
Queenza tertegun melihat tempat apa yang Abian ingin pergi bersamanya. Lelaki itu tersenyum menggenggam tangan Queenza masuk ke sebuah toko. Toko di mana menjual peralatan bayi. Wanita cantik itu tak menyangka bahwa suaminya akan membawa ke sana.
"Kita sudah tahu jenis kelaminnya. Jadi, sudah waktunya membeli keperluan untuknya. Ayo, kita pilih untuk anak kita," ujar Abian tersenyum membawa istrinya berkeliling.
"Ini lucu," ujar Abian melihat baju-baju cantik untuk anak perempuan.
Ya, sesuai yang dokter katakan, anak mereka akan berjenis kelamin perempuan, karena dari itu Abian begitu bersemangat untuk menyambutnya.
"Ini untuk usia satu tahun, Bian. Kita beli untuk new born saja. Untuk usia enam bulan ke atas kita beli lagi nanti."
"Ssttttt, aku akan membeli apa pun yang aku suka untuk anakku," ujar Abian meraih beberapa pakaian.
Queenza tersenyum seraya mengusap perutnya yang mulai membesar. Ia sendiri sebenarnya memang berencana untuk belanja keperluan bayinya juga, tetapi ia tak menyangka bahwa Abian sama bersemangatnya seperti dirinya. Akhirnya keduanya berbelanja dengan hati bahagia.
"Ini lucu," ujar Queenza melihat kaus bayi dengan tulisan I'm the Queen.
"Ini yang lucu." Abian menunjukkan kaus bertuliskan Papa's Princess.
"No, no, no. She's the Queen not princess," ujar Queenza.
"No, she's my princess."
Keduanya tertawa hingga akhirnya mereka membeli kaus tersebut. Bukan hanya pakaian, sepasang suami istri itu membeli banyak keperluan yang dibeli.
"Nanti dikirim sesuai alamat yang tertera, ya, Pak," ujar kasir setelah Abian membayar.
Abian pun hanya mengangguk lalu mengambil kembali debitnya.
"Masih mau jalan atau mau pulang?" tanya Abian pada istrinya.
"Pulang deh. Aku capek, kakiku juga pegal," keluh Queenza.
Akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang. Mereka berjalan menuju lobby untuk mengambil mobilnya. Namun, tiba-tiba genggaman tangan Abian terlepas membuat Queenza menatapnya.
"Ayyara?" Abian menatap ke arah sebrang jalan yang akhirnya Queenza pun ikut melihat ke arah sana. Benar saja Ayyara di sana terlihat sedang bertengkar dengan Daffa.
Tangan Abian mengepal saat melihat Daffa menggenggam tangan mantan istrinya. Dengan cepat lelaki itu berlari menyebrang, tak memedulikan Queenza yang memanggilnya.
__ADS_1
"Dasar lelaki!" umpat Queenza kesal menatap suaminya yang masih saja peduli dengan mantan istrinya.
Queenza hanya melihat dari tempatnya. Terlihat Abian seperti melerai kedua manusia beda gender itu. Hingga tiba-tiba Queenza terkejut saat Daffa mencengkram kerah suaminya.
"Apa yang dia lakukan, sih? Awas saja jika masih berharap pada Ayyara." Queenza pun akhirnya berjalan menyebrang untuk melerai dua laki-laki yang kini tengah bertengkar itu.
"Bian!" teriak Queenza yang membuat Ayyara menoleh dan menghampiri kakaknya.
"Kak, tolong, Mas Bian emosi banget," ujar Ayyara panik.
"Bian! Berhenti!" Queenza mencoba melerai kedua lelaki yang kini hampir baku hantam itu.
"Abian! Daffa! Kalian seperti anak kecil tahu, gak!"
"Brengsek! Elo udah rebut Ara dari gue, tapi lo sakitin juga dia!" teriak Daffa pada Abian.
"Lo juga brengsek yang udah selingkuhin Ayya!" Abian tak kalah emosi dan ingin sekali menghajar lelaki berwajah imut itu.
"Mas, Daffa berhenti!" Ayyara pun mencoba memisahkan. "Kak, gimana ini?"
"Lagian kamu tuh gak di mana-mana kenapa nyusahin terus, sih!" omel Queenza.
"Queen, jangan ikut campur! Aku ingin menghajar playboy ini!"
"Berhenti atau aku akan marah!" ujar Queenza.
Bukan berhenti justru kini keduanya saling adu jotos membuat Ayyara memekik.
"Kak, gimana ini?"
"Kamu bawel tahu gak!"
"Bian!" Dengan tanpa takut, Queenza menghampiri dua lelaki itu dan mencoba memisahkan.
Namun naas, bukan berhasil justru Queenza terdorong saat abian mencoba melepaskan tangan istrinya.
