Queenza

Queenza
Bab 61


__ADS_3

"Mas!" pekik Queenza saat tiba-tiba Abian memeluknya dari belakang.


"Harum," gumam Abian mengecup bahu istrinya.


"Apa nih yang harum?" tanya Queenza yang tengah mengaduk pudingnya dalam panci.


"Istriku harum stroberi. Jadi ingin memakannya," bisik Abian dengan memberi gigitan kecil di telinga sang istri.


"Mas, jangan seperti ini. Nanti kalau ada yang lihat gak enak. Lagian aku sedang membuat puding jadi nggak fokus nih," gerutu wanita cantik itu.


"Tenang saja, aku sudah memberi ultimatum untuk tak seorang pun masuk ruangan di mana ada Nyonya dan Tuan Abian," katanya dengan tangan mulai menggerayangi bagian depan tubuh istrinya. "Aw!" pekik lelaki itu saat tangannya dipukul oleh spatula karet yang berada di sana.


"Tangan tolong kondisikan, Tuan Abian. Mas keluar ih, aku tidak fokus nih," gerutu Queenza. "Nanti Tatjana nangis kalau pudingnya tidak jadi-jadi."


"Aku juga mau puding. Puding susu tapi." Tangan lelaki itu masih saja bekerja di tempat terlarang.


"Mas!"


"Aw! Aw! Aw!" Abian meringis saat pinggangnya dicubit istrinya.


"Kamu pikir itu squishy? Keluar atau aku cincang Mas pake pisau cincang ini!" Queenza mengacungkan pisau daging yang membuat Abian menelan saliva dengan susah.


"Astaga, galak sekali istriku," gumam lelaki itu.


"Apa Mas bilang!" Kini bukan hanya tangannya yang menyeramkan dengan pisau, tapi tatapannya pun membuat nyali Abian menciut.


"Sa-sayang, turunkan pisaunya, oke." Dengan perlahan tangannya menurunkan tangan sang istri yang masih mengacung di atas.


"Makanya jangan ganggu aku!" Abian terlonjak kaget saat pisau dibanting dan menancap di talenan kayu. Dan sebuah gelas pecah membuat sepasang suami istri itu menoleh.


"Nana."


"Ma-maaf, Kak. Ta-tadi Tatjana minta minum. Aku kaget liat pisaunya," ujar Nana dengan senyum kikuk.

__ADS_1


Queenza pun menggeleng dengan mengusap dahinya. "Panggil pelayan untuk membersihkan. Kamu jangan sentuh pecahan beling itu, nanti tanganmu luka," ujarnya.


"Iya, Kak."


Queenza pun berjalan mengambil cetakan puding. Sedangkan Nana dan Abian saling pandang.


"Kakakmu menyeramkan melebihi harimau yang sedang lapar," bisik Abian pada adik angkatnya itu.


"Aku sampe kaget liatnya," kekeh Nana menutup mulutnya.


"Ngapain masih pada di sini? Bubar!" teriak Queenza.


"Gawat! Ayo bubar."


Kedua orang itupun pergi dari dapur dengan kikikan geli.


"Kalian kenapa?" tanya Ayana yang heran melihat Nana juga Abian tertawa begitu.


"Nyonya rumah ngamuk," kekeh Nana. "Mas sih, sudah tahu kalau sedang masak Kak Queen paling gak suka diganggu."


"Hah? Diacungi pisau?" tanya Ayana.


"Iya, hampir saja aku dicincang pake pisau daging. Ah, istriku sangan unik," kekeh Abian berlalu menuju kamarnya.


"Memang Kak Queen semenyeramkan itu?" tanya Ayana pada Nana.


"Lumayan. Dulu Mas Bian pernah hampir dipanah gara-gara gendong Tatjana," kekeh Nana yang membuat Ayana terkejut.


"Sejak masalah orang tua kita, aku seakan kehilangan kakakku. Bahkan kini aku tidak tahu sifat kakakku sendiri," ujar Ayana tersenyum kecut.


"Masih banyak waktu untuk mengembalikan kedekatan kalian. Ayo, kita ke ruang televisi, Kak. Kita nonton drakor." Nana pun menarik tangan Ayana untuk menonton drama dari Negeri Ginseng tersebut.


"Aduh, ganteng-ganteng banget sih Oppa Korea," kata Nana dengan wajah berbinarnya, membuat Ayana tersenyum.

__ADS_1


"Kak Aya suka nonton drama Korea juga? Kak Queen gak suka. Katanya geli lihat cowok wajahnya kayak perempuan glowing gitu," kekeh Nana.


"Lumayan sih. Sekalian lihat akting mereka. Kamu tahu kan kerjaan Kakak apa," ujar Ayana meraih cookies di meja.


"Aku suka loh akting kakak di drama Rembulan itu. Aku sampe nangis-nangis apalagi saat Rembulan diselingkuhin Arga. Pengen aku gigit rasanya ginjalnya," ujar Nana dengan meninju tangannya sendiri.


"Kamu ini," kekeh Ayana.


"Lagi pada ngapain nih? Seru banget." Queenza menghampiri kedua adiknya dan duduk di tengah.


"Bahas drakor, Kak. Kak Queen sih gak seru soalnya gak suka," ejek Nana.


"Lagian geli Kakak lihat cowok wajahnya mulus banget. Gak ada macho-machonya," sahut Queenza.


"Tahu deh yang seleranya berbulu kayak Mas Bian," kata Nana.


"Macho loh laki-laki berjanggut tuh," Bela Queenza


"Gak geli kah kalau dicium?" kekeh Nana.


"Nana! Astaga, gini nih kalau keseringan nonton drama. Sudah kenal cium mencium segala. Awas ya kalau macam-macam! Kakak panah kamu."


"Ish galak banget. Aku kan sudah besar, Kak. Anggap saja itu pelajaran," kekeh Nana kembali. "Ah, ampun, Kak!" Gadis itu mengaduh karena pipinya dicubit gemas.


"Seru ya tinggal di sini," ujar Ayana tersenyum. "Sepertinya sudah lama aku tidak melihat Kak Queenza seriang ini. Aku bahagia melihatnya. Kakak sudah tidak murung seperti saat dulu tinggal di Switzerland," gumamnya.


Queenza memeluk Ayana. "Aku sudah melepas dendam yang kupendam selama ini. Jadi, Aku berhak untuk bahagia, kan?"


"Yup. Betul sekali Nyonya Abian. Hidup harus dibawa happy, biar gak kena mental."


"Heh, anak kecil tau apa soal kena mental?" ejek Queenza.


"Jangan panggil aku anak kecil, Kakaks. Panggil aku Nana!"

__ADS_1


Akhirnya ketiga wanita itu tertawa bersama Karena celotehan Nana. Ayana pun sedikit melupakan kesedihannya.


__ADS_2