
Queenza berjalan cepat sepanjang lorong rumah sakit. Ia mendapat kabar bahwa sang suami mengalami penurunan hingga membuat wanita itu merasa panik. Ia yang sedang menemani sang anak pun harus terpaksa meninggalkannya dengan berdalih urusan kantor hingga membuat anak kesayangannya menjadi marah sebab sejak satu minggu ini bundanya sangat jarang memberikan waktu.
Queenza yang khawatir akan keadaan suaminya pun hanya bisa meminta maaf lalu pergi. Meskipun Tatjana menangis dan terus merengek.
Sampai di ruang ICU, Queenza menatap dari jendela para dokter tengah sibuk memeriksa suaminya. Ia terus berdoa semoga keadaan Abian baik-baik saja. Tak lama, Dokter keluar dan mengajak wanita cantik itu berbicara di ruangannya. Dokter menjelaskan bahwa keadaan Abian semakin menurun karena sang pasien seperti tak memiliki gairah hidup. Abian seakan betah dengan keadaannya sekarang daripada sadar.
Mendengar itu, hati Queenza begitu sakit. Bagaimana bisa Abian tak ingin hidup. Apakah dia ingin meninggalkannya juga Tatjana? Wanita dengan pakaian kasual itu meminta izin untuk masuk ruang ICU. Suster pun memberikan pakaian khusus dan menyemprotkan cairan alkohol ke seluruh tubuh Queenza dan setelah itu ia bisa masuk. Setelah satu minggu dirawat, ini kali pertama untuk Queenza bertemu suaminya lagi.
Sejak masuk, air matanya sudah luruh. Laki-laki sabar yang selalu ia tak acuhkan selama tiga tahun itu kini berbaring dengan begitu lemah tak sadarkan diri. Isakan tangis terdengar dari bibir Queenza saat melihat wajah tampan itu kini banyak luka karena terkena pecahan kaca. Kepalanya diperban dengan tubuh pun banyak cidera yang terlihat membiru.
Queenza duduk di samping brankar. Dengan tangan gemetar ia raih tangan suaminya yang dipasang alat di jarinya.
"Bian," lirih Queenza. "Bian, ini aku, istrimu yang nakal. Bian, bangun. Jangan buat aku takut." Queenza berhenti berbicara dan kini suaranya hanya bisa mengeluarkan isakan.
"Bian, Tatjana selalu menanyakanmu. Apa yang harus aku jawab? Apa aku harus mengatakan bahwa ayahnya sekarang sedang tertidur dan tak mau bangun? Apa kamu mau membuat anak kita sedih? Ya, dia anak kita, Bian. Anakku dan anakmu, bukan hanya anak Queenza, tapi anak Abian juga. Maafkan aku, Bian. Maafkan aku karena aku sangat egois dan menghukummu dengan begitu berat. Aku sadar semua kesalahan ada padaku."
__ADS_1
Ia sudah tak tahan lagi. Ia lepas genggamannya, lalu berlari keluar. Ia duduk di kursi ruang tunggu dengan membekap mulutnya. Ia sudah tak bisa menahan rasa sakit di hatinya. Rasa bersalah begitu menyelimuti dirinya. Andai ia tak egois dan menyakiti suaminya. Andai ia memaafkan Abian saat lelaki itu meminta maaf dan menyesal. Andai ia memberikan kesempatan untuk sang suami pasti kini keadaan tak seperti sekarang.
Ia bodoh, sangat bodoh. Itulah yang ia rasakan sekarang. Dadanya terasa sesak saat mengingat bagaimana penderitaan Abian selama ini. Hanya bisa memandang tanpa bisa menyentuh. Hanya bisa memendam cintanya tanpa bisa diungkapkan.
"Kamu memang benar, Bian. Aku iblis yang jahat." Queenza terus menangis di sana dengan perasaan yang sakit. Berulang kali ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada suaminya.
"Nyonya bisa terus menyemangati Tuan agar beliau memiliki semangat hidup."
Queenza menoleh ketika seseorang berbicara dengannya. Seorang dokter cantik yang adalah salah satu dokter yang menangani Abian.
