
Hari semakin sore , Alya tak juga kunjung bangun, hingga sebuah panggilan menyadarkannya dari tidurnya yang terlalu lelap
Kring kring kring
Huaaah
Alya tampak menggeliatkan tubuhnya, dia terlihat begitu malas memegang ponselnya, dia malah asyik melilit tubuhnya dengan selimutnya yang tak terlalu tebal
Kring kring kring
Tapi tetap saja ponselnya tak berhenti berdering
“siapa sih ...., aku masih ngantuk!” Alya sedikit berteriak memaki ponselnya sendiri
Dia segera mencari keberadaan ponselnya , ternyata masih di dalam tas tangannya, Alya segera membuka tasnya dan mengambil ponselnya
“hallo ...!” masih dengan suara seraknya khas bangun tidur
‘baru bangun ya ...!” suara di sebrang, karena Alya tidak sempat melihat nama yang tertera di ponselnya
“”ini siapa?” Alya masih berusaha mengembalikan nyawanya
“masih mau saya sentil ya ...!”
Mendengar kata itu, Alya langsung membulatkan matanya, rasa kantuknya yang tadi terasa sirna
“ti- tidak .....!” Alya setengah berteriak, siapa lagi yang mau menjitak kening kalau bukan Wildan
“jangan berteriak, telingaku bisa pengang tau ....!”
“ya maaf ....!”
“jangan menungguku ya, malam ini aku tidak pulang, sebentar lagi makanan untukmu akan datang!”
Dasar Cuma mau bilang itu aja , ganggu orang tidur ....
“kenapa diam?”
“tidak ....!”
“terus apa namanya kalau tidak bersuara ?”
“baik, !”
“nah gitu dong, aku pasti akan merindukanmu!”
“iya!”
“gitu saja , nggak ada yang lain?”
“memang apa?”
“bilang apa gitu ...!”
“apa?”
“dasar bodoh ...!”
“ih menyebalkan sekali sih kamu ...!”
“ya sudah deh aku tutup saja telponya!”
“kalau mau tutup ya tutup saja!”
__ADS_1
Tutu tut tut
“kenapa dia marah, memang salah saya apa?” Alya terlihat sangat bingung
***
Di tempat lain terlihat Wildan sangat tidak senang, dia tampak terus menggerutu di depan meja kerjanya di rumah besar itu, memang tampak berkas yang menumpuk di atas meja
“dasar gadis bodoh, kapan sih dia bisa romantis ...!”
“kenapa aku bisa tergila- gila dengan gadis sepolos dia!”
“tapi memang kepolosannya itu yang membuat aku tergila- gila, senyum yang tak di buat- buat, dan lagi wajah imutnya saat lagi kesal!”
Wajah kesalnya kini berangsur- angsur menjadi wajah bahagia, tanpa dia sadari , dia tersenyum sendiri, hingga membuat pak Harun yang dari tadi berdiri tak jauh dari Wildan duduk pun keheranan
***
Setelah kesal sendiri dengan yang di lakukan Wildan, Alya pun segera turun dari tempat tidurnya dan mengambil handuk hendak menuju kamar mandi, tapi tiba- tiba ketukan pintu menghentikan langkahnya
Tok tok tok
“iya tunggu!” Alya mencuci mukanya sebentar dan mengelap dengan handuk yang sempat iya bawa dan menaruhnya kembali di tempatnya
Mungkin itu makanan dari Wildan sudah datang, cepat sekali padahal baru bicara
Alya pun segera berlari menuju ke pintu
Ceklek
Alya sangat terkejut , mata Alya sampai terbelalak setelah melihat yang sedang berdiri di balik pintu
“Tuan Sanjaya ....!”
“oh iya ..., silahkan tuan!” Alya terlihat sangat canggung
Setelah sampai di samping tempat duduk, Alya memperhatikan Tuan sanjaya yang mengedarkan pandangan ke seluruh bagian ruangan
“silahkan duduk tuan!”
“iya terimakasih ..., tapi kenapa masih panggil saya seperti itu?”
“maaf, oh iya, saya ambilkan minum dulu!”
