
"Bunda!"
Queenza menoleh ke arah pintu. Ia tersenyum melihat anak kesayangannya yang telah datang dengan ceria. Bocah itu berlari memeluk bundanya yang masih duduk di kursi kebesarannya.
"Wah anak bunda cantik sekali," puji Queenza melihat peri kecilnya yang tampak cantik dengan summer dress bermotif bunga sakura itu.
"We have the same for you too." Abian masuk dengan menunjukkan paper bag di tangannya. "Assalamualaikum, Sayang." Lelaki itu mengecup bibir istrinya dengan begitu mesra.
"Waaalaikumsalam. Apa ini?" tanya wanita berpakaian formal itu melihat yang dibawa suaminya.
"Dress yang sama dengan Tatjana. Masa mau jalan-jalan pakaianmu formal begini. Nanti dikira asistenku gimana?" tanya Abian dengan tawa kecil.
"Kapan kamu membelinya?" tanya sang wanita meraih pakaian itu dan melihatnya.
"Dua hari lalu. Gimana, suka?" tanya Abian menatap istrinya.
"I'll try and I'll answer your question." Queenza pun beranjak dan berjalan ke kamar pribadi yang ada di ruangannya untuk bersiap.
Tak lama, Queenza keluar dengan dress tersebut. Abian dan Tatjana tampak tersenyum lebar melihat penampilan wanita yang dicintainya.
"How?" tanya Queenza.
"Gorgeous!" jawab ayah dan anak itu sepakat dan tak bisa diganggu gugat.
"I'm gorgeous like Bunda!" seru Tatjana dengan melompat-lompat.
"Gaunnya memang cocok untuk kalian. Tapi, ini harus dilepas agar tampak semakin memesona." Abian melepas ikatan yang mengikat rambut indah istrinya. Kini, surai kecoklatan dengan sedikit bergelombang di area bawah itu terurai dengan sangat indah. "Perfect! And I love you." Kembali Abian mengecup lembut bibir istrinya.
"Manis sekali bibirmu itu." Queenza mengusap dada suaminya.
"Jangan menggodaku, Sayang. Lihatlah anak kita terheran-heran melihat kelakuan orang tuanya. Ayo, kita jalan sekarang. Ana, let's go." Abian meraih Tatjana dalam gendongan sebelah kiri, lalu tangan kanannya menggenggam tangan sang istri. Ketiganya tampak seperti keluarga bahagia yang menjadi idola para karyawan stasiun televis itu
Sepanjang jalan menuju lobby, banyak yang menyapa mereka. Entah itu artis ataupun staff. Dan ketiganya akan menyapa balik dengan ramah. Sejak Tatjana lahir saja dan sering ikut ke stasiun televisi membuat Queenza sedikit ramah. Sebelumnya jangan harap mendapat sapaan balik. Bahkan tak jarang Queenza tak acuh.
Sampai di lobby Queenza terlihat terkejut melihat adiknya di sana. Ia menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya.
"Hai, Kak," sapa Ayana.
"Tumben ada di sini. Ada urusan?" tanya Queenza pada adik perempuannya.
"Ah, nggak. Aku memang ingin ikut dengan kalian jalan-jalan. Aku sedikit bosan di rumah," kata Ayana tersenyum antusias.
"Ah, baiklah. Kita masuk mobil."
Akhirnya semua orang masuk dalam mobil SUV putih milik Abian. Lelaki itu menyetir, lalu di sampingnya ada Queenza yang memangku sang anak, lalu di jok belakang ada Ayana.
"Aku sudah menolak, tapi dia tetap mau ikut," bisik Abian pada istrinya.
"It's oke. Mungkin dia memang bosan di rumah. Lalu, kamu tidak ajak Nana? Dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Queenza.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik-baik saja, cuma dia kehujanan," jawab Abian menyalakan mesin mobil, lalu tak lama transportasi roda empat itu melaju.
