
Kini libur semester telah berakhir, Alya harus mulai dengan aktifitasnya di kampus, dia tidak mau ketinggalan pelajarannya, walaupun sekarang jam kuliahnya tak sepadat semester kemarin tapi tugas kuliah tetap saja banyak, hingga dia mulai membeli note book untuk mengerjakan tugas- tugasny
Kini dia sedikit lega karena sudah menemukan keluarganya , dia npun sudah mulai memanfaatkan fasilitas yang dia dapat dari ayahnya, karena tak bisa di pungkiri Alya memang berasal dari keluarga kaya, tapi dia tetap bijak menggunakannya, dia lebih suka memanfaatkan uangnya sendiri dari pada menggunakan uang ayahnya,
Untuk menghormati pemberian ayahnya sesekali dia gunakan uang di kartu atm pemberian ayahnya untuk di sumbangkan ke yayasan yang membutuhkan, tak jarang dia juga membangun beberapa infrastruktur di kampung asalnya tinggal, menjadi donatur utama untuk membangun kampungnya
Wildan makin sibuk dengan pekerjaannya, karena dia berencana untuk segera melamar Alya, maka dia ingin membereskan pekerjaannya sebelum acara pernikahannya di laksanakan, setelah menikah dia berencana untuk meluangkan waktu lebih untuk Alya
Vina masih tetap dengan pendapatnya, dia pantang menyerah untuk mengejar cinta Wildan, tak jarang Vina datang ke kantor tempat Wildan bekerja dan menggodanya, tapi tetap saja usahanya tak pernah membuahkan hasil
***
Setelah menyelesaikan tugasnya, Alya merasa sangat lapar, dia pun turun untuk mencari makanan, Alya sekarang tinggal di rumah besar Tuan Sanjaya, dia resmi menjadi putri Tuan Sanjaya dengan nama asli Aleana deswita sanjaya
Alya membuka lemari es besar, berharap menemukan beberapa makanan,
“kenapa isinya Cuma sayur dan buah ya ...., kok nggak ada cemilannya ya!”
Kemudian dia melihat lemari pemanas di sampingnya, saat membuka dia hanya melihat makanan berat, makanan yang mereka makan tadi waktu makan malam
“kenapa tidak ada mie instan ya..., padahal aku pengen sekali!”
“hemm, hemm...!”
Tiba- tiba deheman mengagetkannya dalam gelap, karena Alya sengaja tidak menyalakan lampu supaya tidak membangunkan yang lainnya, apa lagi para pelayan di rumah itu pasti akan bangun jika melihat nona mudanya sampai ke dapur malam- malam
Kemudian lampu dapur pun menyala
“sedang apa kau di sini?” ternyata nyonya Helsa dengan gelas di tangannya
“mama ...., aku lapar ma, jadi mau cari cemilan!”
“dasar ..., menjijikkan, memang tidak bisa ya kalau tidak mengendap- endap seperti maling, bikin malu saja!” dengan wajah tidak sukanya
Memang sejak awal kedatangan Alya di rumah itu nyonya Helsa dan Vina tidak menyukainya
“maaf!” Alya pun langsung berlalu meninggalkan nyonya Helsa
__ADS_1
“dasar anak kurang ajar, orang tua bicara main pergi saja, tidak sopan!” masih dengan gerutu kesalnya
Sesampai di kamar Alya langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk, sangat berbeda dengan tempat tidurnya yang lama di rumah kontrakan itu, dulu ketika bangun tidur punggungnya sering sakit, tapi sekarang setiap bangun tidur badannya terasa nyaman,
Alya lagi- lagi membanyangkan hidupnya di masa lalu, bahkan untuk bisa makan enak setiap hari pun dia harus ingat dengan pengeluaran bulanan, tapi di rumah besar ini semuanya sudah tersedia, dia bagai tuan putri di rumah ini tapi tetap saja tuan putri yang hidup dengan ibu tiri dan saudari tirinya yang jahat
Hidupnya kini bak di negri dongeng, walaupun berlimangan harta dan berbagai fasilitas tapi dia harus berusaha lepas dari bayang- bayang ibu tiri yang jahat dengan berbagai tipu muslihatnya
Tok tok tok
Ketukan pintu membuyarkan lamunannya, Alya segera bangun dari tidurnya
“masuklah, tidak di kunci!”
