
"Nana ikut ke Switzerland?" tanya Ayyara terkejut. Kini semua penghuni kediaman Queenza tengah berkumpul untuk sarapan dan Queenza mengatakan bahwa Nana akan melanjutkan kuliah di Bern.
"Iya, memang sejak awal Nana akan kuliah di Bern, tapi karena dia belum siap makanya dipersiapkan dan kini dia sudah siap. Iya 'kan, Na?" tanya Queenza.
Nana pun hanya tersenyum dan mengangguk. Meski berat, ia harus menurut pada kakak angkatnya itu. Memang ini yang terbaik untuk semuanya, terutama hubungan dirinya dan sang kakak.
Berbeda dengan Nana, Ayyara justru tampak gembira sebab semua orang akan pergi kecuali Abian. Ini kesempatan emas untuk merebut kembali hati lelaki itu.
Sepanjang hari Queenza dan Nana sibuk mengemasi barang. Apalagi Nana yang baru diberitahu tadi malam. Ia sampai bingung barang apa saja yang akan dibawa.
"Bawa keperluanmu saja, Na. Untuk dokumen, makanan dan lainnya sudah Kakak siapkan," ujar Queenza saat menemui adiknya.
"Kak," panggil Nana.
"Kenapa?" tanya Queenza menatap tangannya yang digenggam Nana.
"Terima kasih atas semuanya. Terima kasih karena sudah memberiku keluarga. Aku janji akan membanggakan Kakak, aku janji akan memberikan hidupku untuk menebus semua kebaikan Kakak yang sebenarnya tidak bisa aku gantikan dengan apa pun. Maafkan kesalah yang Aku buat. Maaf karena telah lancang ...." Tangisnya pecah saat inginnberkata hal yang pasti membuat keduanya sakit.
Dengan cepat Queenza memeluk adiknya itu. "Aku janji akan menghapus perasaan menyebalkan ini. Aku janji tidak akan akan mengkhianati Kakak. Aku janji akan tetap menjadi adiknya Kak Queen," ujar Nana sambil menangis sesegukkan.
__ADS_1
"Kamu memang adikku, Na. Kakak percaya padamu. Sudah, jangan menangis. Kamu harus bahagia di sana. Jalani hidupmu dengan hal-hal baru. Bertemanlah dengan siapapun yang membawa kebaikan. Ingat, jaga dirimu." Queenza mengusap air mata yang jatuh di pipi adiknya yang cantik itu.
Setelah selesai membantu berkemas, Queenza berjalan menuju ruang kerja. Maryam telah datang dan menunggu di sana.
"Bagaimana?" tanya Queenza yang duduk di kursinya.
"Ini laporan untuk sampai hari ini. Pak Narapati hanya mencoba mengambil kolega kita juga menyebarkan sedikit rumor tentang kinerja Travellezia," jawab Maryam.
Queenza tersenyum sinis mendengarnya. Narapati memang memiliki perusahaan travel seperti Queenza, meski tak sebesar milik anak Charlotte tersebut. Perusahaan Narapati masih belum memiliki aplikasi digital, sehingga tak sehebat milik Queenza dan kini, ia mencoba mengalahkannya. Sungguh membuat Queenza ingin terbahak.
"Katakan pada Mario untuk terus mengawasi. Dari Zurich saya akan mencoba menghancurkan perusahaannya," ujar Queenza tertawa sinis. "Kau ingin menghancurkan keluarga Kusuma dan Weber? Langkahi dulu rambutku!"
"Menghadapi seorang Narapati Kagendra tak sesulit itu, Maryam. Aarav Kusuma saja bisa aku kalahkan, apalagi lelaki macam Narapati. Hanya memiliki obsesi tanpa bisa mengolahnya dengan baik. Sama seperti anaknya," jawab Queenza.
Maryam hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah itu, ia pamit untuk kembali ke kantor dan Queenza sendiri menuju kamar Ayyara.
"Ada apa, Kak?" tanya Ayyara.
"Kamu gak berkemas?" tanya Queenza balik.
__ADS_1
"Berkemas? Memang aku mau ke mana?" tanya wanita cantik itu.
"Aya, kami semua akan pergi, apa kamu tidak akan kesepian di sini? Lagipula tidak baik kamu dan Mas Bian tinggal satu atap, meski kalian ipar. Jadi, lebih baik kamu berkemas dan kembali ke rumah orang tuamu," ujar Queenza tanpa basa basi.
Mendengar perkataan Queenza, Ayyara sedikit geram dan merasa jengkel. Akhirnya ia pun berkemas untuk pergi dari mansion.
"Bukan kakak mau ngusir, tapi seperti kurang baik kalian tinggal bersama. Takutnya ada gosip jelek tentangmu. Kalau kakak sih masa bodo mau Ada gosip apa pun. Tapi menjaga nama baikmu sangat pentik, 'kan? Kamu kan artis papan atas," ujar Queenza melipat tangan di atas perut.
"Iya, Kak. Aku tahu," jawab Ayyara tersenyum ... paksa.
"Baiklah, Kakak juga akan siap-siap."
Queenza pun pergi dari kamar Ayyara. Setelah tak ada wujdunya, Ayyara membantik bantal yang berada di pangkuannya. Ia sangat kesal sebab Queenza tak mengizinkan ia tinggal di mansion.
"Aku masih bisa merebut Mas Bian tanpa tinggal di sini!" katanya dengan kesal.
Di balik pintu, Queenza tersenyum dengan melipat tangannya. "Tak semudah itu merebut milik Queenza Safaluna meski kau harus reinkarnasi 100 kali." Wanita cantik dengan balutan gaun kasual itu pun berjalan meninggalkan kamar adik sekaligus rivalnya itu.
Bonus visual Nana alias Naysilla Ruby
__ADS_1