"Kok bisa kehujanan?" tanya sang wanita heran.
"Kamu seperti tidak tahu kecerobohan anak itu saja." Abian pun menceritakan kejadian konyol yang menimpa adik angkatnya itu.
"Astaga, anak itu benar-benar deh. Gak habis thinking aku sama kecerobohannya. Tapi dia gak demam, kan?" tanya Queenza khawatir.
"Sampai kita pergi tadi sih alhamdulillah dia baik-baik saja. Aku juga sudah ajak tapi dia bilang sedang ada tugas kuliah," jawab Abian.
Setelah percakapan itu, Queenza lebih sibuk berbincang dengan sang anak atau Ayana hingga sampai di salah satu mall terbesar di ibukota. Keempatnya turun dan Abian menyerahkan mobilnya pada petugas valet. Setelah itu, mereka berjalan masuk mall.
Abian berencana mengajak sang anak untuk bermain di playzone. Jadi tempat pertama mereka menuju ke sana.
Tatjana sangat gembira ketika masuk sana. Seperti biasa, balita cantik itu memilih ke arena trampolin.
"Mas, kamu temani Ana, ya. Kamu bisa lihat outfit-ku tidak cocok untuk bermain di sana," ujar Queenza.
"Baiklah. Ana, ayo kita ke bermain." Abian menggenggam tangan sang anak dan melangkah menuju arena permainan.
"Tunggu. Aku ikut." Tanpa diduga justru Ayana yang mengejar ayah dan anak tersebut, sedangkan Queenza duduk di sofa yang tersedia.
Wanita cantik dengan mata bulat itu meraih ponselnya, lalu menelepon seseorang.
"Awasi gerak gerik Saad. Cari informasi apa pun mengenai dia," ujar Queenza sembari mengawasi keluarganya.
"Baik, Miss."
Ayana tampak begitu bahagia bermain dengan Abian juga Tatjana. Bocah kecil itu memiliki sifat yang sangat manis hingga menjadi pusat perhatian. Apalagi semua orang melihat Abian dan Ayana yang pasti orang tahu siapa mereka. Banyak spekulasi mengenai dirinya juga Abian yang membawa Tatjana tanpa Queenza. Tanpa mereka tahu, banyak dari mereka yang memotret ketiga orang yang sejak datang menjadi pusat perhatian.
"Apa mereka balikan? Kenapa istri barunya tidak ada?" tanya salah satu pengunjung.
Queenza sendiri kurang suka menunjukkan diri di media, karena itu tak banyak yang tahu rupa istri dari Abian sekarang.
"Bukannya istri yang sekarang itu kakak sambung Ayana? Yang pemilik baru stasiun televisi itu, 'kan?" tanya yang lain.
"Lagian itu laki-laki gak waras, selingkuh dengan kakak ipar. Terus sekarang balik lagi sama mantan istri yang jadi adik ipar. Kehidupan mereka sungguh seperti sinetron ya," ujar kumpulan ibu-ibu yang begitu mudahnya menilai kehidupan orang hanya dari sudut pandang mereka, tanpa mereka tahu bahwa pemeran utama yang mereka bahas berada di samping mereka.
"Dasar manusia sampah," gumam Queenza menggeleng.
Hampir satu jam bermain, mereka kembali ke tempat di mana Queenza menunggu. Tatjana tampak gembira dan terus berceloteh pada bundanya.
"Kalau Bunda ikut pasti lebih seru. Ayah dan Tante Aya payah, tidak sehebat Bunda saat melompat," ujar balita cantik itu yang membuat Queenza tertawa.
"Ayah salah bawakan pakaian untuk Bunda. Mungkin Ayah mau bermain dengan Tante Aya," sindir Queenza yang membuat Abian terkejut.
"Sayang, kok bilang gitu? Aku gak berniat loh. Aku lupa kalau Tatjana suka bermain trampolin," sahut Abian merasa panik disindir sang istri.
