
"Anak Bunda cantik sekali," puji Queenza setelah selesai membantu sang anak untuk mengenakan seragam sekolahnya. Seperti hari-hari biasa, ia akan mengurus Tatjana sebagai aktivitas pertamanya.
"Kan Bunda cantik, jadi aku juga cantik," jawab gadis kecil itu dengan ceria.
"Manis sekali anak Bunda. Ya sudah, Anna tunggu di sini, ya. Bunda mau siap-siap. Setelah itu kita sarapan."
"Oke, Bunda. Aku keluar dulu ya ke kamar Kak Nana." Gadis kecil itu berlari riang menuju kamar Nana. Di luar, ia berpapasan dengan sang ayah. "Ayah, mau berangkat? Kok gak sarapan dulu?"
Jantung Abian berdesir melihat gadis kecilnya yang begitu ceria. Hatinya terasa sakit karena sungguh ia ingin menggendong dan menciumnya. Namun ia tak bisa. Setetes air mata jatuh yang cepat-cepat ia hapus.
"Ayah kok nangis? Ayah kenapa?" tanya Tatjana dengan wajah sedihnya.
"Ayah gak apa-apa. Anna mau ke mana?" tanya Abian.
"Anna mau ke kamar kak Nana. Ayah kok gak sarapan? Nanti Bunda marah loh."
"Ayah ada meeting penting, Sayang. Nanti Ayah sarapan di kantor. Kamu hati-hati berangkat ke sekolahnya, ya. Jadi anak baik yang patuh pada guru. Ayah berangkat dulu." Abian mencoba tersenyum pada anaknya.
Gadis kecil itu mengulurkan tangannya untuk salim. Abian hanya menatap tangan kecil itu tapi tak bisa ia raih meski hatinya sangat ingin menggapainya.
"Ayah pergi dulu. Assalamualaikum." Hanya itu yang bisa ia lakukan. Meninggalkan Tatjana yang tangannya masih melayang karena tak ia raih. Kembali air matanya terjatuh saat berjalan menuju mobil. Dadanya terasa sakit saat rasa ingin menyentuh anaknya kembali datang.
"Kenapa sesakit ini?" lirihnya di dalam mobil. Ia menyentuh dadanya yang begitu sesak. Tak bisa menyentuh anak dan istrinya adalah hukuma terberat untuk seorang laki-laki. Dan kini itulah yang dirasakan Abian.
Ia mencoba kuat, tapi tetap saja terkadang rasa sesak itu datang saat ia menatap Queenza dan Tatjana. Hanya bisa menatap tanpa bisa menyetuh. Hukum yang memang sangat berat dan sangat menyakitkan.
"Ayah kenapa?" Bocah itu bertanya-tanya dengan wajah yang sedih. Biasanya Abian menerima uluran tangan anaknya dengan catatan Tatjana tak boleh memberitahu bundanya. Namun, kali ini ucapan Queenza membuat Abian takut benar-benar kehilangan anak istrinya. Karena itulah ia tak akan menyentuh Tatjana lagi seperti biasanya.
"Loh, kok malah bengong di sini? Gak jadi ke kamar Kak Nana?" tanya Queenza yang telah siap dengan penampilan kasualnya. Hari ini ia memang tak akan ke kantor sebab Nana ada kuliah full seharian. Karena itulah Queenza tak ke kantor dan akan menjaga Tatjana.
"Tadi aku ketemu Ayah," jawab Tatjana.
"Ayah? Kenapa dengan Ayah?" tanya Queenza.
"Ayah nangis saat melihatku, Bunda. Apa Anna nakal ya? Saat Anna ingin salim saja Ayah nolak," ujar gadis itu sedih.
"Sayang ... Ayah cuma sibuk saja. Mana ada anak bunda nakal? Tatjana adalah anak yang paling baik dan manis. Sudah ah jangan sedih. Panggil Kak Nana gih, kita sarapa setelah itu kita ke sekolah. Hari ini Bunda akan menemani Tatjana sepanjang hari."
"Beneran Bunda?" tanya bocah itu berbinar.
