
Malam telah datang. Queenza dan Abian kembali ke kamar setelah makan malam. Wanita cantik itu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Suaminya sungguh bingung memiliki istri yang super rajin mandi. Hari ini saja sudah lima kali ia melihat wanita cantik itu membersihkan diri.
Membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk anak Aarav itu menyelesaikan ritualnya. Setelah itu ia keluar.
"Apa kamu OCD? Setiap selesai beraktivitas selalu mandi. Bahkan sehabis makan malam pun mandi lagi," ujar Abian menatap istrinya yang duduk mengeringkan rambut.
"Enak saja. Cukup penyakitku gangguan kepribadian saja, jangan ditambah lagi," gerutu Queenza.
"Aku heran saja, sehari ini kamu mandi bahkan sampai lima kali," kata Abian mendekati istrinya.
"Semua aktivitasku hari ini mengeluarkan keringat. Jika aku tidak mandi nanti tubuhku bau dan lengket, pasti tidak nyaman," kata wanita itu lagi.
"Setelah makan malam pun mandi? Sepertinya tidak berkeringat."
Queenza menoleh pada kaca menatap suaminya yang kini bersandar di dinding. "Kamu ternyata tipikal laki-laki bawel, ya. Masalah mandi saja diributkan. Heran!"
"Bukan begitu, kamu sedang hamil. Kalau masuk angin bagaimana?" tanya Abian.
"Tidak akan. Aku juga mandi pakai air hangat. Lagipula mandi sebelum tidur memang kebiasaanku. Meski sore hari sudah mandi tetap saja aku harus mandi lagi. Sudah ah, sejak pagi pertanyaanmu tidak berbobot sama sekali. Lebih baik aku tidur." Queenza beranjak dari duduknya, berjalan menuju ranjang, lalu melepas kimononya.
Abian tertegun melihat penampilan istrinya malam ini. Wanita cantik itu mengenakan gaun malam yang membuat tubuh yang indah semakin terekspos luar biasa, meski bukan yang berbahan tipis, tetap saja membuat lelaki itu gelisah.
__ADS_1
"Kenapa bukan piyama kemarin yang kamu pakai?" tanya Abian gusar.
"Astaga, kamu kenapa bawel banget, sih! Kenapa? Tergoda? Bukannya kamu yang bilang kita tidak boleh berhubungan? Ya sudah terima nasib saja," kata Queenza merebahkan tubuhnya dan mengenakan selimut sampai pinggang. "Katanya benci, tapi kalau liat body mulus sendikit itu monas langsung berdiri tegak. Dasar laki-laki," gumam Queenza.
Abian berdecak menatap istrinya yang mulai memejamkan mata. Karena belum mengantuk, akhirnya Abian berjalan keluar kamar untuk menonton bola. Ia baru ingat kalau malam ini klub kesayangannya bermain.
"Buatkan espresso dan camilan yang asin," ujar Abian pada pelayan yang lewat.
"Baik, Tuan." Pelayan itu pun pergi.
Abian duduk lalu menyalakan televisi 53 inci tersebut. Memilih channel olahraga dan tersenyum saat menemukan pertandingan bola itu. Tak lama pelayan pun datang memberikan pesanan sang tuan.
Lelaki itu fokus menonton pertandingan sampai tengah malam. Hingga tiba-tiba dikejutkan dengan sosok wanita seksi yang duduk di sampingnya.
"Berisik tau, gak! Kan bisa menggunakan volume kecil saja. Istrinya lagi hamil dan sedang istirahat malah diganggu." Queenza merebut mangkuk kaca berisi makana ringan lalu memakannya.
"Mana seru nonton bola dengan volume kecil. Kamu pikir sedang nonton horor."
Ya, keduanya tak pernah bermanis ria daat bersama. Entah mengapa ada saja perdebatan yang mereka debatkan. Berbeda seksli saat bersama Ayyara. Abian seakan menjadi Romeo yang begitu romantis. Ah, mungkin karena baru menikah, ya kan?
Akhirnya Queenza menemani suaminya menonton bola karena matanya kembali segar. Wanita itu sendiri tak benci olahraga tersebut, tetapi tak terlalu suka juga.
__ADS_1
"Apa kamu pernah nonton langsung di Inggris?" tanya Queenza.
"Belum. Harapan sih ada. Aku ingin sekali ke basecamp Chelsea. Melihat segala sesuatu yang berbau hal tentang mereka," ujar Abian berbinar.
"Payah! Aku bahkan sering sekali sampai bosan," jawab Queenza.
"Kita kan beda kasta. Nona Queenza Safaluna itu Ratu, sedangkan aku hanya rakyat jelata. Karena kebaikan Ayyara dan Papa Aarav saja aku bisa berada di titik ini," jawab Abian melahap camilannya.
Queenza menatap suaminya dari samping. Ia tahu bahwa Abian adalah seorang yatim piatu. Dulu ia hanyalah karyawan biasa di stasiun televisinya hingga bertemu Ayyara dan mereka saling jatuh cinta dan menikah. Keduanya itu sama, sama-sama sebatang kara. Bedanya Abian lebih beruntung karena bertemu orang yang dicintai dan mencintainya. Namun sayang semua dihancurkan oleh dirinya.
"Maaf," ujar Queenza tiba-tiba yang membuat suaminya menoleh.
"Maaf? Untuk apa?" tanya Abian menatap istrinya dengan wajah bingung.
Tiba-tiba Queenza meraih tengkuk leher suaminya dan menyatukan bibir mereka. Ia cium dengan begitu lembut. Abian cukup tersentak dengan perlakuan Queenza, lalu ia melepas ciumannya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Abian mengusap bibirnya dengan tatapan tak suka.
"Apa yang salah mencium suamiku sendiri? Kita tidak boleh menyatu tapi untuk yang lain kan boleh, termasuk berciuman," jawab Queenza.
"Apa kamu tidak malu memulai duluan?" tanya Abian heran.
__ADS_1
"Aku memiliki suami yang dingin bahkan tidak mau menyentuhku, ya aku harus inisiatif sendiri. Lagipula sekarang tidak berdosa melakukan apa pun padamu. Yang berdosa itu mengingat wanita lain dan istri sendiri diabaikan." Queenza pun berlalu meninggalkan Abian yang terpaku di tempat. Ia seakan tertampar dengan perkataan Queenza. Ia yang mengabaikan sang istri justru mengingat mantan istrinya.
"Karena dia juga aku berpisah dengan Ayya. Wajar kan jika aku mengabaikannya," gumam Abian menatap kepergian Queenza.