangan


Oh ternyata tuan sudah menunjukkan kamar itu pada nona Alea, mungkin tidak papa jika aku bukakan untuk non Alea, pasti tuan mengijinkan batin bik jum


“baiklah non, mari ikut saya!” akhirnya Alya mengikuti di belakang bik jum


Bik jum pun membukakan pintu , dan membiarkan Alya masuk


“saya permisi dulu ya non, sebaiknya saya tutup saja ya non pintunya!”


“baik bik , terima kasih ya!”


Bik jum pun keluar dari kamar dan kembali menutup pintu , Alya di dalam kamar seorang diri, dia merasa sangat nyaman berada di kamar itu


Aku penasaran sekali dengan kamar ini, apa sih sebenarnya yang ada dalam kamar ini, sepertinya ada magnet yang terus menarik ku untuk ke kamar ini gumam Alya


Kini Alya merebahkan tubuhnya, tanpa perlu waktu lama Alya pun tertidur, karena saking lelahnya


sedeang di tempat lain Wildan sangat kebingunggan, mencari cari Alya, tapi tak menemukannya di mana pun, dia menanyai semua orang yang sedang bekerja, tapi tak satupun ada yang tau

__ADS_1


Mungkin bik jum tau, lebih baik aku tanya bik jum saja


Tak menunggu waktu lama, Wildan pun segera menemui bik jum yang sedang sibuk di dapur, dia tampak memberi arahan pada koki- koki yang sedang memasak, memang tugas bi jum di rumah ini hanya sebagai pengawas pekerjaan para pembantu di rumah besar ini, lebih tepatnya dia di sebut sebagai kepala pelayan


“bik jum, bisa mengganggu sebentar?”


“baik tuan ...!” bik jum pun berjalam mengikuti Wildan menjauh dari para pelayan, setelah yakin tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka, Wildan pun berhenti


“ada apa tuan?’’


“apa bik jum tau di mana Alya?’’


“non Alea di kamarnya tuan ...!”


“biak bik, aku akan menyusulnya!” tapi sebelum Wildan sempat melangkah


“maaf tuan muda, apa bisa saya bertanya?”


Wildan pun kembali menghadap bik jum


“ada apa bik?”


“apa tuan mencintai nona Alea?”


Wildan terdiam lama, karena dia bingung harus jujur atau tidak dengan bik jum


“maaf tuan, saya telah lancang!” bik jum terlihat gugup


“aku mencintanya bik ...!” Akhirnya Wildan pun bicara


“trus kenapa tuan malah bertunangan dengan non Vina, kasihan non Alea tuan dia terlihat sangat terpukul!” mendengar penjelasan bik jum panjang lebar membuat Wildan kembali terdiam


Mungkin diam ku tidak akan menyelesaikan masalah, aku juga harus memikirkan perasaan Alya batin Wildan


“nanti bik jum juga akan tau sendiri jawabannya, tapi aku lakikan ini demi kebaikan Alya!” Wildan pun langsung berlalu meninggalkan bik jum, yang masih berkutat dengan segudang pertanyaan yang belum terjawab


-


-


-


-


-


-


terimakasih ya atas dukungannya

__ADS_1


jangan lupa like n vote ya


__ADS_2