Queenza

Queenza
Bab 62


__ADS_3

Terdengar keributan di dalam kediaman Queenza. Saat mereka tengah bercengkraman selepas makan malam, tiba-tiba mansion mewah itu kedatangan tamu yang tak mereka harapkan. Siapa lagi kalau bukan Saad. Lelaki keturunan India itu memang sengaja datang untuk menjemput istrinya. Namun, tak semudah itu Saad bisa membawa Ayana, apalagi harus berhadapan dengan Queenza Safaluna Kusuma. Wanita berwatak keras juga si sumbu pendek itu pasti tak akan membiarkan adiknya dibawa okeh laki-laki pengecut itu.


"Aku sungguh tidak sengaja menamparnya. Aku sungguh menyesal, Queen," ujar Saad ketika harus berhadapan dengan sang nyonya rumah.


"Tidak sengaja?" Queenza tertawa sinis. "Apa yang Ayana lakukan hingga kamu berani memukulnya? Kamu tahu kan, laki-laki yang memukul wanita itu banci!"


"Aku tersulut emosi karena ucapannya. Sungguh, aku tidak berniat memukulnya. Aku sangat menyesal. Aku mohon, pulanglah, Ayana. Aku sangat mencintaimu. Aku janji akan melupakan kejadian kemarin. Aku akan menerima segalanya," kata Saad penuh permohonan.


"Aku mau kita pisah! Kamu kasar, Mas! Kamu sudah memukulku," jawab Ayana akhirnya.


"Kamu tahu persis hal apa yang membuat aku marah, Ayana! Apa aku harus mengatakan pada kakakmu?" tanya Saad menatap istrinya yang langsung terlihat panik.


"Pergilah, Mas! Aku tidak ingin kembali padamu. Sudah cukup apa yang kamu lakukan padaku!"


Setelah berkata seperti itu, Ayana melangkahkan kakinya menuju kamar dengan Saad terus memanggil namanya.


"Pergilah. Aya sudah tidak mau denganmu," ujar Queenza dengan tatapan sinis.


"Queen, bujuk dia untuk kembali. Aku benar-benar tidak sengaja menamparnya kemarin. Itu pun tidak terlalu kencang. Aku hanya emosi mendengar kata-katanya. Kamu tahu sendiri aku tidak pernah berlaku kasar pada wanita," bujuk Saad pada sahabat adiknya itu.


"Pergi, Saad! Jika aku tak memandang Shraddha sahabat terbaik, sudah aku habisi kamu! Berani-beraninya kamu melakukan KDRT dengan adikku."


"Queen, kalian salah paham. Sungguh, kembalikan Ayana padaku atau kamu akan menyesal."


"Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu itu?" tanya Queenza kesal.


"Pergi atau aku hubungi polisi? Aku tak peduli seberapa hebat ayahmu. Akan kupastikan kau habis di tanganku jika berani memaksa Aya untuk kembali," kata Queenza dengan kesal.


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi, ingatlah untuk berhari-hari pada adikmu itu. Aku memintanya kembali untuk kelangsungan rumah tanggamu juga."


"Memang apa yang akan dilakukan Ayana?" cibir Queenza. "Pergi, Saad!"


Akhirnya Saad pun pergi dari mansion Queenza. Setelah itu, semua bubar dengan pikiran yang berkecamuk.


"Berani-beraninya dia berkata hal tak masuk akal! Aku tidak menyangka Saad yang terlihat baik bisa melakukan tindakan KDRT. Seburuk apa pun wanita, apa harus dihajar seperti itu?" umpat Queenza dengan emosinya.


"Mas!" pekik Queenza saat tiba-tiba Abian memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Kamu ini mundar mandir saja, aku pusing melihatnya, Sayang," kata Abian membawa istrinya untuk duduk di atas ranjang.


"Aku sebal dengan lelaki kasar itu," sungut Queenze dengan wajah yang terlihat menggemaskan untuk Abian.


"Mas! Bisa-bisanya mencari kesempatan. Aku sedang emosi!" gerutu Queenza yang menepuk tangan Abian.


"Kamu menggemaskan saat mengomel begitu. Terlihat ... seksi." Dengan lembut, lelaki tampan itu mencium bibir istrinya. Bibir yang selalu berkata pedas itu nyatanya memiliki rasa manis untuk Abian rasakan.


Queenza sendiri hanya bisa menutup mata menikmati ******* yang suaminya berikan. Bahkan ia mengalungkan tangannya di leher Abian.


