Promise Of Love

Promise Of Love
25. Kerja


__ADS_3

hari ini seperti biasa , Wildan mengantar Alya ke kampus dan lanjut ke rumah sakit,


"Aku berangkat dulu ya, nanti aku jemput ya" ucap Wildan sebelum Alya keluar dari dalam mobil.


"maaf Wildan ....., aku hari ini mulai bekerja, jadi kamu nggak usah jemput ya" jawab Alya merasa tidak enak. dan seperti yang ia duga, wajah Wildan berubah, senyumnya menyusut menjadi rasa kecewa.


"ya udah , baiklah, jaga dirimu ..." ucap Wildan dingin, ia begitu terlihat kecewa. sungguh pria itu tak pandai menyimpan rasa.


Alya pun segera turun, tapi tak seperti biasanya, Wildan akan menunggu sampai Alya masuk ke dalam kampus, tapi kali ini Wildan lebih dulu meninggalkan Alya. Ada rasa kecewa di hati Alya. Apa ada yang salah dengan ucapannya? hatinya bertanya-tanya.


"kenapa dia? memang aku salah apa? dasar ...., laki-laki susah di mengerti ...." gumam Alya sambil melangkah masuk ke dalam kampus. Pikirannya kini tak lagi fokus dengan mata kuliah hari ini.


sepulang kuliah Alya , seperti yang sudah Alya katakan kalau Wildan tidak perlu menjemputnya, karena hari ini hari pertama dia bekerja. Sebenarnya ingin melihat pria itu, tapi nihil. Kenapa yang di ucapkan dengan yang di rasakan tidak sama? Ini sungguh perasaan yang merepotkan.


kali ini Alya lebih memilih naik bus karena tidak bersama Jesi, jadi tidak masalah untuknya naik bus, bus selalu lewat di depan kampus mereka.


"kamu beneran mau naik bus?" tanya Jesi yang ikut mengantar Alya keluar dari kampus.


"beneran ....!" jawab Alya meyakinkan.


"lebih baik aku antar aja deh ....." Jesi begitu terlihat khawatir.


"nggak usah Jes...., kamu kan juga buru-buru mau jemput mama kamu di salon ...."


"ya udah hati-hati ...., tuh busnya dah datang" Jesi menunjuk pada bus yang hampir melintas di depan mereka, Alya pun tersenyum dan memberikan cipika cipiki pada Jesi.


"aku duluan ya ...." Alya segera naik saat bus sudah berhenti di depan mereka


daaaaaa ......


butuh waktu 15 menit untuk sampai di kafe, setelah turun dari bus, Alya harus berjalan 15 meter untuk sampai di depan kafe, Ia harus berjalan.


"kamu sudah datang? kamu naik apa?" tanya Vino yang kebetulan juga baru turun dari mobilnya hendak masuk ke dalam kafe.


"siang pak Vino, saya naik bus ..." jawab Alya sambil memberi hormat dengan bosnya.


"naik bus ...?" tanya Vino menyelidik


dan Alya hanya mengangguk.


"benarkah ....?" tanyanya lagi tak percaya.


"memang saya ada tampang pembohong nya apa?" batin Alya kesal, ia pun hanya bisa tersenyum.


"ya sudah masuklah ....." Vino pun menyerah.


"ahhhhh ....., akhirnya ...." batin Alya merasa lega.


"cewek yang unik ...." gumam Vino sambil ikut masuk ke dalam kafe.


sesampai di dalam kafe Alya langsung mengganti pakaiannya dengan seragam kafe


kaos warna ungu berkerah dan terserah, karena Alya masih setia dengan rok pendek selutut nya dan flet shoesnya tampak pas di kenakan Alya dengan rambut digerai sepunggung.


pelayan kafe senior segera menunjukkan pekerjaan apa saja yang bisa di lakukan oleh Alya.


"jadi pekerjaan kamu nantinya , kamu cukup menghampiri meja pengunjung menanyakan pesanan, mencatatnya dan tinggal kamu laporkan ke meja kasir, setelah itu tunggu sampai pesanan siap lalu antar lagi ke meja pelanggan, ngerti kan?" wanita dengan tag Anita itu menjelaskan panjang lebar pada Alya, Alya hanya mengangguk mengerti dan sesekali mengajukan pertanyaan jika ada yang kurang paham.


kemudian dia menunjuk ke salah satu meja dan menyuruh Alya untuk menawarinya menu, Alya pun segera menuju ke meja dengan dua orang pria dan wanita yang sepertinya sedang menghabiskan waktu makan siang bersama.


"siang mbak ...., mas ...." sapa Alya ramah.


"siang ....." jawab pelanggan itu.


