Promise Of Love

Promise Of Love
30. Kau Dokternya


__ADS_3

"Aku jemput Alya dulu ya!" Wildan pun berpamitan dengan Aris dan beranjak dari duduknya.


"Ok....., sampai jumpa di rumah, aku juga segera pulang, Mira sudah menelfon trus dari tadi!"


"ok, sampai jumpa!" Wildan Pun segera meninggalkan ruangan kakaknya dan menuju salon tempat Alya tadi di tinggal.


*****


Sesampai di salon, Wildan segera menghampiri Alya.


Betapa terkejut saat melihat wanita di depannya begitu cantik. Entah kenapa seakan-akan ia tidak mengenali gadis itu.


Dr. Wildan menatap Alya tanpa berkedip. Senyum tersungging di bibirnya. Eungguh indah ciptaan Tuhan.



"Apa kau mengenaliku?" tanya Alya yang sudah berdiri di hadapan dr. Wildan.


"Tentu....!" Jawab dr. Wildan mantap, kemudian dr. Wildan menangkup wajah Alya, "Siapa yang bisa melupakan hatinya sendiri!"


"Benarkah?" Alya tampak menggoda. Membuat dr. Wildan semakin gemas.


"Walau pun gimana pun penampilanmu, aku akan tetap mengenalimu!" ucap Wildan mendekati Alya dengan melingkarkan tangannya di pinggang ramping Alya.


"Benarkah?"


"Ya ...., jika tidak mengenalimu bagaimana aku bisa menemukanmu setelah sepuluh tahun ..., ada-ada aja ....!"


"Ya ...., ya percaya ...." ucap Alya.


"Ayo kita pulang! Rasanya aku tidak sabar memamerkan bidadari di samping aku ini!" ucap Dr. Wildan sambil menggandeng Alya keluar dari salon.


"Tapi .....?" tiba- tiba Alya melepaskan tangan Wildan dan menampilkan wajah tak senang, entah apa yang sedang di pikirkannya.


"Tapi apa.... ?" Wildan heran dengan ekspresi yang di keluarkan Alya.


"Masak mau ke pesta seperti itu sih tampilannya?" Sambil menunjuk ke arah pakaian yang di kenakan Wildan. Ya dr. Wildan saat ini masih mengenakan kaos santai. Ia melupakan penampilannya sendiri.


"Oooh iya, aku lupa. ...!" ucap Dr. Wildan sambil menepuk dahinya. "Tunggu sebentar ya....., lima belas menit saja!" ucap dr. Wildan sambil menunjukkan kelima jarinya, Alya pun hanya bisa mengangguk. Dr. Wildan pun langsung berlalu meninggalkan Alya sendiri di samping mobilnya.


Setelah dr. Wildan tak terlihat lagi, Alya baru sadar. Ia belum bertanya mau ke mana? Bagaimana bisa ia di tinggal sendiri di tempat itu. Alya meneriaki Dr. Wildan.


"Kemana .....?, Hai ..... mau kemana?" Alya berteriak tapi tidak menghentikan langkah Wildan. Suaranya sudah tidak dapat menjangkau pendengaran pria itu. Percuma ....


"Dasar aneh .....!" gerutu Alya, dia pun duduk kembali di sudut bangku di gedung, yang merupakan gedung pusat perbelanjaan. Tak jauh dari mobilnya yang terparkir.


****

__ADS_1


Setelah tidak terlalu lama menunggu akhirnya Wildan kembali dengan penampilan barunya


Dr. Wildan mengenakan kemeja putih dengan celana dan jasnya berwarna silver. Begitu pas di tubuhnya. Sangat cocok dengan baju yang di kenakan oleh Alya.


"Bagaimana sekarang, apakah sudah cocok?" Wildan pun bertanya pada Alya tentang penampilannya sambil menunjukkan jas yang ia kenakan.


"Top ....!" sambil mengacungkan kedua jempolnya kepada dr. Wildan.


"Ayo. ..tuan putri!" Wildan pun mempersilahkan Alya berjalan bak seorang pangeran kepada tuan putrinya.


"kok ganti sih .....!" tapi seperti biasa , Alya masih dengan protesnya.


"Apa lagi .....?" Wildan keheranan dengan protes Alya. Dr. Wildan benar-benar gemas dengan wanita di depannya itu.


"Sebenarnya aku tuan putri apa bidadari sih. . .? Kok nggak konsisten sih .....!" Alya sambil melipat tangannya di depan dadanya, sambil mengerucutkan bibirnya.


