
Abian dan Queenza menatap keindahan ibukota di ketinggian lantai tiga puluh di salah satu hotel bintang lima. Kini, keduanya tengah menghabiskan waktu setelah menghadiri pesta salah satu pengusaha yang melangsungkan pernikahan. Setelah hampir satu tahun berjuang, akhirnya Abian bisa berdiri kembali dan hidup dengan normal.
Queenza tampak begitu nyaman dalam pelukan sang suami. Begitu juga Abian yang terus mengusap lembut rambut panjang istrinya. Menikmati embusan angin malam yang tampak indah dengan pemandangan langit cerah.
"Bintangnya indah, ya," ujar Queenza pada suaminya, menatap langit yang sama sekali tak tertutup awan.
"Tak lebih indah dari kamu, Sayang. Kamu jauh lebih memesona dari bintang atau bulan," jawab lelaki itu memeluk erat istrinya. Tak lupa kecupan-kecupan menuntut yang membuat Queenza kegelian.
"Gombal!"
"Siapa yang gombal? Aku berkata jujur. Queenza Safaluna adalah wanita tercantik yang aku temui," sahut Abian tak terima dibilang menggombal.
"Mas, ih!" Wajah Queenza merona dengan tangan memukul dada suaminya. Abian pun mengaduh dengan tawanya yang renyah.
"I love you, Sayang."
"No, aku tidak percaya," ejek Queenza.
"Oh ya? Sepertinya perky aku tunjukkan rasa cintaku padamu." Dengan cepat Abian menggendong sang istri, hingga wanita itu memekik memeluk leher suaminya.
"Mas! Turunkan aku!"
"No! Aku harus menunjukkan rasa cintaku agar kamu percaya."
"A-aku percaya, Aku percaya," kata Queenza dengan cepat. Bisa gawat jika Abian mengajaknya olah raga lagi. Belum lama mereka selesai dengan kegiatan suami istri itu, dan kini suaminya akan mengulang? oh, no!
"Tidak ada penolakan Sayangku."
"Abiaaannnn!" teriak Queenza.
Setelah menikmati malam yang indah, pagi-paginya mereka kembali ke kediaman sebab Nana berkata bahwa Tatjana merengek meminta orang tuanya pulang.
"Bunda! Ayah!" Dengan riang, bocah empat tahun itu berlari menghampiri orang tuanya.
"My girl." Abian dengan cepat menggendong anak perempuannya.
"Ayah dan Bunda jahat meninggalkanku," ujar Tatjana dengan wajah cemberut dan melipat tangan di dada.
__ADS_1
"Maaf, semalam Bunda dan Ayah bermalam di hotel selepas menghadiri pesta. Jangan marah, dong," bujuk Queenza mencium gemas pipi anaknya. "Sebagai tanda minta maaf, Bunda dan Ayah belika Ana sesuatu."
"Apa?" tanya bocah itu berbinar.
"Ta da!" Queenza menunjukkan kotak kue kesukaan anak kesayangannya. Kue tart Korea yang kini tengah viral itu adalah salah satu list dessert kesukaan Tatjana.
"Bear! Ahhhh I want!" Tangan mungil itu mencoba meraih kue berbentuk kepala beruang putih dari tangan sang bunda.
Melihat kebahagiaan mereka Nana tersenyum apalagi ke arah Abian. Ia memang merasa kagum dengan sosok lelaki itu. Sosok suami dan ayah yang luar biasa. Ia selalu berdoa semoga suatu hari nanti bisa memiliki suami seperti kakak iparnya itu.
Akhirnya keempat penghuni rumah tersebut berjalan menuju ruang keluarga dengan pelayan membawakan teh serta susu hangat untuk teman menikmati kue yang dibawa Queenza.
"Love love love," ujar Tatjana dengan wajah riang tak lupa kepalanya yang bergerak ke kanan dan ke kiri mengekspresikan kebahagiaannya.
"Gak boleh makan banyak-banyak, ya. Nanti giginya bolong."
Bocah itupun cemberut mendengar ucapan sang bunda.
"It's oke." Abian mengusap kepala Tatjana. "Nanti lagi ya, untuk snack time sore. Gimana?"
"I love Ayah."
"Uhhhhh, sama Bunda gak love?" tanya Queenza cemberut.
"Love Bunda juga. Love Kak Nana juga. Love banyak-banyak." Tatjana merentangkan tangannya dengan wajah menggemaskan membuat semua orang tertawa.
Saat tengah menikmati pagi yang hangat, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Ayana yang menangis memeluk Queenza. Adik sambungnya itu tampak berantakan yang membuat sang kakak merasa terkejut.
