
Ayyara sungguh ketakutan. Setelah apa yang dia lakukan pada Queenza, ia sangat tahu bahwa kakaknya itu akan membalas jauh lebih kejam dari apa yang ia perbuat. Bahkan untuk bernapas pun ia tak berani. Wanita itu terperanjat kaget saat Queenza berdiri dari duduknya, lalu melangkah dengan senyuman yang sangat menakutkan seperti iblis.
"Well, kamu masih memiliki nyali untuk menculik anak kesayanganku?" tanya Queenza dengan raut wajah yang sangat dingin, hingga Ayyara susah menelan salivanya.
"Ba-bagaimana mungkin aku menculik Ana. A-aku ke sini ka-karena ingin kembali dengan Saad," ujar Ayyara mundur secara perlahan. Ia berbalik hendak membuka pintu, tetapi pintu terkunci.
"H-Hey, open the door!" teriak Ayyara menggedor pintu tersebut yang justru membuat Queenza tersenyum sinis.
"Mau ke mana, Ara adikku sayang?" Queenza mencengkram kerah leher belakang.
"Kak, ampun Kak. Maafkan aku." Ayyara berbalik dengan air mata terjatuh. Namun, tiba-tiba tangannya meraih tangan Queenza yang mencengkram kerahnya, lalu menghempaskan dengan kuat. "Itu kan yang kamu mau? Aku memohon ampun?" Ayyara tersenyum sinis. "Aku tidak takut padamu, Queenza! Bahkan jika kau akan mmebunuhku sekalipun!" sentaknya menatap sang kakak penuh kebencian.
Queenza tertawa meremehkan. "See? Dia ini memang memiliki kelicikan sama seperti orang tuanya. Penuh dengan kemunafikan!" ujarnya menatap Saad dan Shraddha.
__ADS_1
"Kau yang membuatku seperti ini! Kau yang selalu merebut apa yang aku miliki!" sentak Ayyara pada Queenza. "Sejak kecil aku selalu iri padamu yang memiliki keluarga sempurna. Orang tua yang lembut, harta yang bergelimang, selalu dipuja oleh banyak orang. Bahkan saat kau terpuruk atas kematian Tante Charlotte masih saja merebut kasih sayang mama dan papa!" katanya lagi.
"Siapa yang merebut siapa? Kau tahu betul itu!" bentak Queenza menyalang. "Bahkan ibumu merebut suami ibuku hingga ibuku sakit dan meninggalkanku selamanya. Belum lagi saat ia pergi, kalian hidup dengan bahagia sedangkan aku harus berjuang sendiri hidup di negara asing tanpa siapa pun! Di sini siapa yang perebut?" tanyanya.
"Kamu egois, Kak! Kamu yang meminta pergi, bahkan menolak cinta yang kita berikan padamu. Dan sekarang kamu bilang kami tak memedulikanmu?" tanya Ayyara dengan air mata yang sudah luruh. "Kau tahu, melihatmu berjuang sendiri membuatku hancur. Aku ingin sekali memelukmu dan bilang kamu tidak sendiri Kak, ada aku. Tapi apa yang kamu balas? Sebuah makian dan pengusiran. Demi melihatmu, aku bahkan rela melupakan kehidupanku. Setiap libur sekolah aku selalu datang untuk mengunjungimu, mencoba menghiburmu."
Dada Ayyara terasa sesak mengingat bagaimana ia selalu berusaha kembali dekat dengan Queenza tetapi justru pengabaian yang ia terima. Sakit, saat ditolak oleh orang yang dicintainya.
"Sejak dulu aku berusaha meluluhkan hatimu, mencoba kembali menjadi adik yang kamu cintai. Tapi apa yang kamu balas? Kamu merebut lelaki yang sangat aku cintai. Kau merebut separuh hidupku atas kesalahan yang tidak aku perbuat, Queenza! Aku selalu menempatkan namamu di atas, tapi bagaimana dengan aku? Bahkan aku masuk dalam list orang yang kamu harus hancurkan," ujarnya penuh luka.
"Sekarang, kau bebas mau melakukan apa pun padaku, bahkan membunuhku sekalipun aku tak takut! Aku sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang. Keluarga, suami, bahkan anak pun aku tak punya. Jadi, aku tak peduli sekalipun kau membunuhku!" sentak Ayyara dengan tatapan tak berdayanya.
"Tapi, sebelum aku kau habisi, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Kak Queen. Aku tak akan pernah lupa dengan apa yang kita lalui dulu. Aku selalu merindukan momen di mana kamu memelukku dan berkata kamu adalah adik kesayanganku. Jangan menangis," ujarnya dengan air mata yang terus terjatuh. "Jujur, keadaan kita sekarang adalah hal mengerikan yang tak pernah aku bayangkan. Aku merindukanmu Kak Queen."
__ADS_1
Queenza terdiam menatap Ayyara yang terluka. Ia sadar, sejak dulu ia selalu membenci bahkan memperlakukan Ayyara dengan sangat buruk padahal adiknya itu selalu berusaha dekat dengannya, berusaha memperbaiki kembali hubungan mereka. Namun, Karena kebenciannya pada Sarah dan Aarav membuat Queenza pun membenci Ayyara yang tinggal dan hidup bersama dua orang itu.
Kini, ia baru tahu sedalam apa luka yang ia torehkan pada adiknya hingga Ayyara, wanita yang terkenal lembut dan penyayang berubah seperti wanita yang tak punya hati.
"Ayya!" teriak Saad terkejut melihat Ayyara memegang pistol di tangannya dan mengarahkan pada Queenza.
"Selamat tinggal, Kak. Semoga hidupmu lebih baik lagi ketika dendammu terbalaskan dengan kematianku. Maafkan Mama dan Papa. Kembalilah menjadi Kak Queenza yang sehangat mentari," ujar Ayyara tersenyum dengan sangat manis.
"Araaaaaa!" teriak Queenza saat satu letusan pistol terdengar.
Ayyara menembak dirinya sendiri hingga tubuhnya limbung seketika.
"Ara, Ara." Queenza panik melihat darah yang mengalir di dada adiknya itu.
__ADS_1
Ayyara tersenyum dengan air mata yang tak henti mengalir, serta tangannya yang terus terangkat mencoba mengusap wajah kakaknya yang sejak lama ia rindukan.
"Ma-maaf." Hanya itu yang Ayyara katakan sebelum matanya terpejam.