"Hidup dan mati seseorang itu di tangan Tuhan. Kita hanya bisa berusaha menjalani hidup jika kita masih diberi napas. Tuan Abian masih bernapas yang berarti masih ada harapan. Namun, untuk sekarang, Tuan begitu betah dengan kondisinya yang sebenarnya sangat berbahaya jika ia tak memiliki semangat untuk hidup. Bisa saja beliau benar-benar pergi," ujar dokter menjelaskan.
"Lalu, bagaimana caranya agar suami saya memiliki semangat hidup lagi?" tanya Queenza.
"Dengan cara memberi semangat, menunjukkan bahwa orang yang dicintainya tak ingin ia pergi. Atau memberikan apa yang ia inginkan yang belum tercapai atau juga mendekatkan orang yang sangat ia cintai. Misalnya istri dan anak. Biasanya pasien yang koma dengan penurunan semangat hidup akan kembali bersemangat saat orang-orang yang dicintai ada di sekitarnya."
__ADS_1
"Anak?" tanya Queenza.
"Jika Tuan sangat menyayangi anaknya, kita bisa coba untuk mendekatkan mereka. Mungkin ini bisa ampuh," ujar Dokter.
Queenza terdiam mendengar perkataan dokter. Teringat kata-kata Abian saat malam di mana ia tidur bersamanya. Abian berkata ia ingin sekali memeluk dan mencium Tatjana. Queenza pun menghapus air matanya, lalu menatap dokter wanita itu.
"Terima kasih, Dok. Saya akan coba bawa anak kami untuk menemui ayahnya. Sebenarnya saya belum mengatakan bahwa ayahnya mengalami kecelakaan. Saya takut dia sedih dan sakit sebab imun tubuhnya lemah sejak lahir," ujar Queenza.
"Nyonya bisa menjelaskan pelan-pelan padanya tentang keadaan ayahnya. Saya percaya Nyonya bisa menenangkan anak Nyonya. Semoga Tuan akan segera sadar. Nyonya jangan terus bersedih, karena untuk sekarang semangat Nyonya menjadi salah satu alasan untuk Tuan kembali memiliki alasan untuk hidup," ujar Dokter. "Kalau begitu saya permisi untuk bertugas lagi." Dokter pun pergi meninggalkan Queenza yang masih duduk di sana.
Setelah kepergian dokter, Queenza kembali masuk ruang ICU. Kini, ia sedikit tegar saat bertemu suaminya.
"Bian, Mas Bian. Apa kamu masih betah tidur, hhmm? Mas, katanya akan membuatku bahagia, kenapa sekarang justru membuatku sedih? Mas, bangunlah. Aku sudah memaafkanmu. Kita mulai lagi dari awal, ya. Kita tata kembali rumah kita yang berantakan. Aku akan mencabut hukumanmu, Mas. Aku akan mengizinkanmu menyentuhku dan Tatjana. Kamu bisa memeluk dan mencium kami berdua. Kamu bisa tidur di kamarku, Mas. Aku janji, tapi Mas bangun dulu. Aku kangen, Mas. Aku mohon, jangan buat rasa rindu ini semakin besar dan membuat dadaku terasa sesak." Air mata wanita itu kembali terjatuh. Ia tempelkan tangan sang suami di pipinya. Ia kecup berulang kali berharap Abian segera sadar.
"Mas Bian, aku mencintamu. Aku tidak pernah membencimu, Mas. Aku selalu mencintaimu. Maafkan atas keegoisanku. Maafkan sikap kekanakanku. Aku janji akan berubah. Mas bangun, ya. Kita beli bakpao sama-sama nanti, kita makan di sana bersama Tatjana. Makasih sudah membelikan bakpao itu, tapi maaf, aku tak bisa memakannya karena semua hancur, sama seperti hatiku yang hancur saat tahun Mas kecelakaan."
__ADS_1
Wanita cantik itu terus mengajak Abian berbincang. Ia berharap, saat ia mengatakan kata-kata cinta, Abian akan memiliki semangat hidup lagi. Bukan hanya kata-kata, tapi itu keluar dari hati Queenza. Rasa yang dipendam, kini ia keluarkan. Ia akan menunjukkan rasa cintanya pada Abian. Tidak akan pernah ia sembunyikan lagi. Rasa yang ditekan selama ini akan ia keluarkan dan akan ditunjukkan.