
Air mata Ayyara tak henti mengalir saat sidang putusan dibacakan. Gugatan perceraiannya diterima dengan alasan Abian telah mengkhianatinya. Ia terpaksa melakukan itu semua agar sang suami bisa terbebas. Hatinya sungguh hancur dengan keputusan itu. Baru satu tahun ia mengarungi bahtera rumah tangga, tetapi pada akhirnya harus kandas juga.
Wanita cantik itu menatap akta percerainnya. Mau tak mau ia harus terima karena ini adalah keputusannya. Ia menatap seseorang yang kini tersenyum padanya.
"Puas?" tanya Ayyara menghapus air mata.
"Lumayan," jawab Queenza melipat tangannya. "Oke, sekarang aku akan menjemput ayah calon anakku. Good job, adikku Sayang." Ia menepuk bahu Ayyara. "Oh, ya. Ada hadiah untukmu." Wanita cantik itu memberikan kotak cukup besar pada Ayyara, setalah itu ia hendak pergi. "Apa yang kamu lihat itu semua kenyataan. Aku tidak pernah memfitnah seseorang." Setelah itu ia pergi meninggalkan sang adik sambung yang menatap dirinya.
Dengan kuasa, semua teratasi dengan mudah. Seperti halnya membebaskan Abian, tak sampai satu minggu lelaki itu terbebas karena untuk Queenza itu terlampau mudah. Dengan uang segalanya akan teratasi dengan cepat.
"Welcome back, Bian." Queenza tersenyum merentangkan tangan, sedangkan lelaki itu menatap tajam wanita di depannya.
"Aku lebih baik membusuk di penjara daripada berpisah dengan Ayya!"
"Sayangnya istrimu eh salah, maksudku mantan istrimu tak sekuat kamu yang mempertahankan hubungan kalian. So, lebih baik kita bicarakan pernikahan kita. Setidaknya anak ini akan memiliki keluarga utuh, kan?" tanya Queenza mengusap perutnya.
__ADS_1
"Dalam mimpi pun tidak akan aku menikahimu!" ujar Abian menatap tajam Queenza.
Wanita itu mendekatkan wajahnya. "Kamu tahu kenapa mamaku memberi nama Queenza? Karena aku adalah seorang ratu. Ratu yang bisa mendapatkan apa pun yang aku mau, termasuk kamu, Bian," ujarnya dengan senyuman penuh penekanan. "Jangan lupa kamu sudah menyetujui syarat untuk keluar dari penjara dengan menikahiku. Jika melanggar, jangan salahkan aku lagi yang akan menghancurkan hidupmu."
"Habisi saja sekalian aku, Queenza! Aku muak mengikuti permainanmu. Bahkan aku tidak tahu apa salahku padamu sehingga kau buat aku seperti ini."
"Oh kamu ingin melihat kehancuran Ayyara? Jika kamu ingin seperti itu, akan aku lakukan. Kamu pasti tahu kan ucapanku bukan hanya bualan semata."
Abian menggeleng, lalu melangkah pergi meninggalkan wanita itu.
"Ingatlah, waktumu hanya satu minggu dari sekarang," kata Queenza pada lelaki yang terus melangkahkan kakinya.
Ayyara menutup mulutnya saat setelah membaca diary sang tante. Queenza memang memberikan buku harian sang mama agar Ayyara tahu bahwa dendamnya tak sekadar karena sang papa yang menikah lagi, melainkan setelah tahu bahwa keduanya menjalin hubungan sebelum sang mama sakit.
"Ya Allah apakah ini benar?" tanyanya tak menyangka. "Papa dan Mama benar-benar mengkhianati Tante Charlotte? Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Mama, kenapa Mama melakukan ini? Tante sudah begitu baik pada kita, Ma."
__ADS_1
Dibalik kesedihannya, tiba-tiba bel apartemennya berbunyi. Ayyara berjalan untuk membuka pintu. Ia sedikit tersentak saat seseorang memeluk dirinya.
"M-Mas Bian," lirih Ayyara terkejut.
"I miss you, Ayya." Abian memeluknya dengan begitu erat. Untuk sesaat, Ayyara terlena dengan memeluk balik mantan suaminya itu. Namun, ia kembali sadar bahwa kini mereka bukanlah suami istri lagi sehingga wanita itu melepas pelukannya.
"Maaf, Mas. Kita sudah tidak punya hubungan lagi. Lebih baik Mas pergi," ujar Ayyara membuang muka dengan air matanya terus terjatuh.
"Ayya, aku tidak rela atas perpisahan ini. Aku masih sangat mencintaimu. Ayo kita kembali," kata Abian yang membuat Ayyara menoleh.
"Jangan egois, Mas. kita sudah resmi bercerai dan kamu harus tanggung jawab dengan kehamilan Kak Queen. Aku mohon, jangan jadi pengecut."
"Aku tidak mencintai Queenza, Ayya! Bagaimana bisa aku menikah dengannya?" tanya Abian pada mantan istrinya tersebut.
Ayyara tersenyum kecut mendengar perkataan lelaki di depannya. "Tidak mencintainya? Lalu kenapa di saat kita bercinta, Mas selalu menyebut namanya? Bukan hanya karena Kak Queen aku menceraikanmu, Mas. Tapi karena itu juga. Sakit saat kita sedang bercinta justru Mas memanggil nama wanita lain. Aku tidak ingin terus menerus menahannya. Cukup Mas, jangan pernah menemuiku lagi!" Dengan hati yang hancur, ia masuk dan mengunci pintu.
__ADS_1
"Ayya! Aku mohon, beri aku kesempatan. Aku tidak mau berpisah denganmu, Ayya!" Abian terus menggedor pintu berharap mantan istrinya itu membuka. Namun, sudah? setengah jam menunggu, Ayyara tak kunjung membukanya, hingga akhirnya ia pergi.
"Maafkan aku, Mas. Ini yang terbaik untuk kita." Ayyara menangis berjongkok dibalik pintu. Ia sangat tak tega pada Abian, tetapi jika ia terlena, sia-sia saja proses perceraian kemarin dan ia juga tak ingin semua kembali berantakan dan merusak banyak hal. Biarlah hatinya yang terluka tetapi keadaan kembali baik.