"Iya. Hari ini waktu Bunda untuk Anna. Anna mau melakukan apa dengan Bunda?"
"Berenang! Aku mau berenang dengan Bunda," jawab anak cantik itu bergembira.
"Oke, setelah pulang dari sekolah kita berenang. Sudah, panggil Kak Nana dulu gih. Nanti telat."
"Siap, Bunda!" Gadis cilik itu pun berlari riang menuju kamar Nana. Sedangkan Queenza menghela napas mendengar perkataan sang anak yang mengatakan bahwa Abian menangis. Entah mengapa dada Queenza terasa nyeri mendengar suaminya menangis. Namun segera ia tepis rasa kasihan itu. Ini memang layak untuk Abian dapatkan. Lelaki itu telah menyia-nyiakannya dan inilah ganjaran yang harus diterima.
Akhirnya Queenza melangkah menuju ruang makan untuk sarapan.
**
Malam berlalu, waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Queenza baru saja keluar dari kamar Tatjana setelah membacakan dongeng. Ia melangkah menuju kamarnya. Namun tiba-tiba ia berhenti di depan kamar suaminya. Terlihat pintu sedikit terbuka. Ia merasa penasaran pada lelaki itu karena sejak satu minggu ini suaminya benar-benar berbeda. Ia seakan menjauh.
Akhirnya perlahan ia buka pintu itu dan memasukkan kepalanya untuk melihat apa yang dilakukan suaminya. Hatinya terenyuh saat menatap Abian yang tengah salat. Lelaki itu memang sangat rajin melaksanakan kewajibannya. Ia sedikit sedih saat mendengar isakan suaminya. Akhirnya Queenza kembali keluar dan berjalan menuju kamarnya.
Jika ditanya bagaimana perasaan wanita itu, ia pasti merasakan hal yang sama seperti suaminya. Namun, kesalahan Abian tak termaafkan untuk dirinya. Meski hatinya masih mencintai Abian, tetapi rasa kecewa lebih besar ia rasakan. Karena Abian, anaknya lahir lebih cepat sehingga memiliki kelainan. Queenza masih beruntung karena ia memiliki harta yang bisa ia gunakan untuk mengurus anaknya. Andai ia tak memiliki apa-apa? Apakah ia bisa mengurus Tatjana yang pasti mengeluarkan biaya yang besar setiap bulannya.
Karena itulah Queenza masih memberi tempat untuk Abian menatap anaknya. Andai hal buruk terjadi, pasti ia tak akan mau memperlihatkan Tatjana. Toh dalam agama pun Tatjana hanya anak Queenza. Jadi Abian memang tak ada hak apa-apa. Itu dalam pikiran Queenza setelah tahu dalam agama mengatakan bahwa Tatjana tak memiliki hak apa pun dari Abian.
__ADS_1
Saat hendak membaringkan tubuhnya, tiba-tiba pintu kamar di ketuk. Queenza pun kembali beranjak dan melangkah untuk membuka pintu. Ia sedikit terkejut melihat Abian yang berdiri di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Queenza malas.
"Bolehkah aku tidur di sini untuk malam ini saja," ujar Abian menatap istrinya.
"Nggak!" tolak Queenza.
"Queen, aku mohon. Apa kamu tega melihat suamimu tidur selama tiga tahun ini sendirian?"
'Kau pikir aku tidur dengan siapa?' batin Queenza.
"Apa kamu Tatjana? Dia saja tidur sendiri," gerutu Queenza.
"Queen, kamu terlihat sangat cantik malam ini."
Queenza berdecak mendengar gombalan suaminya.
"Kembali ke kamarmu, Bian," ujar Queenza pelan. Ia sungguh malas berdebat dengan laki-laki itu. "Loh, loh, kenapa masuk. Hey, keluar!" Queenza berjalan mengikuti suaminya yang tiba-tiba masuk tanpa permisi lalu duduk di ranjang. "Apa aku mengizinkan?" tanya Queenza.
"Selagi aku suamimu, aku punya hak tidur denganmu."
"Sudah aku katakan, jangan bicara hak di sini saat kewajiban saja tidak kamu berikan!"
