Queenza

Queenza
Bom Itu Akhirnya Meledak


__ADS_3

Setelah berencana akan bulan madu, siang itu Ayyara dan Abian pergi menuju mansion utama untuk berkunjung sekaligus memberitahu bahwa mereka akan berangkat ke Maritius dua hari lagi. Abian sendiri memang sudah merencanakan segalanya, dari tiket maupun visa secara diam-diam.


Sepanjang jalan menuju mansion senyuman indah tak luntur di wajah cantik Ayyara. Ia terus memeluk lengan suaminya dengan begitu manja dan membuat Abian sendiri menikmati tingkah manis suaminya.


Sampai di mansion, keduanya masuk.


"Selamat datang, Nona dan Tuan," sambut pelayan.


"Mama, Papa ada?" tanya Ayyara.


"Ada di ruang televisi, Nona," jawab pelayan wanita dengan seragam pelayan hitam itu.


"Baiklah, kami ke sana dulu. Tolong buatkan jus jeruk, ya."


"Baik, Nona."


Ayyara dan Abian pun masuk ke ruang televisi. Terlihat dua paruh baya itu tengah menonton film bersama.


"Romantis sekali pasangan ini nonton berdua," ujar Ayyara membuat Aarav dan Sarah menoleh.


"Sayang, kapan sampai?" tanya Sarah menyambut sang anak dengan pelukan dan ciuman.


"Baru sampai. Kangen," rengek Ayyara pada sang mama.

__ADS_1


"Sama Papa gak kangen?" tanya Aarav.


"Kangen juga." Wanita cantik itu memeluk sang papa.


"Apa kabar Ma, Pa?" Abian mencium tangan kedua mertuanya.


"Baik. Ayo, duduk."


Mereka pun duduk kembali dan berbincang.


"Ma, Pa, kami mau pamit," ujar Ayyara bersemangat.


Hingga tak lama, Queenza lewat melihat kedua pasangan itu. Ia tersenyum. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk mengeluarkan bom besar itu.


"Oh, ada kalian datang," ujar Queenza yang membuat semua menoleh.


"Sangat baik," jawab Queenza yang diangguk Ayyara.


"Tadi mau pamit, mau ke mana kalian?" tanya Sarah.


Ayyara sedikit melirik sang kakak.


"Ummmm, kami mau ke Maritius. Mas Abian kasih kejutan bulan madu ke sana," ujar Ayyara, tetapi tak seantusias tadi setelah Queenza duduk di sana.

__ADS_1


"Wah, yang benar? Selamat, Sayang. Mama senang. Kalian memang sepertinya harus bulan madu. Lagian sejak menikah kalian belum ke mana-mana, kan?" kata Sarah ikut bahagia.


"Kkhhmmm, sepertinya kalian harus membatalkan rencana bahagia kalian itu."


Tiba-tiba Queenza membuka suara.


"Maksud Kakak?" tanya Ayyara.


"Tunggu, aku akan menunjukkan sesuatu pada kalian." Wanita cantik dengan gaun rumahan berwarna navy itu beranjak dan melangkah entah ke mana, membuat dua pasangan beda generasi itu saling pandang.


Hingga tak lama, wanita dua puluh lima tahun itu kembali dengan membawa sebuah kota kecil.


"Untuk Abian." Queenza menyerahkan kotak tersebut pada lelaki muda di sana tetapi tak ditanggapi. "Ambil, Bian. Kamu akan bahagia setelah melihat isinya," ujarnya kembali dengan tersenyum.


Abian menatap sang istri yang diangguk Ayyara. Ia sendiri cukup penasaran dengan kotak yang diberikan untuk suaminya.


Akhirnya lelaki tampan itu meraih kotak tersebut dan mencoba membukannya. Ia sedikit mengerutkan dahi saat melihat isinya.


"Apa ini?" tanyanya meraihnya di tangan dengan tatapan bingung penuh tanda tanya.


Jika Abian kebingungan, berbeda dengan tiga orang lain yang terlihat syok melihat benda kecil di tangan Abian. Apakah mereka salah melihat?


"Kalian kenapa?" tanya lelaki itu terlihat bingung bahkan sang istri menangis setelah melihat benda tersebut. "Sayang, kamu kenapa?" tanyanya panik melihat Ayyara menangis begitu juga ibu mertuanya.

__ADS_1


"Itu tespack, Bian. Garis dua yang berarti aku hamil. Hamil anakmu."


Abian terkejut mendengar perkataan Queenza. Ia berbalik menatap wanita itu dengan tatapan tak percaya.


__ADS_2