"mau pesan apa mbak, mas?"


setelah mendapat pertanyaan dari Alya, pelanggan itu langsung menyebutkan pesanannya dan Alya segera mencatatnya persis seperti apa yang di katakan oleh pelayan senior itu.


setelah itu baru Alya akan melaporkan pada yang bertanggung jawab membuat makanan dan minuman.


hal itu menjadi rutinitas Alya mulai hari ini, hubungannya dengan Vino jiga semakin dekat, karena Vino begitu perhatian dengan Alya.


Vino memperlakukan Alya begitu istimewa, ia sering menawari Alya tumpangan, bahkan sengaja melintas kan mobilnya di depan kampus Alya saat Alya hendak menunggu bus untuk memberi Alya tumpangan.


"hai Alya ...." sapa Vino saat sudah berada di hadapan Alya yang sedang menunggu di halte kampus.


"pak Vino ...." Alya begitu terkejut melihat Vino keluar dari dalam mobilnya.


"pak Vino ngapain ke sini?" tanya Alya.


"tadi ada urusan di deket sini, dan liat kamu di sini, jadi aku berhenti deh ...."


"ohhhhh ...., kirain ...."

__ADS_1


"kirain apa?" tanya Vino sambil tersenyum dan membuka kaca mata hitamnya


"bukan apa-apa ...." jawab Alya


"kirain jemput aku, kepedean banget sih aku ini, inget ada Wildan ...., walau bagaimana pun Vino lebih ramah sama aku, tapi tetap saja Wildan , aku nggak boleh mengabaikannya" batin Alya begitu bingung.


"hay ...., kenapa bengong?" Vino sudah mengibaskan tangannya di depan wajah Alya, membuat Alya tersadar.


"nggak kok, aku nggak bengong" Alya beralasan.


"nggak bengong, tapi aku tanya nggak jawab?"


"tanya apa?"


"mau bareng sama aku nggak?"


"nggak usah lak pak Vino, aku naik bus saja" Alya menolak


"tuh pak busnya dah datang, aku duluan ya pak"


Alya pun naik bus meninggalkan Vino, tapi ....., sepertinya salah, Alya hanya meninggalkan mobil Vino, karena Vino ikut naik ke dalam bus


"pak Vino ...., ngapain?"


"naik bus ...." jawab Vino santai


"ngapain naik bus ....?"


"ikut kamu naik bus" lagi-lagi Vino menjawab santai


"trus ngapain naik bus? kan pak Vino bawa mobil, trus mobilnya gimana?"


"kalau kamu nggak mau naik mobil sama aku, aku kan bisa naik bus sama kamu, yang penting kita sama-sama, ya kan?"


"nggak gitu juga pak ..." Alya benar-benar merasa tidak enak, Vino terlihat tidak begitu nyaman dengan naik bus


"trus aku harus bagaimana dong ....."


"terserah bapak deh .... " Akhirnya Alya menyerah


merekapun hanya diam sampai mereka sampai di dalam kafe, karena Alya merasa kesal dengan kelakuan Vino yang kekanak-kanakan


Dan hampir setiap hari hal itu terjadi, Vino suka sekali menjahili Alya, karena setiap hari Alya datang ke kafe, di kafe hanya memberi cuti satu kali dalam satu minggu


"kamu menungguku?" tanya Alya yang sebenarnya sudah tahu jawaban apa yang selalu Wildan katakan saat Alya sampai di rumah


"aku akan selalu menunggumu ..." ucap Wildan santai


"seharusnya kamu tidak perlu menungguku, istirahatlah ..."


"aku tidak akan pernah menyerah untuk menunggumu, sampai kamu benar-benar menjadi milikku"


Alya tak mau panjang lebar berdebat dengan Wildan, ia memilih berlalu meninggalkan Wildan


"Alya ....." tapi panggilan Wildan berhasil menghentikan langkah Alya yang sudah sampai di ambang pintu


"biarkan aku memiliki hatimu ....."


setelah mendengar ucapan Wildan, Alya tak punya jawaban atas ucapan Wildan, ia memilih meninggalkan Wildan


sesampai di dalam rumah, ia segera di sambut oleh mamanya Wildan, tampak sekali jika mamanya begitu tidak menyukai Alya


"malam tante ...." sapa Alya


mama Wildan sedang duduk di sofa ruang keluarga


"enak sekali ya kamu..., jam segini baru pulang, kemana saja? nggak punya aturan" ucap mama Wildan sinis


"maaf tante, saya kerja ...."


"rumah ini punya aturan, dan semua yang tunggal di rumah ini seharusnya mengikuti aturan rumah ini, bukan seenaknya saja"


"iya tante ...., maaf ..."


Alya tak mau lagi menanggapi ucapan mamanya Wildan, ia lebih memilih untuk meningalkan mama Wildan


"emang kayak gitu tuh kalau anak kampung, nggak punya sopan santun, orang tua sedang bicara di tinggal begitu saja, syukur-syukur kami mau nampung" gerutu mama Wildan


"mama ... , cukup ...." bentak Wildan yang baru saja memasuki rumah


"memang benar kan yang mama katakan?"