"Bukan aku tidak memberikan, tapi kamu yang menolak menerimanya. Setiap bulan aku selalu memberikan gajiku padamu tapi kamu tolak, perhatian? Aku selalu coba memberikan tapi kamu yang selalu menolak juga. Lalu, sekarang aku salah?" tanya Abian.
Wanita itu hanya berdiri, melipat tangan di atas perut dan menatap tajam suaminya.
"Queen, cukup tiga tahun ini. Apa masih kurang hukuman yang kamu berikan untukku? Aku tahu aku salah dan aku menyesal. Aku mencintaimu, Queen. Aku ingin hidup bahagia denganmu dan Anna."
"Aku sudah bilang, kesempatanmu sudah tidak ada!"
"Tidak, Abian. Kembalilah ke kamarmu."
"Queen, please ...." Lelaki itu menggenggam tangan istrinya dengan tatapan memohon.
"Abian Martadinata. Apa kamu tidak mengerti arti dari kata tidak?"
"Queen, semalam saja. Aku ingin memelukmu. Aku mohon, setelah ini aku tidak akan meminta lagi," ujar lelaki itu dengan tatapan memohonnya.
"Oke fine! Hanya malam ini dan tidak macam-macam!" ujar Queenza.
Abian tersenyum seraya mengangguk. "Ke
marilah. Aku ingin memelukmu." Ia menepuk tempat tidur supaya Queenza berbaring.
Dengan malas wanita itu berjalan lalu mulai naik ke pembaringan. Setelah Queenza berbaring, ia tersentak saat Abian memeluk pinggangnya.
"Aku sudah bilang jangan macam-macam!"
"Hanya satu macam, Sayang."
Wanita itu berdesir saat mendengar panggilan itu. Jantungnya berdebar hebat entah mengapa.
"Le-lepas, Bian."
"No!"
"Abian!"
__ADS_1
"Malam ini saja, Queen. Aku mohon."
"Aku tidak nyaman, Bian."
Tidak nyaman karena kini jantungnya berdebar hebat. Itu yang dirasakan Queenza. Seumur hidup, belum pernah ada laki-laki yang memeluknya saat tidur seperti sekarang. Mungkin Sky mantan pacaranya. Namun Queenza tak pernah kontak fisik dengan laki-laki itu selain berpelukan atau mencium pipi. Pertama kali ia merasakan ciuman sesungguhnya bersama Abian saat malam itu. Kini, pertama kali juga laki-laki memeluknya dan itu adalah Abian.
"Tapi aku sangat nyaman memelukmu, Queen. Mencium aroma tubuhmu yang begitu menenangkan. Andai aku mati sekarang pun aku rela."
"Halah gombal!"
"Aku serius, Queen. Ternyata senyaman ini memelukmu." Abian menenggelamkan kepalanya di punggung Queenza, menghirup aroma mawar yang menenangkan. "Ah, andai tahu senyaman ini memelukmu, sejak dulu aku peluk. Memang memeluk wanita yang dicintai tuh rasanya nyaman."
"Seperti memeluk Ayyara, ya?" cibir Queenza.
"Entahlah. Aku lupa rasanya. Lagipula selama tiga tahun ini aku hanya memikirkan istriku bukan wanita lain."
"Halah dasar laki-laki," cibir wanita itu lagi.
"Queen, kalau aku pergi dari hidupmu, apa kamu akan bahagia?" tanya Abian.
"Iya," jawab Queenza cepat.
"Astagfirullah, kamu memang benar-benar kejam ya. Setidaknya diam sebentar gitu seakan kamu berpikir. Ini benar-benar dijawab langsung," kekeh Abian. " Aku tidak menyangka bahwa istriku ternyata benar-benar tidak mencintaiku," ujarnya lagi.
"Berisik tau gak! Aku mau tidur!" sungut wanita itu.
"Maaf, Sayang. Aku hanya ingin berbincang denganmu. Rasanya sudah lamaaaaa sekali tidak berbicara denganmu," ujarnya lirih.
