
Pagi menjelang. Abian terlelap di sofa. Ia baru tidur setelah salat subuh karena terus menunggui Queenza yang mendadak demam tinggi. Setelah suhu tubuhnya turun ia baru bisa meninggalkan Queenza tidur.
Kini ia terbangun saat mendengar seseorang tengah muntah-muntah. Abian beranjak dengan wajah panik melihat Queenza yang duduk dan memuntahkan isi perutnya di lantai.
"Queen, kamu tidak apa-apa?" tanya Abian panik penyentuh bahu wanita itu.
"Hueek! Hueek!" Queenza terus mencoba mengeluarkan isi perutnya meski hanya cairan putih yang keluar karena perutnya kosong bahkan ia sampai menyentuh perutnya yang seakan diperas.
Melihat keadaan Queenza, buru-buru Abian memanggil dokter. Tak lama, Dokter wanita serta suster datang. Queenza sendiri sudah berhenti muntah-muntah dan kini bersandar di tempat tidur yang Abian atur sehingga wanita itu terasa nyaman. Dokter memeriksa Queenza dengan Abian terus menatap khawatir.
"Alhamdulillah demamnya sudah turun. Nyonya tidak apa-apa," ujar Dokter berjilbab itu tersenyum.
"Kalau tidak apa-apa kenapa dia muntah-muntah sampai meringis begitu?" tanya Abian seperti kesal mendengar Queenza dibilang baik-baik saja.
"Tuan, untuk wanita hamil muda seperti Nyonya itu wajar mual-mual begini. Ini disebut morning sickness. Karena perubahan hormonlah yang membuat Nyonya sering mual-mual saat pagi hari dan bahkan tak napsu makan," ujar Dokter menjelaskan. "Apakah ini mual-mual pertama kali untuk Nyonya?" tanya Dokter pada Queenza.
"Sejak satu minggu ini saya seperti itu, Dok. Setiap pagi terkadang sampai siang terus mual-mual. Bahkan kalau makanan sudah masuk terus keluar lagi karena perut seperti menolak," jawab Queenza lemah.
"Tidak apa-apa. Itu normal untuk wanita hamil. Nanti saya resepkan obat penghilang mual. Jangan lupa untuk mengonsumsi makanan bergizi, ya, Nyonya. Untuk menghilangkan rasa mual bisa membuat wedang jahe atau minuman lemon, tetapi tidak boleh terlalu asam, ya. InsyaAllah Nyonya dan janin dalam kandungan sehat-sehat. Cuma karena demam dan kondisi emosional Nyonya, sepertinya Nyonya masih harus dirawat lagi sampai tiga hari ke depan. Setelah membaik baru boleh pulang," ujar Dokter.
"Jika tidak ada pertanyaan lagi, saya izin pamit. Yang sabar, ya, Tuan. Saat hamil hormon Nyonya akan berubah-ubah bahkan jadi gampang ngambek, gampang nangis, jadi baperan gitu deh. Belum lagi suka minta aneh-aneh. Itu biasanya karena hormon. Harus buat ibu hamil juga bahagia agar anak dalam kandungan tumbuh dengan sehat. Jangan buat stres dan harus membuatnya tenang."
"Baik, Dok. Terima kasih," ujar Abian.
Setelah itu dokter pamit keluar dan lantai pun selesai dibersihkan. Kini tinggal kembali mereka berdua. Abian duduk di sisi ranjang menatap Queenza yang masih lemas.
"Apa setiap hari kamu begini?" tanya Abian.
"Sejak minggu lalu aku begini," jawab Queenza lemah.
"Pantas saja dia sering terlihat lemas saat di kantor dan sering tertidur," gumam Abian merasa kasihan dengan keadaan Queenza. Ternyata hamil sangat menyiksa untuk para wanita.
__ADS_1
Abian sendiri tak tahu karena memang sejak remaja ia sebatang kara, belum lagi Ayyara yang belum hamil maka kehamilan Queenza ini menjadi pengetahuan pertama untuk lelaki itu.
Tak lama, sarapan Queenza datang. Ia terlihat malas melihat makana yang tersedia. Bahkan menutup mulut karena mual.
"Makan dulu," ujar Abian.
"Aku mual, Bian. Singkirkan saja makanan ini," kata wanita itu menolak.
Abian berdecak melihat Queenza yang tak mau makan. Ia raih piring tersebut, lalu mengambil satu per satu makanan yang disiapkan.
"Bukan hanya tubuhmu yang kini butuh nutrisi, ada anakmu juga. Kamu tidak boleh egois dengan tidak makan. Ayo, aku suapi. Tanganmu juga diinfus, kan?" Abian mengulurkan sendok yang penuh makanan ke mulut Queenza. Bukan membuka mulut, wanita itu justru meneteskan air mata yang buru-buru dihapusnya.
