Queenza

Queenza
Bab 69


__ADS_3

Pagi pun datang. Abian tengah berdiri di salah satu perusahaan periklanan milik Saad Thadani. Lelaki itu mengepalkan tangan menahan amarah. Dengan langkah pasti, suami Queenza itu masuk.


"Katakan pada Saad Thadani bahwa Abian Martadinata ingin bertemu," ujar Abian pada resepsionis.


"Maaf, apa Anda sudah membuat janji?" tanya resepsionis berwajah cantik itu sopan.


"Belum, tapi hubungi saja dulu. Dia pasti mengizinkan bertemu," kata Abian kembali dengan wajah tanpa ekspresi.


Resepsionis pun menghubungi sekertaris Saad dan mengatakan Abian Martadinata ingin bertemu dan kini menunggu di ruang tunggu resepsionis.


"Abian?" tanya Saad.


"Betul, Pak. Jadi, apakah Bapak ingin bertemu?" tanya sekertaris Saad.


Mendengar nama Abian, wajah Saad tersenyum. "Baiklah, suruh dia menemui saya," ujarnya antusia.


Setelah itu, sekertaris pun keluar ruangan sang bos, lalu memberitahu resepsionis untuk mengizinkan Abian naik.


Dengan langkah pasti Abian pun menuju ruangan Saad. Ia tekan lift menuju lantai 25 dan setelah sampai, ia terus berjalan sampai bertemu ruangan direktur utama.


"Silahkan masuk, Pak." Sekertaris Abian membukakan pintu ruangan direktur utama tersebut.


Saad beranjak menghampiri Abian dengan senyuman ramahnya. Namun saat lelaki itu dekat, justru hantaman kaki melayang di perut hingga tubuhnya terpental hingga terbatuk-batuk. "Hey! Kenapa kau memukulku?" tanya Saad mengatur napasnya dengan meringis mengusap perut yang terasa sakit.


"Brengsek! Berani sekali kau menemui istriku!" sentak Abian dengan emosi. Satu bogem mentah melayang di pelipis Saad.


"Berhenti, sialan!" sentak Saad saat Abian terus memukulnya.


Tak tinggal diam, Saad pun membalas pukulan suami Queenza itu, hingga keduanya kini saling hajar.


"Nadine! Nadine!"


Mendengar teriakan sang atasan, buru-buru sekertaris itu masuk. Betapa terkejutnya dia saat melihat dua lelaki tampan itu tengah bertengkar hebat. Tanpa basa-basi buru-buru ia menelepon keamanan untuk memisahkan dua lelaki bertubuh tegap itu. Ia tak mungkin memisahkan mereka dengan tubuh kecilnya.


"Cepat pisahkan mereka!" kata Nadine pada tiga orang petugas keamanan bertubuh besar yang telah datang ke ruangan Saad.

__ADS_1


Tiga laki-laki itu pun memisahkan Abian dan Saad yang bertengkar seperti kucing. Saad yang bisa bernapas lega pun menatap Abian yang masih saja emosi padanya, yang membuat dia bingung kenapa ia diserang?


"Brengsek! Lepas!" sentak Abian mencoba melepaskan diri.


"Kau yang sialan! Datang ke kantor orang dengan menyerang!" umpat Saad tak kalah kesalnya dengan tingkah Abian Yang bar-bar menyerangnya.


"Kau yang berani-beraninya menemui istriku dan bicara kasar padanya. Kau pikir aku terima? Setelah menjadi pelaku KDRT pada istrimu, kini kau ingin menyerang istriku juga, hah!" teriak Abian dengan emosi. "Kau bukan pria, Saad! kau pengecut."


"Aku bukan pengecut, sialan!" sentak Saad tak terima dengan perkataan Abian.


'Sialan! Apa yang direncanakan Queenza? Kenapa Abian begitu murka? Padahal kemarin kita mengobrol biasa,' batin Saad penuh tanda tanya.


"Tenang saja, besok Abian akan datang dan menolongmu."


Kata-kata itu yang dikatakan Queenza saat Saad meminta bantuan pada Queenza tentang pernikahannya dengan Ayana. Namun, kenapa sekarang justru Abian mengamuk padanya?


"Usir dia keluar dari kantorku!" sentak Saad dengan geram. Bisa-bisanya suami-istri ini mengerjainya. Bukan membantu, justru membuatnya semakin pusing. Entah apa yang direncanakan sahabat adiknya itu.


