
Pagi datang. Samar-samar Queenza mendengar mesin hydryer mengganggu indera pendengarannya. Dengan perlahan ia membuka mata mendapati suaminya yang sudah sangat rapi dan segar.
"Kamu ngapain sih pagi-pagi sudah berisik," omel Queenza kesal.
"Hey, selamat pagi." Abian tersenyum mendekati Queenza. Ia duduk menatap sang istri. "Ini sudah siang, Queen. Mau tidur sampai jam berapa hhmm?" Ia mencium kening istrinya, yang membuat Queenza terkejut. Tumben sekali. Begitulah tatapan wanita itu sekarang pada suaminya. "Kenapa menatapku seperti itu? Aku tahu suamimu ini memang sangat tampan."
"Kepedean sekali kamu!" Queenza beranjak duduk. Ia sedikit memijat pinggangnya yang terasa sakit. Sejak perutnya agak membesar memang tubuhnya suka merasakan nyeri padahal ia tidur di ranjang terbaik yang ada.
"Pegal? Sini aku pijitin." Abian menyentuh pinggang istrinya tetapi ditepis Queenza.
"Gak perlu."
"Ya sudah, mau minum? Pasti tenggorokanmu kering." Lelaki dengan kaus hitam itu menyerahkan segelas air dan diterim Queenza lalu diteguknya.
Wanita cantik itu masih menatap aneh lelaki di depannya. Apa dia terbentur sesuatu sehingga berubah? pikir Queenza.
"Kok bengong? Ayo cepat bangun. Bukannya kamu mengundang teman-temanmu untuk makan malam? Kita bisa belanja keperluan untuk nanti malam. Mau barbeque saja kan? Sekalian beli minuman dan makanan ringan," ujar Abian menyingkirkan anak rambut yang menghalangi indera penglihatan sang istri.
"Kamu kenapa sih? Aneh tau gak sejak aku bangun," ujar Queenza akhirnya karena gemas dengan perubahan sang suami.
"Ada yang salahkah? Aku hanya ingin memperlakukan istriku dengan baik. Apa tidak boleh?" tanya Abian.
Queenza tersenyum sinis. "Pasti kamu merencanakan sesuatu, 'kan? Aku tak akan terpengaruh!" Queenza beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Abian.
"Lihat saja, cepat atau lambat kamu akan jatuh cinta padaku, Queen."
Setelah sarapan, akhirnya keduanya memutuskan untuk pergi ke supermarket membeli keperluan untuk nanti malam, padahal persediaan makanan di rumah Queenza sama seperti supermarket. Namun Abian tetap memaksa keluar bersama sang istri, mumpung libur.
Keduanya berjalan masuk supermarket dengan Abian membawa troli.
__ADS_1
"Kamu pilih saja yang ingin kamu beli," ujar Abian pada istrinya yang hanya jalan-jalan.
"Lagian kamu ini, sudah aku bilang persediaan di mansion itu cukup. Kenapa harus belanja lagi? Aku paling malas belanja seperti ini," gerutu Queenza.
"Sudahlah, yang di rumah kan untuk kita. Ini kita beli untuk teman-temanmu."
Meski dengan rasa kesal, Queenza pun membeli apa saja yang akan disiapkan untuk nanti malam. Ia membeli berbagai saus, lalu daging dengan kualitas terbaik, camilan dan minuman juga sayuran sebagai pendamping. Abian sendiri dengan setia mengikuti istrinya yang memilih barang. Hingga mereka melewati bagian nursery, membuat Abian berpikir kehamilan sang istri yang sudah mau tujuh bulan tapi mereka benar-benar belum menyiapkan apa-apa untuk anak mereka.
"Queen," panggil Abian.
"Kenapa?"
"Kita belum menyiapkan apa-apa loh untuk anak kita. Bukankah bulan ini sudah menginjak tujuh bulan?" tanya Abian.
"Kalau pakaian memang belum. Tapi kalau isi kamar aku sudah memesan. Seperti tempat tidur, lemari, dan lainnya. Mungkin bulan depan akan sampai. Aku memesan dari Swiss soalnya," jawab Queenza yang tengah memilih saus untuk barbeque.
"Belum, Bian. Bulan lalu saat ingin melihatnya dia seperti menyembunyikan. Karena itu aku belum membeli pakaian juga. Takut salah beli," jawab Queenza lagi. "Ini lebih enak pedas atau tidak ya?" gumamnya masih saja memilih saus.
"Kapan periksa lagi?"
"Lusa," jawab wanita cantik dengan gaun kasual itu.
"Baiklah. Aku akan menemani," ujar Abian.
"Hhhmmmm," jawab Queenza yang berjapan ke tempat lain untuk membeli beberapa makanan tradisional Indonesia.
