Promise Of Love

Promise Of Love
50. kebodohan yang indah


__ADS_3

Kali ini Ardi tidak langsung pergi meninggalkan rumah Alya, karena di sana sudah ada kakaknya, jadi mau tak mau, dia mampir sebentar, dan menyapa kakaknya, dia berjalan dengan sangat tidak enak


“kak .....!” Ardi pun menyapa Wildan dan duduk di teras rumah Wildan yang memang bersebelahan dengan rumah Alya


“trimakasih ya ....!” tiba tiba Wildan mengucapkan terima kasih


“trimakasih untuk apa kak?” Ardi malah heran dengan ucapan terima kasih dari kakaknya, dia berpikir jika kakaknya akan marah, tapi tidak dia malah mengucapkan terimakasih


“untuk apa kak ....?”


“karena kamu sudah menjaga Alya untukku!”


“aku dengan senang hati kak ...!” Ardi sedikit mengelus dada lega dengan sikap kakaknya, dia takut jika sampai kakaknya tau kalau dia menaruh hati pada Alya


“ya sudah kak aku permisi pulang dulu!” akhirnya Ardi berpamitan


“ya jaga dirimu !’ sekarang Ardi memakai helmnya dan segera menyalakan mesin motornya dan berlalu dari rumah kakaknya, sedangkan Wildan masih bingung harus bagaimana bersikap dengan Alya


Wildan tampak mondar mandir di antara rumah Alya dan rumahnya, dia terluhat berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu rumah Alya, kemudian dia urungkan lagi,


‘ aku harus minta maaf, ini salah’ batinnya berperang ‘tapi bagaimana kalau dia marah’ kemudian dia mundur lagi ‘tidak aku harus bicara dengannya’ dia tampak berpikir lagi ‘tapi kalau dia tidak mau bicara padaku bagaimana?’ kemudian dia tampak diam sejenak ‘apa pun yang terjadi harus aku hadapi kan, aku tak mungkin menghindar darinya’ akhirnya terkumpul keberanian untuk mengetuk pintu Alya


Tapi sebelum sempat tangannya menyentuh pintu , tiba tiba pintu terbuka dan kepala Alya nongol dari balik pintu


“apa?’ tanya Alya ketus


“aku .... aku ....!” Wildan begitu gugup, karena itu pertama kalinya dia mencium seorang wanita


“aku apa ....?” masih dengan ketusnya

__ADS_1


“aku dan kamu ....., maksudku .....!” Wildan semakin gugup melihat ekspresi Alya


“ ya kamu dan aku ...., trus apa?” Alya semakin bingung


“aku .... kamu ...., maksudku ...., aku maaf!” akhirnya berhasil terucap juga kata- kata itu


“untuk apa? Maksudku untuk yang mana?” tapi kali ini Alya malah menjawab dengan sebuah pertanyaan yang membuat Wildan semakin bingung


“memangnya kesalahanku ada berapa?” sekarang Wildan mulai menebak nebak dengan pertanyaan Alya


“banyak ....!’ sekarang Alya kembali ketus


“contohnya?” Wildan benar- benar tak mampu menebaknya, atau mungkin tak mampu menghitungnya


“mau yang paling besar atau yang paling kecil?” tapi Alya tetap memberi teka- teki pada Wildan


“kalau aku memilih yang paling besar apa?” Wildan hanya bisa pasrah mendengarkan kesalahan terbesarnya dan ingin segera meminta maaf , dan berharap Alya bisa memaafkan kesalahannya


“maksud kamu ....?’ Wildan semakin tak mengerti


“mungkin saat ini kamu memang bukan milikku lagi , aku juga bukan milikmu lagi, tapi setidaknya kita sama- sama bebas dan punya kesempatan untuk kembali memperbaiki!” Alya berkata panjang lebar yang membuat Wildan semakin binggung


“aku benar benar tidak mengerti!”


“kenapa kamu jadi bodoh sih .....?” sekarang Alya kembali mengerucutkan bibirnya, dia benar- benar kesal melihat Wildan tak bisa memahami kata- katanya


“baik maafkan aku ...., aku tak bisa memahami perasaanmu, bagaimana caraku untuk memperbaiki semuanya, aku akan coba?”


“pahami dulu dirimu, baru kamu akan tau perasaanku!”

__ADS_1


“ya tuhan kenapa sih wanita di depanku ini suka berbelit- belit, berilah aku kesabaran!” sekarang wildan benar- benar menggerutu


“ baiklah terserah kamu, jika kamu sudah mengerti temui aku lagi aku mau istirahat!” Alya pun masuk rumah kembali dan menutup pintunya


Wildan masih dengan wajah binggungnya tetap berdiri di tepan pintu rumah Alya, kemudian dia duduk dan kembali berpikir


‘ya ampun kenapa aku bisa sebodoh ini sih jika sedang berada di hadapannya’ Wildan tampak berpikir keras ‘apakah artinya sekarang Alya sudah percaya padaku ya?’


“entahlah lebih baik aku temui dia besok pagi saja!” Wildan memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah


***


Di sisi lain Alya tampak kesal dengan ketidak pekaan Wildan,


“kenapa sih dia bodoh sekali, aku sudah sangat susah mengungkapkan itu tapi dia malah nggak tau, bodoh, bodoh , bodoh ....!” Alya memukul mukulkan tangannya di tempat tidurnya


“memangnya aku harus bilang apa? Apa aku harus bilang kalau dia cinta sama dia, itu kan tidak mungkin ...!” Alya masih bingun harus berbuat apa


Alya pun merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya, dia tak bisa melupakan kejadian di kafe tadi, dia berusa kembali mengingat ingat saat bibir lembut Wildan menempel di bibirnya, hingga matanya terpejam dengan sendirinya karena seharian ini dia benar benar sangat lelah


Ketika kamu telah menemukan cinta sejati, jangan pernah berniat untuk menemukan yang lain lagi. Peluk dan genggam dia selama kamu masih memilikinya


**************


terimakasih telah membaca novel pertamaku😘😘😘😘😘


dukungan, kritik dan saran sangat aku butuhkan untuk terus bisa menulis


jangan lupa like n vote ya

__ADS_1


aku sayang kalian


__ADS_2