"Pengecut! Lawan aku! Lihat saja jika kau berani menemui istriku lagi!" umpat Abian yang tubuhnya terus ditarik oleh tiga petugas keamanan bertubuh besar itu hingga sosok Abian tak terlihat lagi.


"Maksudmu apa mengirimi suamimu dengan menyerangku?" tanya Saad kesal saatw Anita itu mengangkat panggilannya.


Mendengar ucapan lelaki itu, justru Queenza tertawa di seberang telepon.


"Suamiku berhasil mengamuk di sana? Apa kau panggil keamanan untuk mengusirnya?" tanya Queenza.


"Tentu saja! Suamimu seperti orang kesetanan. Wajahku habis olehnya," gerutu Saad. "Apa yang kau rencanakan wanita iblis!" Kesal lelaki itu.


"Kau ikuti saja rencanaku, jangan banyak basa basi. Lagian suamiku tak membuatmu mati, hanya membuatmu luka-luka," ujar Queenza tertawa. "Saad, dengarkan aku ...."


Queenza pun mulai memberitahu langkah lain untuk rencananya dengan Saad. Wanita itu sungguh membuat Saad tak habis pikir. Queenza benar-benar Queen of evil. Sosok wanita kejam yang bisa membuat rencana di luar nalar hanya untuk membalaskan dendam.


"Terserah padamu saja, Queen. Aku sungguh takut jika harus melawanmu. Pantas saja adikku sangat dekat denganmu. Kalian dua wanita menyeramkan bersatu, tidak bisa aku membayangkannya," kata Saad bergidig ngeri. "Tapi, kenapa kamu tidak memberitahu suamimu? Apa dia tidak akan marah jadi korban kegilaanmu ini?"


"Oh come on! Suamiku itu replika malaikat. Mana mau dia mengikuti cara iblisku ini. Jadi, mau tak mau harus kurelakan suamiku menjadi tumbal," jawab Queenza santai.

__ADS_1


"Kau benar-benar gila, Queen. Ya sudah, aku ingin ke rumah sakit dulu. Gila, wajahku benar habis oleh suamimu. Awas saja jika rencanamu tak ada hasil, akan Aku habisi suamimu," ancam Saad dengan mengusap wajahnya yang babak belur.


"Sudahlah, serahkan saja padaku. Smeua akan terkendali. Jangan lupa dengan rencana kita. Kau harus melakukannya dengan baik agar semua bisa berjalan sesuai rencana," sahut Queenza kembali.


"Baiklah, aku pergi dulu."


Akhirnya kedua orang itu memutuskan panggilan. Queenza tersenyum mengetukkan jarinya di dagu. Besok malam adalah hari keberangkatannya ke Zürich. Ia harus menyelesaikan urusan yang masih ia tangani.


Kembali Queenza meraih ponselnya. Ia menelepon seseorang yang setia mengawasi seseorang untuknya.


"Bagaimana?" tanya Queenza.


"Semua berjalan seperti biasa. Nona Nana hanya pergi ke kampus dan kantin saja, lalu kembali ke mansion," jawab seseorang diseberang sana.


"Baiklah, kalian harus tetap mengawasinya. Jika ada hal mencurigakan, hubungi saya."


"Baik, Miss."


Panggilan pun terputus.


Tak lama, Maryam masuk dan Queenza mempersilahkan duduk.


"Ini semua yang Miss minta. Semua persiapan sudah selesai. Besok malam Miss dan Nona Kecil bisa terbang menuju Zürich. Untuk pekerjaan di sini pun sudah saya periksa dan tak ada hal terlalu mendesak," ujar Maryam menyerahkan sebuah map pada Queenza.


"Baiklah, kamu boleh pergi," jawab wanita berblazer maroon itu membuka map yang diberikan Maryam untuknya.


"Kalau begitu, saya permisi." Maryam berdiri, lalu menundukkan badan setelah itu keluar dari ruangan direktur utama.


Queenza pun membaca map di tangannya. Satu per satu ia balik dengan seksama. "Sepertinya ini cocok untuknya," kata ibu satu anak itu tersenyum.


Ia meraih telepon genggam dan menelepon Maryam.


"Siapkan segalanya. Aku memilih Bern untuknya," ujar Queenza.


"Baik, Miss. Segera saya proses," jawab Maryam.

__ADS_1


Queenza pun menutup mata sembari menyandarkan tubuhnya. "Ini yang terbaik untuknya, meski kita harus berjauhan," gumam wanita cantik itu dengan helaan napas panjang.


__ADS_2