
Hari berlalu begitu saja. Kediaman yang baru merasa tenang, kini kembali mengalami konflik atas rumah tangga Ayana dan Saad. Mau tak mau Queenza juga Abian ikut campur sebab Ayana tinggal di kediaman mereka.
Berulang kali Abian meminta sang istri untuk mengembalikan Ayana pada kedua orang tua mereka. Ia sungguh merasa tak enak hati tinggal satu atap dengan mantan istri, meskipun ia adalah adik sambung istrinya sekarang. Namun, Queenza keukeuh akan menolong Ayana sampai urusan rumah tangganya selesai.
"Aku hanya ingin menebus kesalahanku karena telah merebutmu darinya, Mas." Itulah kata Queenza saat Abian bertanya kenapa dia begitu getol membantu Ayana.
Abian sendiri tak bisa berbuat apa-apa sebab sudah tahu watak istrinya yang keras kepala. Ia hanya bisa berdoa semoga kebaikan istrinya tak menjadi hal buruk untuk mereka kelak di depan.
Kini, wanita cantik itu tengah sibuk di kantor. Seperti biasa, di akhir bulan ia akan sibuk karena banyak laporan yang harus diperiksa bahkan terkadang ia harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Queenza meraih gagang telepon, lalu menghubungi asistennya. "Maryam, ke ruangan saya."
"Baik, Miss."
Tak lama panggilan terputus, seorang wanita dengan blazer hitam serta kacamata bulatnya berdiri di hadapan Queenza.
"Duduklah," kata sang direktur utama pada orang kepercayaannya itu.
Maryam pun duduk dengan menatap sang atasan dengan serius.
"Periksa ini." Queenza menyerah sebuah map pada orang kepercayaannya itu. Maryam pun memeriksa dengan seksama.
"Sepertinya ada yang janggal," ujar Maryam yang masih fokus memeriksa lembar per lembar kertas di tangannya.
"Ternyata bukan mataku yang salah," sahut Queenza menyandarkan tubuhnya di kursi. "Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?" tanyanya dengan menatap wanita di depannya.
"Tentu, Miss. Kalau begitu, saya permisi." Maryam pun beranjak dan berlalu dari ruangan berukuran dua puluh meter persegi itu.
Queenza menutup mata dengan menggoyangkan kursinya. "Ada juga yang berani korupsi di kantorku," katanya dengan senyuman sinis. "Cari mati dia dengan Queenza Safaluna." Ia ketuk-ketukkan kedua jarinya.
Wanita cantik dengan kemeja satin berwarna merah muda itu pun menegakkan tubuh ketika mendengar ponselnya berdering. Dengan cepat ia mengangkat sebab sang adik angkat yang menelepon.
__ADS_1
"Ada apa, Na?" tanya Queenza.
"Kak, mobilku mogok. Gimana ya? Pak Reno lagi sama Kakak kah?" tanya Nana dengan suara bingungnya.
"Loh, kok bisa mogok? Itu kan mobil baru?" tanya Queenza keheranan.
Sejak dua bulan ini memang Nana membawa mobil sendiri. Mobil listrik keluaran Eropa itu dibelikan Queenza di hari ulang tahun Nana yang ke 21 tahun. Awalnya Nana menolak mobil dengan harga miliyaran tersebut. Namun, Queenza berkata bahwa itu adalah bukti sayang dia pada sang adik, hingga akhirnya Nana pun menerima.
Akan tetapi, baru dua bulan dipakai kenapa mobilnya bisa mogok?
"Hehehe aku lupa ngecharge tadi malam. Baterainya habis," jawab Nana tertawa kikuk.
"Astagfirullah, Nana. Kamu ini. Kapan sih cerobohnya hilang?" geram Queenza memijat dahinya.
"Maaf, Kak. Nana bener-bener lupa," ujar gadis itu dengan tak enak hati.
"Kamu di mana sekarang?" tanya Queenza.
"Sepertinya Mas Bian lagi di daerah situ deh. Nanti Kakak hubungi untuk menjemputmu. Kamu diam-diam di sana." Sang ratu pun mengultimatum.
"Iya, Kak," jawab Nana merasa lega. Setidaknya ia tidak akan terjebak di sana.