"Kak!" teriak Ayyara saat Queenza terjatuh.
__ADS_1
Abian yang mendengar teriakan Ayyara pun berbalik.
"Queen!" teriak Abian saat melihat Queenza meringis kesakitan. Bahkan ia sangat panik saat darah dan air mengalir di kaki istrinya.
"Queen, kamu gak apa-apa?" tanya Abian panik.
"Sakit, Bian." Queenza terus memegang perutnya yang terasa begitu sakit bahkan matanya mulai berkunang-kunang hingga akhirnya tak sadarkan diri.
"Mas, bawa ke rumah sakit," kata Ayyara yang sama-sama panik.
Dengan cepat Abian menggendong istrinya dan berlari menuju mobil. Untungnya mobil mereka telah sampai di lobby. Ayyara sendiri ikut bersama mereka menjaga Queenza di jok belakang.
"Hati-hati, Mas," ujar Ayyara saat melihat Abian yang panik dan tak fokus.
Lelaki itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Ia sangat takut melihat Queenza yang pingsan dengan darah mengalir.
"Abian bodoh!" umpatnya kesal sembari mengemudi. Ia terisak merasa takut membayangkan jika terjadi sesuatu pada anak dan istrinya. Baru saja mereka merasakan bahagia saat beberapa waktu lalu membeli keperluan untuk calon anak mereka tapi kini keduanya sedang berada dalam bahaya.
"Mas, tenang. Mereka akan baik-baik saja," ujar Ayyara mencoba menenangkan.
Lelaki itu mencoba tenang dan tak berpikir macam-macam. Ia tak boleh memikirkan hal aneh karena itu adalah doa.
"Mereka akan baik-baik saja, mereka akan baik-baik saja," ujarnya meyakinkan diri.
Tak lama, mereka sampai di rumah sakit. Abian berhenti di IGD dan cepat turun mengatakan pada suster keadaan istrinya. Para medis pun dengan cepat membawa brankar menuju mobil Abian. Dengan perlahan, mereka mengangkat tubuh Queenza lalu membaringkan di brankar. Setelah itu buru-buru dibawa masuk ke ruang gawat darurat.
"Ya Allah selamatkan mereka." Doa Abian menatap pintu yang kini tertutup.
Ayyara terlihat begitu sedih menatap mantan suaminya. Hatinya terasa sakit saat melihat bagaimana Abian begitu panik melihat Queenza yang terjatuh. Apakah kini rasa cinta mulai tumbuh di hati lelaki itu? Ayyara bertanya dalam hatinya. Apakah secepat itu Abian melupakannya dan berpaling pada Queenza? Ia hanya bisa menghela napas mencoba menetralkan rasa sakit di dadanya.
"Mas, duduklah. Dokter sedang memeriksa Kak Queen," ujar Ayyara.
Abian menatap mantan istrinya. Ia duduk di samping wanita cantik itu. "Mereka akan baik-baik saja, kan?" tanyanya pada Ayyara. "Kamu tahu? Anak kami berjenis kelamin perempuan. Beberapa minggu lalu aku melihatnya dan dia sangat aktif. Dadaku begitu bergetar saat melihatnya. Aku jatuh cinta padanya, Ayya. Aku takut kehilangannya," ujar Abian meneteskan air mata. "Mereka akan baik-baik saja, kan?" tanyanya lagi.
Ayyara tertegun melihat keadaan Abian. Selama kenal dan hidup bersamanya, ia tak pernah melihat Abian seperti ketakutan kehilangan seseorang seperti itu. Kini, ia benar-benar menyadari bahwa mantan suaminya telah jatuh cinta pada sang kakak dan calon anak mereka. Ayyara hanya bisa mengusap punggung lelaki itu mencoba menenangkannya.
"Kak Queen itu wanita yang kuat. Anaknya pun akan sekuat dia. Mereka akan baik-baik saja, Mas, jangan khawatir." Hanya itu yang bisa Ayyara katakan. Ia juga berdoa semoga sang kakak dan calon keponakannya akan selamat dan baik-baik saja.
__ADS_1
Meski Queenza telah merebut suaminya, tetapi Ayyara tak pernah dendam sedikitpun apalagi saat tahu hubungan Aarav dan Sarah yang menjadi alasan Queenza membenci mereka. Ia juga sangat kecewa dan merasakan apa yang Queenza rasakan. Ayyara hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi di hidupnya. Ia juga percaya pada takdir yang mungkin memang mengharuskannya berpisah dengan Abian. Karena itulah kini ia mencoba menerima apa yang terjadi padanya dan tak ada dendam, kecuali satu hal, ia masih belum bisa memaafkan apa yang dilakukan mama dan papanya yang telah mengkhianati Tante kesayangannya.