**
Queenza duduk dengan mengusap pinggangnya setelah selesai berbelanja. Bukan hanya pinggang, kakinya pun terasa pegal. Sejak dulu ia sangat tidak suka belanja bahan makanan karena sangat menguras tenaga apalagi sampai di Jakarta ia hanya akan memberi uang dan biar pelayan yang membeli kadang dari supermarket yang mengantarkan.
__ADS_1
"Pinggangmu sakit lagi?" tanya Abian yang baru masuk kamar.
"Iyalah, pakai tanya. Aku sudah bilang kan aku tidak suka belanja, apalagi lagi hamil begini," gerutu Queenza.
"Sini aku pijat. Kamu berbalik," ujar Abian duduk di samping istrinya. "Kenapa diam? Ayo berbalik."
Akhirnya kini Queenza duduk membelakangi suaminya. Tangan Abian pun mulai memijat pinggang istrinya.
"Maaf, bukan aku mau menyusahkanmu, aku hanya ingin spend time denganmu, cuma bingung harus melakukan apa. Kamu tidak suka juga jalan-jalan di mall atau nonton. Jadi ya aku ajak belanja," ujar Abian yang tiba-tiba membuat Queenza terdiam.
Wanita cantik itu berbalik menatap suaminya. "Kamu kenapa sih? Tiba-tiba seperti menjadi suami luar biasa? Apa yang kamu rencanakan? Apa karena aku bilang kamu alat balas dendamku jadi kamu mau balas dendam juga padaku dengan membuatku merasa nyaman lalu meninggalkanku, Iya? Tidak akan mempan, Abian. Bagaimana pun kamu menyakitiku, aku sudah berteman dengan rasa sakit. Semua sudah mati rasa," ujar Queenza serius.
Abian hanya tersenyum dengan mengusap pipi Queenza. "Aku marah, iya. Siapa yang tidak marah saat istrinya mengatakan bahwa dia adalah alat balas dendamnya? Andai dibalik pun kamu pasti akan marah. Tapi, aku sadar juga, selama jadi suamimu hampir empat bulan kita seakan musuh. Aku sadar tidak memperlakukanmu seperti istri pada umumnya, mungkin karena itu juga yang membuat perasaanmu pun tak berubah padaku sejak kita menikah," ujar Abian.
"Aku sadar, untuk mendapatkan kebaikan, kita juga harus menjadi baik. Jika aku ingin kamu memperlakukanku selayaknya istri memperlakukan suaminya, aku juga harus memperlakukanmu seperti pada istri sendiri yaitu dengan perasaan. Aku mau kamu nyaman denganku, mencintaiku dan lupa bahwa aku adalah alatmu balas dendam. Aku mau kita hidup normal selayaknya keluarga," katanya lagi.
"Aku mengerti kenapa kamu begitu melindungi dirimu. Maka dari itu, aku akan menghancurkan perlindungan itu dan berharap kamu ketergantungan pada suamimu ini. Kita sama-sama tidak memiliki keluarga, kini kita berdua bersama dan aku harap kita berdua bisa saling ketergantungan dan saling memiliki. Semalam aku sadar hubungan kita ini tanpa tujuan, karena itu kita sering bersitegang. Kini, aku mau mengajakmu untuk memiliki tujuan dalam rumah tangga kita.
"Mau 'kan bersama denganku? Aku janji akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian. Aku akan melupakan masa lalu yang telah berlalu. Aku janji akan memberikan kasih sayang yang luas untukmu dan anak kita. Mau kan kasih aku kesempatan?" tanya Abian menatap istrinya yang kini menatapnya dengan tak percaya.
"Apa kamu menyatakan cinta padaku?" tanya Queenza.
Abian tersenyum dengan mengecup tangan istrinya. "Kamu bisa menganggap apa pun itu. Yang pasti, aku hanya ingin memperbaiki apa yang salah di sini. Bagaimana?" tanyanya.
"Bian, aku tidak tahu kamu tulus atau tidak, tetapi masih sulit untukku percaya dengan kata-katamu."
"Tidak apa-apa. Aku akan meyakinkanmu, Queen. Aku akan mengobati luka di hatimu selama ini yang membuatmu mati rasa. Aku akan membuatmu kembali merasakan kebahagiaan karena cinta. Aku janji itu. Hanya saja, jangan menghentikanku untuk melakukan apa pun. Termasuk sekarangan."
Abian menarik tengkuk Queenza, lalu menyatukan bibir keduanya. Ia cium dengan begitu lembut seakan bibir istrinya adalah permen yang begitu manis. Queenza sendiri awalnya terkejut, tetapi ia mencoba diam dan menikmati tak lupa membalasnya. Queenza tak peduli bagaiman perasaannya, ia hanya butuh penenang dalam hidupnya dan bersentuhan dengan Abian menjadi salah satu obatnya.
__ADS_1