Setelah itu keduanya memutuskan panggilan. Lalu Queenza menelepon sang suami yang memang tengah berada di Bintaro.
"Mas buruan jemput, ya. Kasihan dia. Mana katanya sepi sama mau hujan," ujar Queenza khawatir setelah menjelaskan keadaan Nana yang mobilnya kehabisan daya.
"Iya, Sayang. Kebetulan Mas deket situ. Gak sampai 10 menit juga sampe. Kamu jangan khawatir," jawab Abian menenangkan istrinya. Wanita cantik itu memang akan sangat khawatir jika menyangkut Nana juga Tatjana.
"Oke. Hati-hati, ya. See you later. Love you."
"Love you too, My wife."
__ADS_1
Setelah itu panggilan terputus. Dan Queenza kembali menghubungi Nana untuk keluar mobil karena Abian akan menjemputnya. Gadis itu pun menurut, tetapi bodonya dia, dia lupa mengambil tas yang berisi barang-barang termasuk kunci mobilnya. Saat ia keluar, hujan pun turun dengan derasnya.
"Astaga, bodoh sekali kamu, Na!" umpat gadis itu saat ia hendak membuka pintu, tetapi pintunya terkunci secara otomatis. Ia tengok kanan kiri tak ada tempat berteduh dan tubuhnya benar-benar basah kuyup.
Hingga akhirnya sebuah mobil SUV berwarna putih menepi. Nana bernapas lega sebab tahu bahwa itu mobil milik Abian. Gadis itupun buru-buru masuk mobil Abian.
"Kenapa hujan-hujanan?" tanya Abian heran.
"Tadi Kak Queen nyuruh aku keluar karena Mas Bian mau sampai. Aku nurut, eh kelupaan tasku masih di dalam mobil. Tahu sendiri mobil itu kalau udah ditutup pintunya otomatis terkunci. Jadi pas aku kehujanan tadi ya aku gak bisa masuk," jawabnya dengan tawa kikuk.
"Kamu ini, masih saja ceroboh," kata Abian yang melepas seatbeltnya, lalu meraih handuk di jok belakang dan mengusap kepala Nana oleh handuk itu. "Biar kamu gak sakit kepala. Ini hujan pertama kali setelah kemarau. Katanya gak baik untuk tubuh."
Mata Nana berkaca-kaca mendapat perhatian sedemikian rupa. Hatinya terasa menghangat dengan sikap manis Abian. Lelaki itu memang selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Dan sejak lama Nana mengagumi Abian.
"Tunggu sebentar, ya. Mas mau telepon mobil derek untuk membawa mobilmu pulang."
Nana pun hanya bisa mengangguk. Tak lama, Abian berbicara dengan seseorang yang meminta untuk membawa mobil milik Nana tersebut dengan memberitahu alamat juga jenis mobilnya. Setelah itu mobil pun melaju menuju mansion milik Queenza.
Sepanjang jalan, Nana tersenyum sembari menggenggam handuk itu dengan wajah yang berseri. Sesekali ia melirik Abian yang tengah fokus mengemudi, hingga tak sampai satu jam mereka sampai di mansion mewah berlatai empat itu. Abian menghentikan mobil, lalu seorang pelayan membukakan pintu mobilnya. Begitu juga dengan Nana. Keduanya melangkah masuk hunian mewah tersebut.
"Segeralah mandi agar tidak demam," ujar Abian pada gadis manis itu, lalu melangkah menuju kamarnya. Kebetulan hari itu Abian memang pulang cepat sebab tak ada pekerjaan lain. Ia hanya pulang untuk mengganti pakaian karena sudah janji dengan Queenza juga Tatjana akan pergi ke mall. Dia dan sang anak akan ke kantor Queenza untuk menjemputnya.
Sejak lama memang mereka belum jalan-jalan bersama lagi. Karena itu Tatjana selalu merengek dan meminta orang tuanya untuk pergi bersama.
"Wah, anak Ayah sudah cantik. Berarti sudah siap pergi?" tanya Abian yang melihat sang anak tampak begitu menawan seperti ibunya.
"Let's go, Ayah. Kita jemput Bunda," sorak balita itu gembira.
Hingga tiba-tiba Ayana datang menghampiri keduanya.
"Bolehkah aku ikut?"
__ADS_1