Wildan pun menepuk dahinya dengan keras tanda dia benar- benar gemas. Ingin rasanya mencubit pipinya yang cuby.


"Aku harus bagaimana?, Abis kau yang memborong semua!" ucap dr. Wildan sambil mengerlingkan matanya.


"Apanya . ..?"


"Hatiku ...., aku siap jadi apapun untuk mu, jadi malaikat, jadi pangeran, jadi pelayan, jadi sopir, asal itu untukmu ...., rasanya aku bukan apa-apa tanpa kamu!"


"Masak sih ....???"


"Masih nggak percaya ....????" Wildan bingung harus menjelaskan bagaimana lagi. Gadis di depannya benar-benar tidak peka.


"Kenapa tersenyum?" Rupanya Wildan menyadari senyum Alya.


"Soalnya kamu lucu ....!" ucap Alya yang semakin melebarkan senyumnya.


"Apanya yang lucu.... ???" tanya Dr. Wildan.


"Kamu kayak bukan dokter !"


"Memang bukan....!" jawab dr. Wildan mantap, "Tapi ....sekarang kamu yang jadi dokternya ....!"


"Maksudnya ....????"


"Karena kamu sudah nyembuhin hati aku yang luka dari penantian yang panjang, panjaaaaang sekali ....!"


"Lebay dech ......!!!!!"


"Terus kalau kita di sini trus, kapan kita pulangnya?, Pestanya udah di mulai lo!" ucap Dr. Wildan tak sabar dengan kecerewetan Alya.


"Kan kamu yang ngajak ngobrol terus!"

__ADS_1


"Iya dech. .. maaf!" kali ini dr. Wildan harus mengalah "Ya udah.... ayo masuk mobil tuan putri ....!"


"ok!"


Dr. Wildan membukakan pintu mobil, Alya benar- benar di perlakukan seperti seorang putri, dia memastikan kalau Alya sudah benar- benar masuk baru Wildan kembali masuk ke mobil dari pintu yang berbeda.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang


"Nanti di pesta jangan jauh-jauh dariku ya!" ucap dr. Wildan sambil konsentrasi mengemudi.


"Kenapa memangnya?"


"Karena aku nggak mau ada cowok lain yang melirik kamu !"


"Nggak janji tapi .....!"


"Jangan harap kamu bisa dekat-dekat dengan pria lain, aku tidak akan membiarkan itu terjadi."


"Dasar posesif ...! Emangnya siapa yang mau dekat dengaku ..., paling cuma mang Karman, tukang kebon kamu itu ...."


"Ya siapa tahu ..., atau bos kamu itu ..."


"Siapa?" Alya tampak berfikir. "Oh ...., maksudnya pak Vino ....? Mana mungkin dia mau dekat sama aku."


"Siapa bilang nggak mungkin, aku melihat ada tatapan berbeda ya dari dia, pokoknya kamu nggak boleh dekat-dekat sama dia, titik ..., nggak boleh di bantah ...!"


Selama dalam perjalanan mereka tak hentinya mengobrol, serasa malam ini memang malam mereka berdua.


Kira-kira dua puluh menit kemudian mobil dr. Wildan sampai di depan gerbang rumahnya yang saat itu memang tidak tertutup seperti biasanya, mungkin karena hari ini ada pesta di rumah itu, di sana lampu lampu hias pun juga tertata indah di sepanjang jalan masuk.


Mobil pun pangsung masuk ke dalam halaman yang begitu luas itu. Dr. Wildan segera menghentikan mobilnya.


"Kita harus segera turun tuan putri ..." ucap dr. Wildan sambil melepaskan seathbelt nya. "Tunggu, biar aku bukakan pintunya."


Dr. Wildan pun turun dari mobilnya. Ia mengitari mobil untuk mencapai pintu satunya. Setelah mencapai pintu, ia pun membukannya perlahan.


"Mari tuan putri ...." Tangan dr. Wildan sudah menyambut tangan Alya, dan Alya pun segera menggenggamnya.


"Trimakasih ...."


***


Cinta itu selalu tahu siapa pemiliknya, sejauh apapun ia pergi bila memang sudah jodohnya pasti akan kembali."


BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya

__ADS_1


Kasih Vote juga ya biar tambah semangat nulisnya


Happy Reading 😘😘😘😘


__ADS_2