"You are so sexy, my wife," bisik lelaki itu dengan suara serak menahan gairah.


Dengan pelan, Abian membaringkan tubuh semapai istrinya. Ia tatap bola mata kecoklatan itu dengan sangat lembut. Ia usap pipi Queenza, membuat sang pemilik menutup matanya.


"Aku beruntung memilikimu, Sayang." Sekali lagi, kedua indera pengecapan mereka bertautan, saling bertukar saliva dengan perasaan yang seakan meledak.


"I love your body," bisik Abian mencium leher istrinya hingga Queenza melenguh.


"I love your emotional." Tangan lelaki itu pun tak bisa tinggal diam untuk menyentuh keindahan ciptaan Tuhan tersebut.


"Abian," lirih Queenza mencengkram rmabut suaminya yang kini tengah bermain di area di mana sunber makanan Tatjana saat bayi dulu. Queenza sungguh dibuat melayang dengan perlakuan Abian yang tak pernah membuatnya kecewa.


"Yes, call my name, Baby. Just call my name."


Malam indah itupun kembali menjadi saksi atas penyatuan cinta sepasang suami istri yang saling mencintai. Keduanya larut dalam sensasi luar biasa yang tak pernah membuat mereka bosan. Meski dulu keduanya bersatu atas dasar balas dendam, tetapi takdir justru membuat mereka menjadi pasangan yang saling mencintai dan saling ketergantungan.


Keduanya tertawa kecil saling menatap setelah aktivitas berkeringat itu usai. Keduanya saling berpelukan sembari mengembalikan energi yang terkuras. Queenza sendiri begitu nyaman berbaring dalam pelukan suaminya.


"Makasih ya, Mas, karena sudah mengalihkan emosiku," ujar Queenza tertawa kecil.


"Itulah salah satu gunanya memiliki partner hidup, Sayang. Saat marah, ada orang yang mengalihkannya ke aktivitas menyenangkan," jawab Abian tersenyum mengusap punggung istrinya.


"Jangan diusap-usap gitu dong, Mas. Aku merinding," keluh Queenza.


"Tenang saja, nanti Mas tanggung jawab."


"Itu sih maunya Mas," ejek wanita berambut cokelat itu.

__ADS_1


"Kayak sendirinya gak mau aja. Padahal barusan ada yang teriak-teriak manggil Bian oh Bian."


"Mas, ih!" Dengan manjanya Queenza memukul dada sang suami.


"Udah mulai kesal belum? Kalau sudah mulai kesal, mau Mas alihin lagi."


"Ish, dasar mesum!"


Abian hanya tertawa mendengar kata-kata sang istri. Ia peluk dengan gemas wanita pemilik hati, pikiran dan tubuhnya itu.


"Mas!" pekik Queenza saat tiba-tiba Abian menyatukan kembali tubuh mereka tanpa aba-aba.


"Kamu benar-benar bikin aku tidak tahan, Sayang."


Queenza pun akhirnya pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya. Ia hanya bisa menikmati permainan yang membuatnya serasa dibawa terbang ke nirmala. Cukup lama mereka melakukan aktivitas itu hingga tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk membuat keduanya saling tatap.


"Ayah! Bunda!" Terdengar suara Tatjana dibalik pintu penghubung kamar mereka. "Aku mau tidur dengan Ayah dan Bunda."


"Mas, Tatjana," ujar Queenza.


"Ya ampun, kenapa dia mengganggu di saat akan sampai sih," keluh Abian.


"Mas, berhenti. Itu Tatjana manggil-manggil," omel Queenza karena Abian masih saja menggerakkan tubuhnya.


"Tanggung, Sayang."


"Ck!" Dengan sekali hentakan, Queenza mendorong tubuh suaminya.


"Queen!"


"Maaf, Mas. Aku kaget itu Tatjana nangis. Kita lanjutin nanti, ya. Kasihan anak kita," kata wanita itu tersenyum kaku. Ia tak sadar dorongannya itu membuat sang suami terjatuh ke lantai.


"Untung cinta." Abian berdiri, lalu mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai lalu mengenakannya. Begitu juga Queenza.


"Kenapa ganggu Ayah Bunda sih, Ana," keluh Abian lagi. Ia merasa apes karena tinggal sedikit lagi mencapai puncak, tiba-tiba dijatuhkan begitu saja oleh anaknya sendiri.


Nasib, nasib.

__ADS_1


__ADS_2