
Queenza begitu menikmati momen ini, di mana ketiga orang itu begitu kesulitan mencarinya. Bahkan mereka begitu kelimpungan menghadapi semuanya. Bukan hanya tentang Abian, Queenza juga membuka rumor masa lalu Sarah dan Aarav yang telah selingkuh bahkan sebelum kematian istri pertamanya. Semakin hancurlah mereka dibuat Queenza dengan semua rumor yang dibuat.
"Nona, Tuan Aarav terus menghubungi, begitu juga Nona Ayyara," ujar Maryam pada wanita yang kini tengah meneguk jus jeruk.
"Biarkan saja, belum saatnya saya muncul. Saya masih ingin bersenang-senang," sahutnya menyesap jus di tangannya.
"Baik, Nona."
"Kamu boleh keluar sekarang. Ingatlah, jangan keluar apartemen jika saya tidak menyuruh. Saya tidak ingin mereka menangkapmu," kata Queenza menatap wanita di depannya.
"Baik, Nona. Saya akan menunggu di ruang tamu."
"Good. Ingatlah, Maryam, saya percaya kepadamu. Jangan hancurkan kepercayaan saya. Jika itu terjadi, kamu pasti tahu akibatnya."
"Tentu, Nona. Kalau begitu saya keluar dulu. Jika Nona butuh sesuatu bisa panggil saya."
Setelah itu Maryam pamit keluar dari ruang kerja sang atasan.
"Kalian pikir ancamanku hanya main-main? Aku sudah memberi waktu justru kalian menyepelekan. Kini, rasakan akibatnya," kata Queenza tertawa melihat bagaimana keluarga yang kini merasa hancur dengan serangan yang dikeluarkannya.
Di tempat lain, Ayyara kini tengah di rumah tahanan di mana suaminya ditahan. Sejak satu minggu ia datang tetapi aparat tak mengizinkannya bertemu. Namun kini, ia diperbolehkan menjenguk.
__ADS_1
Ayyara menangis saat melihat keadaan suaminya. Lelaki tampan itu kini benar-benar berubah. Wajah yang biasa berkharisma justru sekarang penuh dengan luka lebam. Ayyara memeluk Abian begitu erat. Ia menangis hingga sesegukkan. Abian sendiri hanya bisa memeluk balik sang istri.
"Apa yang terjadi, Mas? Kenapa wajahmu penuh luka?" tanya Ayyara sedih dengan mengusap wajah suaminya.
"Mereka terus mengintrogasi Mas bahkan sampai memukul. Tapi tidak apa-apa, Sayang. Bagaimana keadaanmu juga Mama Papa?" tanya Abian mencoba mengalihkan obrolan.
"Mama benar-benar terpuruk karena gosip itu. Queenza benar-benar jahat! Dia bahkan tega melakukan ini semua pada kita. Apa salah kita padanya? Dia yang menjauh dari kita seakan kami melupakannya."
"Sudahlah, semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu." Abian terus mengusap punggung istrinya.
Ayyara menatap sedih suaminya. Ia benar-benar tak tega melihat orang yang dicintai menderita. Ini bukan salah Abian, tetapi kenapa justru dia yang dihukum? Belum lagi sang mama yang kini mengalami depresi karena tiba-tiba diary tantenya tersebar.
Setelah bertemu sang suami, Ayyara mencoba kembali menghubungi kakaknya. Ia tak pernah menyerah untuk terus menelepon Maryam.
"Kak, akhirnya aku bisa menghubungimu. Kak, aku mohon, cabut tuntutan Kakak untuk Mas Bian," bujuk Ayyara.
"Kamu menelepon hanya untuk ini? Maaf, aku tidak tertarik."
"Kak, aku akan mengabulkan semua permintaan Kakak termasuk pisah dari Mas Bian, asal Kakak mencabut tuntutan dan kembalikan nama baik Mama. Aku mohon, Kak."
"Ceraikan dulu Abian, setelah itu akan aku pikirkan. Semakin cepat semakin baik, bukan?"
__ADS_1
Setelah pembicaraan itu, Queenza menutup panggilan. Ia tahu bahwa adiknya terlalu bodoh dan mudah sekali dihasut. Kini, ia pasti berhasil membuat keduanya berpisah.
**
Satu minggu berlalu, Ayyara Kembali menemui sang suami. Seperti sebelumnya, pasti wajah Abian habis babak belur yang membuat Ayyara semakin hancur. Meski suaminya tak bercerita, tapi ia tahu bahwa di dalam Abian menderita. Kini, tekadnya lebih bulat untuk bercerai dengan suaminya. Walaupun harus berpisah, setidaknya Abian tidak menderita seperti sekarang.
"Apa ini, Ayya?" tanya Abian tak percaya melihat kertas di hadapannya.
"Lebih baik kita bercerai, Mas," ujar Ayyara menundukkan kepalanya. Ia benar-benar tak kuat jika harus menatap wajah suaminya.
"Kenapa? Apa ini permintaan Queenza? Sudah aku katakan, aku tidak akan menceraikanmu atas permintaan bodoh wanita itu!"
"Mas! Ini bukan hanya tentang kita, tapi untuk semuanya. Mama sekarang mengalami depresi karena berita yang menimpanya. Belum lagi perusahaan yang semakin anjlok karena kasus ini. Apa Mas tega?" tanya Ayyara.
"Tapi aku tidak mau kehilanganmu, Ayya."
"Mas, mengertilah. Keadaan benar-benar menuntut kita untuk berpisah. Aku juga gak mau berpisah dengan Mas. Tapi mempertahankan juga akan menyakiti banyak pihak. Aku mohon, jangan egois, Mas."
"Tidak! Aku tetap tidak akan melepasmu, Ayyara. Dan surat ini tidak akan memisahkan kita!" Dengan kesal, Abian merobek surat gugatan cerai itu.
"Mas! Aku akan tetap menggugat cerai kamu dengan alasan kenapa kamu dipenjara. Percuma Mas menolak karena pengadilan pasti mengabulkan gugatan ceraiku!" Ayyara beranjak lalu pergi meninggalkan suaminya.
__ADS_1
"Ayyara! Aku tidak mau berpisah denganmu!" teriak Abian pada istrinya. "Aku akan membencimu jika Ayyara benar-benar menceraikanku, Queenza!" ujarnya mengepalkan tangan.