Ternya dari balik pintu ada Vina
“boleh aku masuk?”
“iya silahkan masuk kak!”
“ini aku bawakan camilan, tadi mama bilang kamu ke dapur sedang caricamilan, ini aku punya ambilah!” Vina menyodorkan satu bungkus makanan rungan yang sudah di buka
Tapi kecurigaan Alya mengalahkan rasa laparnya karena sampai larut malam harus bergadang menyelesaikan tugasnya yang lusa harus sudah di persentasi kan
“terimakasih ...!” Alya pun memberikan senyum termanisnya untuk meluluhkan hati kakak tirinya
“ya sudah aku keluar dulu ...!”
Vina pun keluar dari kamar Alya, Alya tak menyadari ada senyum licik di balik kebaikan Vina, tanpa pikir panjang Alya melahap camilan itu sambil memainkan hpnya
Camilan itu hingga habis dari bungkusnya, Alya merasakan perutnya yang mulai tidak nyaman, dan semakin lama perutnya semakin tidak nyaman, hingga Alya harus bolak balik ke kamar mandi hingga puluhan kali,
Dia bingung harus menghubungi siapa karena Ayahnya sedang berada di luar kota, tapi badannya semakin lemas karena dia kehabisan isi perutnya
Alya sampai harus merangkak untuk kembali ke tempat tidurnya, keringat dingin pun bercucuran di sekujur tubuhnya
Aku nggak boleh mati di sini ..., telpon..., ya telpon itu, pasti menghubungkan ke pelayan
__ADS_1
Alya pun berjalan sempoyongan menuju ke sudut tempat tidur dan meraih gagang telpon dia memencet angka satu, berharap angka itu akan menghubungkan ke seseorang
Ya benar saja, di sana ada yang menjawab
“ada apa non?”
“ini siapa to- long aku ....!” Alya dengan suaranya yang sudah sangat lemas,
Semua pelayan di rumah itu segera bangun dan menghampiri kamar Alya, di dalam kamar sudah terlihat Alya tergolek lemah di lantai
Bik jum segera menyuruh sopir untuk membawa Alya ke rumah sakit, tak tupa bik jum juga segera menghubungi Tuan Sanjaya , dia tahu tuan sanjaya mungkin akan sampai di rumah sakit masih besok sore karena tuannya baru berangkat tadi sore, bik jum pun berinisiatif menghubungi Wildan, karena dia tahu jika Wildan sangat menyukai Alya
Bik jum pun ikut mengantar ke rumah sakit
Ternyata rumah sakit yang di tuju bik jum adalah rumah sakit milik Wildan yang kebetulan Wildan memang masih lembur di rumah sakit
Sesampai di UGD, Wildan yang turun tangan sendiri untuk memeriksa Alya, dia benar- benar khawatir dengan keadaan Alya, dia menyuntikkan saluran infus di tangan kiri Alya
Dia tak membiarkan perawat menyentuh Alya, semua pemeriksaan di lakukan sendiri tanpa bantuan perawat
Selesai memeriksa Alya , Wildan pun keluar dari ruangan Alya dan menghampiri bik jum
“bagaimana dok keadaan nona Alea?”
“dia sudah lebih baik bik, tapi tadi Alya makan apa bik ?”
“non Alea makan seperti biasa dok,!”
Kemudian dia memikirkan kembali
“nanti biar saya cari tau dok di rumah!”
“ya sudah bi, bibik pulang dulu saja, biar Alya aku yang jaga di sini, nanti biar aku yang beri tahu om Sanjaya untuk tidak khawatir!”
Bik jum pun hanya bisa meng iyakan dan berpamitan pulang
jangan lupa like n vote ya
__ADS_1
terima kasih atas dukungannya ya