"Bun, habis ini kita main ice skating yuk," ajak Tatjana.
__ADS_1
"Siap. Tapi kita ke butik dulu, ya. Bunda mau ganti pakaian biar bisa menemani Ana bermain ice skating. Ayah kan gak bisa main," ujar Queenza.
"Ok. Yuk, kita ke sana sekarang," kata Tatjana menarik tangan sang bunda.
Abian tampak kebingungan melihat sikap Queenza yang tiba-tiba dingin padanya. Apa apa karena omongan orang-orang? Bukan Abian tak tahu sejak tadi banyak yang membicarakan dirinya dengan Ayana. Namun, ia tak peduli dengan apa kata orang mengenai hidupnya.
Jika Abian kebingungan, berbeda dengan Ayana yang entah mengapa merasa bahagia bisa bermain bersama dengan mantan suami juga keponakannya. Ia merasa mereka seperti keluarga kecil yang sejak dulu ia impikan.
"Sayang ...." Abian meraih tangan sang istri yang berjalan di depannya.
"heemmm," jawab Queenza.
"Kamu marah? Kok diamin aku gini?" tanya Abian.
"Siapa yang marah? Memang aku marah? Aku biasa saja," sahut Queenza santai.
"Terus kenapa kamu ingin membeli baju baru? Kamu tidak suka dengan gaun yang aku belikan ini?" tanya Abian lagi.
"Aku mau main ice skating, Mas. Kamu mau rok ini terbang saat aku bermain?" tanya Queenza. "Ana Masih diberi legging. Aku gak pakai loh."
"Ya sudah, kamu beli legging saja, gaunnya jangan diganti," jawab Abian keukeh tak ingin istrinya mengganti gaun itu.
"Yakin? Nanti banyak laki-laki yang melihatku loh saat bermain. Kamu pasti tahu bagaimana aku bermain ice skating, 'kan?" tanya Queenza.
Abian hanya mengacak rambutnya frustasi.
"Ana, gak usah main ice skating, ya. Kita main yang lain saja. Nanti ayah belikan es krim. Bagaimana?" tanya Abian yang kini berharap sang anak tak jadi mengajak istrinya bermain ice skating. Queenza sangat lihat melakukan olah raga es itu. Bahkan keindahannya bermain bisa mengalahkan atlet ice skating dan pasti akan membuat banyak mata memandang istrinya apalagi laki-laki. Oh, itu adalah hal paling Abian benci.
"Aku mau lihat Bunda bermain ice skating!" jawab Tatjana yang sama saja memiliki watak keras kepala sang bunda.
Abian berdecak kesal mendengarnya.
"Aku akan gunakan dress ini lagi setelah bermain ice skating. Kenapa kamu selalu bertingkah menyebalkan gini sih saat aku ingin bermain ice skating?" tanya Queenza sinis.
"Kamu itu sangat cantik dan memesona ketika bermain ice skating. Aku benci melihat banyak lelaki yang menatapmu dengan kekaguman," ujar Abian menggenggam tangan sang istri dengan kuat.
"Halah gombal!"
"Aku serius, Sayang. Jangan, ya. Aku cemburu," rengek Abian menarik tangan Queenza.
"Kenapa kamu seperti anak kecil, sih? Ana, lihat ayah."
"Ayah jangan ganggu Bunda!"
Melihat begitu bahagia keluar di depannya. Hati Ayana merasa sangat sakit. Entah mengapa rasa iri datang begitu kuat hingga ia mengepalkan tangannya dengan erat. Berharap ia berada di posisi Queenza sekarang.
Harusnya aku yang berada di posisimu, batin Ayana yang amsih mengepalkan tangannya.
-------------
__ADS_1
Hai reader, Don't forget beri like, komentar dan vote ya untuk mendukung karya Author, agar Author menang dalam event terbaru. Vote kalian akan menjadi dukungan besar untuk Author ❤️