"Kenapa kamu menangis? Apa perutmu sakit lagi?" tanya Abian khawatir.
Queenza hanya menggeleng mengusap air matanya. Entah mengapa ia merasa terharu melihat perhatian Abian padanya. Sejak sang mama sakit hingga kini, tak pernah lagi ada yang menyuapinya seperti yang Abian lakukan. Kematian mamanya seakan membawa hidupnya dalam kesendirian. Saat sakit ia selalu mengurus dirinya sendiri tanpa ada yang perhatian padanya. Namun kini, tiba-tiba seorang laki-laki memberikan perhatian yang sudah lama tak ia dapatkan.
Tanpa Queenza sadari, makanan yang disuapkan Abian telah habis tanpa ada drama mual-mual lagi. Bahkan membuat Queenza sendiri kaget. Biasanya ia sangat sulit menghabiskan sarapan meski hanya dua helai roti tawar.
Akan tetapi, baru saja Queenza bernapas lega bisa memasukkan makanan, tiba-tiba ia kembali memuntahkan makanannya karena mencium bau parfum orang yang masuk ruang inapnya yang bukan lain Ayyara.
Queenza menatap kesal Ayyara yang kini duduk di sofa terlihat bingung dengan tatapan sang kakak.
"Baru juga sarapan sudah keluar lagi," keluh Abian pada wanita hamil itu.
"Salahkan dia. Saat dia masuk dan mencium parfumnya tiba-tiba aku mual. Lagian sudah aku katakan untuk tidak datang, ngapain juga datang lagi!" bentak Queenza kesal.
"A-aku hanya ingin mengantar sarapan untuk Mas Bian. Lagipula aku ingin melihat keadaan Kakak," jawab Ayyara.
"Queen, Dokter sudah bilang kan untuk mengatur emosi? Kenapa marah-marah begitu? Kasihan janin dalam perutmu," omel Abian.
"Melihat dia emosiku tiba-tiba naik. Suruh dia pergi!" usir Queenza.
__ADS_1
"Aku akan pulang dengannya. Untuk sementara biar suster yang menjagamu," kata Abian yang membuat Queenza menoleh tak suka.
"Kamu mau meninggalkanku?" tanya Queenza tak percaya.
"Aku harus ke kantor, Queen. Lagipula kamu juga harus istirahat. Jika aku di sini mungkin kamu merasa terganggu."
Queenza membuang muka. Entah mengapa hatinya terasa sakit saat Abian akan meninggalkannya. Tanpa ia sadari air matanya pun terjatuh. Dengan rasa kesal, wanita cantik itu menarik selimutnya sampai ke atas kepala. Ia menangis dalam selimut itu bahkan sampai sesegukkan. Ia tak rela Abian pergi dan ingin dia terus di sampingnya.
Queenza sendiri tak tahu kenapa perasaannya seperti itu. Apa karena perhatian Abian membuat Queenza mulai memiliki perasaan spesial padanya? Queenza sendiri tak tahu. Yang ia tahu, ia tak suka dan tak mau Abian pergi.
"Mas, sebelum pulang makan dulu, ya. Ayya sudah masak untuk Mas. Takutnya nanti gak sempat sarapan," ujar Ayyara membuka kotak makannya.
"Wah kebetulan. Aku sedang lapar. Kamu masak apa, Sayang?" tanya Abian.
"Beef teriyaki," jawab Ayyara menunjukkan hasil masakannya.
"Wah cacing di perut Mas makin berontak ini." Abian mengusap kedua tangannya seakan tak sabar. Ayyara pun menyerwhkam kotak tersebut pada sang suami. "Itadakimasu! (Selamat makan)" kata Abian tersenyum pada istrinya.
"Makan yang banyak. Biar semangat."
"Wah enak. Masakan istriku memang paling best. I love you." Dengan wajah gembira, Abian mengecup pipi sang istri.
"Love you too," jawab Ayyara tersipu.
"Kamu sudah makan?" tanya Abian.
"Sudah tadi sebelum ke sini. Aku juga gak kuat liat tampilan teriyakinya."
Keduanya tertawa bersama mendengar ucapan Ayyara.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi Queenza mendengar percakapan mereka. Hati wanita itu semakin sakit mendengar pujian Abian pada Ayyara. Kini ia semakin benci pada adik sepupunya itu setelah tahu bagaimana Abian begitu memuja sang istri.
__ADS_1
'Aku akan merebut Abian darimu. Lihat saja!' batin Queenza.
Mungkin awalnya Queenza ingin memisahkan keduanya karena dendam. Namun kini, ia merasakan rasa yang aneh pada Abian. Rasa ingin memiliki begitu besar. Tekadnya sudah besar untuk segera membuat keduanya bercerai dan ia menikah dengan lelaki baik yang perhatian padanya itu.