Tampa menunggu persetujuan dari tuan Sanjaya , Alya langsung berlalu meninggalkan ke dapur,
Kenapa jantungku mau loncat seperti ini sih, aku harus bersikap bagaimana? Aku sungguh bingung
Setelah selesai membuat minuman , Alya pun kembali ke tempat di mana tuan Sanjaya duduk, terlihat Tuan Sanjaya masih sibuk dengan terus mengamati rumah Alya
“silahkan minumnya !”
“iya nak duduklah di sini, ayah ingin bicara banyak denganmu!” Tuan sanjaya menepuk kursi di sampingnya, Alya pun menurut, dia duduk satu kursi dengan Tuan Sanjaya
“maaf kan saya ayah!” Alya membuka kata- katanya
“maaf untuk apa? Seharusnya ayah yang minta maaf untuk selama ini, ayah tidak ada usaha untuk mencari mu, dan walaupun ayah sudah beberapa kali bertemu denganmu , ayah masih tidak mengenalimu dan membiarkanmu tinggal di tempat sekecil ini sendiri!”
“ aku tidak pa pa yah, aku minta maaf atas kejadian kemarin malam!”
“memang ayah tidak bisa membenarkan hal itu, tapi ayah juga tidak bisa menyalahkan mu seorang diri!”
“bagaimana Vina ?”
__ADS_1
“Vina belum mau keluar kamar!”
“itu salahku ...!” Alya menundukkan wajahnya sambil meremas jari tangannya
“jangan terus menyalahkan diri sendiri, aku juga ingin kamu bahagia, kamu sudah terlalu banyak tersakiti!”
Akhirnya mereka terus berbincang sampai larut, mereka saling bercerita tentang kehidupan mereka selama ini, bagaimana tuan Sanjaya melewatkan harinya tanpa Alya dan ibunya, bagaimana dia menikah lagi dengan nyonya Helsa, sedang Alya menceritakan pertemuannya dengan Wildan saat itu, bagaimana dia di tolong oleh keluarga bapak Danu dan menjadi keluarga yang bahagia bersama pak Danu dan kakak perempuannya, Rani
Hingga ketukan pintu menghentikan obrolan mereka
Tok tok tok
“biar saya buka dulu ya yah!’ tuan Sanjaya hanya menjawabnya dengan anggukan, Alya pun berlalu menuju ke arah pintu
“iya ...!” ternyata di balik pintu, orang suruhannya Wildan
“maaf nona, saya tidak sopan, saya khawatir nona akan kelaparan!”
“iya tidak papa pergilah ...!” sambil mengambil bungkusan makanan di tangannya
“baik nona, selamat istirahat nona!”
Alya hanya menjawab dengan senyuman dan beranjak dari pintu menuju tuan Sanjaya yang duduk
“siapa nak?” tuan sanjaya tampak penasaran
“pengantar makanan online, tadi saya memesan makanan online!”
“oh ..., saya kira siapa!”
“mari kita makan bersama ...!!” Alya tampak sibuk membuka makanannya dan menyiapkan dua piring untuk mereka makan
Mereka pun makan bersama untuk pertama kalinya sebagai ayah dan anak untuk sekian lama waktu yang telah terbuang, sesekali mereka saling suap, rona bahagia muncul di wajah mereka berdua
Rasanya rindu yang sekian lama itu terobati tanpa ada orang lain di antara mereka, tak ada orang ketiga
Setelah malam semakin larut, Tuan Sanjaya berpamitan pulang
“nak apa tidak sebaiknya kamu pindah ke rumah ayah?”
“tidak usah yah, aku sudah nyaman kok di sini!”
“ayah ingin lebih dekat lagi sama kamu nak!”
“aku kan bisa berkunjung ke kantor, atau ayah bisa ke sini, aku nggak mau membuat keributan kalau di rumah ayah!”
“baiklah terserah kamu saja, ayah pulang dulu ya, kamu jaga diri baik- baik!”
Alya mengantar tuan Sanjaya hingga ke luar menunggu hingga mobil tuan Sanjaya tak terlihat lagi, Alya pun masuk kembali dan segera merebahkan diri di tempat tidurnya, dan tak menunggu waktu lama Alya pun sudah terlelap dalam tidurnya sambil memeluk guling
-
-
-
-
terimakasih ya atas dukungannya
jangan lupa like n vote ya
😍😍😍😍😍
__ADS_1