Queenza

Queenza
Fantasy Abian


__ADS_3

Tiga hari berlalu, hari di mana Queenza keluar rumah sakit pun tiba. Sejak pagi ia telah bersiap dibantu Maryam. Sejak pagi ia berharap Abian akan datang menjemput, tetapi sampai dokter berkata ia boleh pulang pun lelaki itu tak kunjung datang. Akhirnya wanita hamil tersebut pulang dengan sang asisten.


Sampai di mansion, Queenza berjalan masuk. Terlihat orang tuanya tengah menonton televisi. Ia hanya menatap keduanya yang seakan tak peduli padanya. Hingga mereka menoleh ketika mendengar suara Maryam yang memanggil sang nona.


"Queen, kamu sudah pulang?" tanya Aarav.


Queenza tak memedulikan, lalu berjalan masuk kamar yang diikuti Maryam. Wanita itu menatap kamar yang sejak tiga hari ditinggalkan. Ada rasa rindu mencium aroma sang mama yang begitu menenangkan hatinya.


"Ayyara dan Abian apa ada ke sini?" tanya Queenza pada Maryam.


"Tuan dan Nona dua hari lalu berangkat bulan madu, Nona," jawab Maryam menaruh barang-barang sang atasan.


"Apa?" tanya Queenza tak percaya. Mereka benar-benar pergi dan tak menganggap ancamannya. "Mereka benar-benar meremehkanku," gumam Queenza kesal.


"Apa ada yang Nona butuhkan lagi?" tanya Maryam.


"Kamu bisa pergi. Cek pekerjaan saya di kantor. Jika ada hal penting, kamu bisa datang lagi," jawab Queenza.


"Baik, Nona," kata Maryam patuh. "Untuk obat dan vitamin dari rumah sakit, saya sudah berikan pada Ibu Rahayu. Beliau yang akan mengatur. Saya juga sudah menjelaskan jadwal minumnya."

__ADS_1


"Oke. Kamu bisa pergi sekarang," ujar Queenza.


"Kalau begitu, saya permisi. Selamat beristirahat, Nona." Maryam undur diri lalu pergi dari kamar tersebut.


Queenza beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju balkon dan menatap langit yang begitu cerahnya.


"Masih ada empat hari lagi. Aku akan menunggu keputusanmu, Bian. Jangan buat aku melakukan hal yang tak ingin aku lakukan padamu," ujarnya menatap langit yang begitu biru.


Di Mauritius, tepatnya di kota Grand Baie di salah satu pantai indahnya yaitu Grand Bay, sepasang suami istri tengah menikmati pagi dengan begitu romantis. Keduanya tengah berenang dengan menikmati sarapan dalam kolam renang. Baru satu hari di salah satu negara di Afrika itu keduanya tampak begitu bahagia. Jika kemarin mereka menghabiskan waktu di vila untuk istirahat, hari ini mereka akan berjalan-jalan di area pantai.


Ayyara begitu bahagia karena rencana bulan madunya terlaksana. Meski hanya satu minggu, tetap saja membuatnya begitu beruntung. Abian memang suami idaman yang selalu membuatnya bahagia.


"Mas ganteng," puji Ayyara membuat Abian terkekeh.


"Giliran keinginannya tercapai baru puji-puji. Kemarin-kemarin ke mana coba?" ledek lelaki itu.


"Mas ah," rengek Ayyara memeluk suaminya yang bertelanjang dada.


"Jangan menggoda Mas. Sudah lama nih Mas gak nyentuh kamu," gumam Abian mengusap punggung istrinya yang hanya mengenakan pakaian renang minim bahan. "Kamu seksi dengan pakaian renang ini," bisiknya di telinga sang istri.

__ADS_1


"Masa?" Ayyara justru mengecup dada suaminya hingga lelaki itu menutup mata menahan gejolak.


"Jangan menggodaku, Ayya."


"Bukannya kita ke mari untuk ini?" goda wanita muda itu justru membuat sang suami menoleh dengan senyuman yang mengembang.


"Mandi, yuk. Berenangnya udahan." Abian meraih tubuh istrinya, lalu membawa keluar kolam renang dan dibawa masuk menuju kamar mandi.


Entah mengapa sejak kejadian dengan Queenza ia selalu menggebu dengan cepat, tetapi seperti biasa, bayangan di kepalanya hanya ada Queenza, Queenza dan Queenza. Saat melihat siapa yang ada dalam kungkungannya adalah Ayyara, ia merasa kecewa entah mengapa. Namun, ia juga tak mau mengecewakan sang istri hingga akhirnya melakukan dengan keterpaksaan.


Sama seperti sekarang, Ayyara begitu kelabakan saat sang suami telah menyerangnya dengan begitu ganas. Lelaki itu seakan telah lama tidak melakukan itu sehingga membuatnya terlihat begitu bergairah. Dua hari tak bertemu Queenza, membuat isi kepalanya dipehuni wanita tersebut. Entahlah, hal itu selalu terjadi saat ia ingin bercinta dengan sang istri. Jika hari-hari sebelumnya ia kecewa karena bukan Queenza yang bersamanya, justru kini bayangan wanita itu berada di hadapannya.


Abian seakan menemukan air saat ia haus. Ia tak sadar bahwa yang berada dalam kungkungannya adalah Ayyara.


"Mas, pelan-pelan," lirih Ayyara yang meringis karena Abian terus menggigit gemas tubuhnya.


"Aku sangat merindukanmu, benar-benar merindukanmu," gumam Abian yang masih sibuk dengan fantasynya. "Aku sangat merindukanmu, Queen."


Ayyara yang tengah menikmati permainan suaminya langsung membuka mata saat mendengar panggilan itu. Ia menatap sang suami yang memejamkan mata dengan terus menyebut wanita lain.

__ADS_1


"Oh Queenza," desis Abian membuat hati Ayyara seakan tertimpa batu besar yang membuat dadanya sesak. Ia menutup mulutnya yang akan mengeluarkan isakan. Abian sendiri masih tak sadar dengan kesalahan besar yang ia perbuat sekarang.


__ADS_2