"Queen, terima kasih karena sudah merawat Tatjana dengan baik. Kamu memang ibu yang luar biasa, Queen. Terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk menjadi ayah dari gadis kecil yang luar biasa. Terima kasih karena masih mau menjadi istriku selama tiga tahun ini. Dan maaf karena begitu banyak kesalahan yang aku lakukan padamu. Maaf, karena aku telat menyadari bahwa aku sangat mencintaimu," ujar Abian dengan suara yang parau.
"Kamu tahu kenapa Ayyara menceraikanku?" tanya Abian. "Karena dia sadar bahwa sejak malam itu, ia telah kehilanganku. Setiap aku mencoba menyentuhnya, hanya kamu yang aku ingat. Ketika aku tahu bahwa yang aku sentuh bukan kamu, rasanya seperti kecewa. Entah apa yang kamu berikan padaku hingga aku bisa begitu."
'Itu karena aku merusak pikiranmu dengan obat, Bodoh!' umpat Queenza dalam hatinya.
"Kini saat kamu menjadi istriku, justru aku tidak bisa menyentuhmu. Ah, sayang sekali," kekehnya lagi.
"Queen, boleh tidak aku merasakan seperti malam itu?"
Darah Queenza berdesir mendengar perkataan suaminya.
"Aku sudah bilang untuk tidak macam-macam, kan?" ujar Queenza.
"Aku hanya ingin merasakan melakukan itu denganmu dengan secara sadar, Queen. Apa aku lemah sehingga kamu tak mau melakukannya? Padahal dulu kamu sampai memberiku obat perangsang untuk melakukannya."
"Bian, stop!" Wajah Queenza memerah karena merasa malu jika mengingat kejadian itu.
"Apa aku harus memberimu obat perangsang juga supaya kamu mau? Aduhhh!" Abian meringis saat lengan yang memeluk tubuh sang istri dicubit Queenza.
"Tidur, Abian! Atau kamu keluar saja! Aku sudah mentolerir untukmu tidur di sini dan memelukku, ya."
"Oke, oke. Kamu bisa tidur sekarang. Terima kasih karena mau berbincang denganku. Aku sangat bahagia malam ini, Queen. Terima kasih."
"Heemmm," jawab Queenza.
"Aku mencintaimu, Queen. Aku sangat mencintaimu. Andai ada cara yang bisa membuatmu kembali, pasti akan aku lakukan meskipun itu melewati maut. Pasti sangat bahagia bisa hidup normal selayaknya keluarga bersamamu dan anak kita." Abian semakin mengeratkan pelukannya. "Meski begitu, aku bersyukur kamu masih memberiku kesempatan untuk dipanggil Ayah oleh Anna. Terima kasih, Queen. Aku sangat bahagia untuk kesempatan itu. Semoga suatu hari aku bisa memeluk dan menciumnya serta mengatakan bahwa aku sangat mencintainya."
Queenza menggigit bibir bawahnya. Hatinya terasa sakit mendengar ucapan sang suami. Ia tak menjawab apa pun perkataan Abian hingga laki-laki itu tak bersuara lagi. Queenza sendiri pura-pura tidur hingga ia merasa pelukan suaminya mengendur. Napasnya pun mulai teratur yang menandakan bahwa Abian telah tertidur.
Wanita cantik itu berbalik hingga kini keduanya saling berhadapan. Ia sentuh pipi Abian yang ditumbuhi janggut cukup tebal serta ia usap secara perlahan. Air matanya menetes melihat Abian yang kini sangat kurus, berbeda dengan tiga tahun lalu yang terlihat begitu memesona.
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar mencintaiku, Bian? Apa kamu benar-benar menyesal telah menyakitiku?" tanya Queenza dengan begitu lirih. "Aku juga mencintaimu, tapi luka yang kamu torehkan begitu membuatku sulit memaafkanmu. Rayu aku, Bian. Bujuk aku agar aku bisa memaafkanmu. Aku juga sangat merindukanmu." Queenza memeluk Abian dengsn kepalanya yang ia benamkan di dada bidang suaminya. Ia hirup wangi maskulin yang entah mengapa begitu menanangkan perasaannya.