"aku nggak suka mama memperlakukan Alya seperti itu, jika Alya pergi, maka Wildan juga akan pergi"

__ADS_1


"jadi kamu lebih milih gadis kampung itu dari pada mama?"


"maaf ma ...."


Wildan pun sama, lebih memilih meninggalkan mamanya dari pada berdebat tak jelas dengan mamanya


Alya pun hanya bisa menangis di dalam kamar, ia benar-benar tersiksa, tapi ia juga harus memikirkan Wildan, ia tidak mungkin terus menjadi benalu di rumah ini


setiap kali hatinya merasa sakit, ia menjadi ingat pada kakak dan bapaknya, ingin sekali rasanya kembali pada mereka, tapi tidak mungkin


setiap hari ia harus menerima ucapan-ucapan pedah dari mama Wildan, walaupun yang lainnya begitu baik padanya tapi tak bisa menutupi jika mama Wildan begitu membencinya


Alya tetap berusaha tenang, ia menikmati hari-harinya seperti biasa, ia akan melakukan pekerjaan rumah sebelum berangkat kuliah, dan akan pulang setelah dari kafe


Alya sesekali di antar pulang oleh Vino, karena kedekatan mereka, hingga tanpa di sadari oleh Alya, Vino menaruh hati padanya


walaupun dia cuma bisa memendam perasaannya pada Alya, karena dia tau Alya sudah menjadi milik Wildan


bukan milik, tapi calon milik, ya masih calon, mungkin itu yang membuat Vino tidak enggan mendekati Alya


*****


beberapa bulan berlalu, hingga Alya pun memutus kan untuk mulai mencari cari kos- kosan dekat kampus, atau dekat kafe tempat dia bekerja


Ia tidak mungkin selamanya akan menumpang di rumah Wildan apalagi mama Wildan begitu membencinya


hingga akhirnya dia menemukan sebuah rumah kontrakan kecil tidak jauh dari tempatnya bekerja


tapi sepertinya Alya masih bingung bagaimana dia harus membicarakan hal itu pada Wildan


pasti Wildan tidak akan semudah itu setuju dengan idenya


****


Di sela-sela waktu kosongnya dalam bekerja dan kuliah Alya masih tetap menyempatkan diri menyalurkan hobynya, untuk membuat desain baju, Alya memang hoby menggambar dan menjahit, di sela istirahatnya dia selalu menorehkan pensilnya di buku gambar yang selalu dia bawa


tanpa di sadari Alya, ternyata Vino memperhatikan apa yang di lakukan Alya


saat Alya sibuk bekerja, Vino diam- diam mengambil buku gambar Alya


"ternyata gadis ini berbakat juga ya!" batin Vino sambil membuka- buka buku gambar Alya


Vino pun memutuskan untuk membawa buku Alya dan menyimpannya tanpa sepengetahuan Alya


*****


di sisi lain, saat akan pulang Alya kebingungan mencari- cari bukunya


"perasaan aku taruh di sini deh....., di mana ya?" sambil terus ngedumel Alya tampak mencari- cari


"mencari apa?" tiba- tiba Vino mendekati Alya


"apa kau lihat bukuku. , em... maksudku buku gambarku!"


"ti- tidak..., ya sudah besok pasti ketemu, ayo kita pulang saja sudah malam, biar aku antar!" tampak Vino menawarkan tumpangan


"baik lah......!" akhirnya Alya pun menyerah, dan menerima tawaran Vino


*****


akhirnya mereka pun menutup kafe, tapi saat berjalan menuju mobil Vino, tiba- tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka


dan yang turun dari mobil adalah Wildan


"Wildan!" Alya sedikit terkejut melihat Wildan di hadapannya begitu juga dengan Vino


"dokter Wildan!"


tapi ternyata Wildan tidak kalah terkejutnya


"Alya...., kenapa ada tuan Vino juga!"


"senang bertemu dengan anda dokter, oh iya, apa Alya belum cerita kalau saya adalah pemilik kafe ini?" tapi Alya masih terdiam seribu bahasa, di batinnya ada rasa takut, takut kalau Wildan salah faham


"o.... begitu, ya sudah, tapi sekarang sudah waktunya pulang kan, kalau gitu Alya aku bawa ya!" Wildan pun segera menarik tangan Alya masuk ke dalam mobil tanpa menunggu persetujuan Vino


Vino hanya bisa memandang dingin kepergian mereka


"haruskah aku merasa sedih ...." gumam Vino


BERSAMBUNG


jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya

__ADS_1


jangan lupa bayar aku dengan penuh tanda cinta kalian dengan memberikan VOTE ya


__ADS_2