
Malam pun tiba. Sepasang pengantin baru itu kini tengah makan malam bersama di atap hotel. Queenza memang meminta pada staf untuk menyiapkan makan malam spesial. Abian sendiri cukup terkejut dengan dekorasi indah itu. Tanpa Abian tahu, ini adalah hal pertama yang Queenza lakukan untuk seorang laki-laki. Sebelumnya, jangan harap wanita arogan itu berbuat manis pada kaum Adam itu.
"Selamat menikmati, Tuan dan Nyonya." Pelayan baru saja menghidangkan makanan untuk mereka. Dari appetizer yang keluar adalah cream cheese fruit dip.
Abian menatap tak percaya pada Queenza. Apakah ini sebuah kebetulan atau memang wanita itu tahu bahwa menu ini adalah kesukaannya?
"Tidak usah merasa terkejut. Wajar jika istri tahu makanan favorit suaminya," sahut Queenza yang begitu anggun menikmati hidangan yang tersedia.
Wanita itu sendiri tak terlalu memilih soal makanan western, tetapi akan sangat pemilih untuk makanan lokal. Queenza sendiri merasa beruntung karena tak ada drama mual untuk makan malamnya.
Selesai appetizer, pelayan menghidangkan soup. Kembali Abian dibuat terkejut karena menu berikutnya adalah menu favoritnya lagi. Queenza sendiri tak memedulikan tatapan sang suami. Ia hanya menikmati makanannya yang entah mengapa terasa enak.
Makan malam dilanjutkan dengan menu utama serta dessert. Semua adalah makanan kesukaan Abian. Entah dari mana Queenza tahu makanan favoritnya. Ia hanya menikmati dan mencoba tak memedulikan.
__ADS_1
Setelah makan malam, Queenza berdiri lalu berjalan menuju pembatas atap. Ia menatap keindahan Kota Jakarta di malam hari dengan angin bertiup membuat suasana semakin sejuk. Abian sendiri hanya memperhatikan wanita itu. Entah bagaimana karakter Queenza sebenarnya, ia sendiri bingung. Kadang wanita itu terlihat sangat baik, tetapi tiba-tiba menjadi jahat.
"Hey, langit. Terima kasih karena tidak menghancurkan makan malamku bersama suamiku. Terima kasih karena memberikan malam yang indah. Andai kau mendung, sungguh aku akan membencimu!"
Abian tertawa kecil mendengarnya. Bisa-bisanya wanita itu berbicara dengan langit.
"Kkhhmmm. Sudah malam. Ayo kembali ke kamar," ujar Abian menghampiri istrinya.
"Aku masih ingin di sini. Kamu duluan saja," jawab Queenza tanpa menoleh pada suaminya dan masih menatap langit.
Wanita cantik dengan gaun hitam itu menatap langit yang tampak begitu cerah. Ia menutup matanya hingga bayangan seseorang terlihat di sana.
"Selama satu menit, berjalanlah di luar, berdiri di sana. Dalam keheningan, lihat ke langit, dan renungkan betapa menakjubkannya hidup ini."
__ADS_1
"Lihatlah ke langit. Kita tidak sendirian. Seluruh alam semesta bersahabat dengan kita dan berkonspirasi hanya untuk memberikan yang terbaik bagi mereka yang bermimpi dan bekerja."
Queenza selalu tersenyum dengan kata-kata itu. Ya, kata-kata yang selalu membuatnya bangkit saat terpuruk. Menjadi bahan bakar yang membuatnya semangat lagi. Langit selalu menjadi kekuatan untuknya karena di manapun ia berada, langit akan selalu mengikutinya.
Queenza mengangkat satu tangannya seakan menggapai sesuatu di sana. "Hey, aku merindukanmu." Ia tarik kembali tangannya, lalu menatap lagi langit yang begitu indah dihiasi rembulan dan bintang-bintang.
Setelah itu, ia memutuskan untuk kembali ke kamar. Sudah cukup untuknya menikmati malam yang indah dan memulai hari esok dengan harapan baru.
Queenza masuk kamar. Terlihat Abian menatapnya tetapi tak ia pedulikan. Ia berjalan masuk walk-in-closet untuk mengganti pakaian dan membersihkan wajahnya. Setelah selesai, ia berjalan menuju ranjang, lalu berbaring di sana, menutup tubuhnya dengan selimut.
"Selamat malam, suamiku."
Itulah kata terakhir yang Queenza ucapkan sebelum ia benar-benar terlelap.
__ADS_1
Berbeda dengan Queenza, setelah sang istri tertidur, Abian berjalan menuju balkon dan mencoba menelepon Ayyara. Satu minggu ini wanita itu seakan menghilang entah ke mana. Berulang kali Abian pergi ke apartemen, tetapi justru di sana kosong. Begitu juga saat ke mansion utama, Aarav dan Sarah mengatakan Ayyara hanya ingin menenangkan diri dan tak ingin diganggu siapa pun. Meski begitu, Abian tetap saja tak tenang, ia sungguh merindukan mantan istrinya itu.
"Ayya, kamu ke mana? Bahkan kamu memblokir nomorku. Aku sangat merindukanmu, Ayya." Abian menatap wajah cantik mantan istrinya yang masih ia simpan di ponselnya.