"Allah, ada apa denganmu, Aya?" tanya Queenza terkejut melihat ada luka di ujung bibir, sang adik.
"Kak, tolong aku. Mas Saad telah memukulku," ujarnya menangis ketakutan.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Queenza terkejut. Begitu juga Abian dan Nana.
"Apa yang terjadi, Aya?" tanya Abian.
Ayana pun bercerita pada kakaknya. Ia berkata hubungan rumah tangganya dengan Saad sedang tak baik-baik saja. Lelaki itu tiba-tiba menjadi sosok yang kasar dan suka memukul. Bukan hanya kali ini saja lelaki India itu melakukan pemukulan, tetapi sudah sering. Namun, kali ini ia tak kuat hingga akhirnya dia kabur.
__ADS_1
"Kak, tolong rahasiakan dulu dari Mama dan Papa. Aku takut mereka syok," mohon Ayana dengan air mata yang terus berjatuhan.
"Saad sialan! Berani sekali dia melakukan ini pada adikku!" rutuk Queenza mengepalkan tangannya. "Kamu tenanglah, aku akan habisi dia karena telah berani melakukan ini padamu." Ia usap rambut adiknya dengan penuh kasih sayang.
Emosi sang harimau betina yang telah tertidur, kini bangun kembali saat melihat adik kesayangannya diperlakukan buruk. Ia berjanji akan benar-benar memberi perhitungan pada laki-laki itu, meski dia adalah kakak dari sahabatnya.
Malam pun tiba. Queenza berjalan menuju kamarnya setelah menidurkan Tatjana. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar seseorang menangis. Ia tahu suara siapa itu dan memutar langkahnya menuju kamar Ayana. Queenza memang meminta Ayana untuk tinggal sementara di kediamannya sampai ia merasa tenang dan memutuskan apa yang akan ia lakukan. Mereka juga membawa Ayana ke rumah sakit untuk melakukan visum sebagai bukti jika memang Ayana ingin menuntut Saad ke ranah hukum.
Queenza mengetuk pintu, lalu membukanya. Terlihat Ayana tengah duduk di lantai dengan menyembunyikan wajahnya.
"Aya, are you okay?" tanya Queenza.
Ayana menoleh dan tangisannya semakin terisak.
"It's okey, it's okey." Queenza memeluk sang adik dengan mengusap rambutnya yang panjang itu.
"Kenapa hidupku seperti ini, Kak? Aku telah mencoba membuka hati padanya, tetapi ini balasan atas cintaku?" tanya Ayana dengan sesegukkan.
"Aya ...." Hati Queenza mencelos. Ia sungguh tak tega melihat adiknya yang disakiti seperti ini. "Kita laporkan saja dia pada polisi, ya?"
"Jangan, Kak. Aku takut ini semua terekspos dan aku takut Mama Papa tahu," jawabnya dengan sedikit panik.
"Tapi ini keterlaluan, Aya. Laki-laki yang kasar seperti dia harus diberi pelajaran. Aku tidak tega padamu," ujar Queenza menatap sedih dengan keadaan sang adik.
"Beri aku waktu untuk berpikir, Kak. Aku benar-benar tidak bisa berpikir harus berbuat apa sekarang," ujarnya lirih.
"Baiklah, kamu jangan takut. Kakak akan selalu di sampingmu. Sekarang kamu istirahat." Queenza pun membawa sang adik naik ke atas ranjang, lalu membaringkan dan menyelimutinya. Tak lupa ia kecup keningnya. "Tidurlah. Semoga besok keadaanmu lebih baik. Kita bicarakan lagi nanti. Kakak kembali ke kamar dulu, ya."
Setelah menenangkan Ayana, Queenza pun melangkah keluar kamar. Sebelum pergi, ia tatap kembali ranjang di mana sang adik berbaring.
Saad, kau benar-benar nyari mati dengan Queenza Safaluna! batin Queenza dengan mengepalkan tangannya.
_________
Assalamualaikum, Gaesss. Finally, Othor balik lagi. maafkan yang tiba-tiba menghilang. kegiatan dumay cukup menyita waktu untuk menulis. InsyaAllah novel ini akan tetap lanjut so pantengin terus, ya.
Oh ya, novel Queenza ini mengikuti event. So please, dukung Author dengan memberikan vote. jangan lupa buat Komen, like dan beri ulasan ya. biar Author semangat nulisnya. biasanya suka semangat gitu up kalau banyak yang Komen.
__ADS_1