Queenza

Queenza
Aku memaafkanmu


__ADS_3

Queenza menatap ruang ICU dengan tatapan sendu. Sejak pagi air matanya tak henti terjatuh ketika tahu suaminya mengalami kecelakaan dan kini keadaanya kritis. Wanita cantik itu hanya bisa mengusap kaca seakan mengusap wajah suaminya. Teringat kembali perkataan Abian semalam, membuatnya semakin hancur.


"Bian, kamu janji akan membahagiakanku, tapi kenapa sekarang justru kamu bikin aku nangis gini?" tanya Queenza menatap laki-laki yang kini berbaring dengan begitu banyak alat di tubuhnya.


Tiba-tiba kepala Queenza merasakan sakit. Wanita cantik itu kembali teringat kejadian dulu saat sang mama mengalami hal yang sama, berbaring di ruang ICU. Queenza merasakan dadanya yang sangat sesak. Ia berjalan perlahan untuk duduk. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya, mencoba menelepon seseorang.


"Siapa yang harus aku hubungi?" tanyanya pada diri sendiri. Ia tak mungkin menghubungi Nana karena kini gadis remaja itu tengah bersama sang anak.


Akhirnya dia menelepon seseorang untuk menolongnya. Ia mengatakan untuk membelikan obat dan datang ke rumah sakit. Meski ditanya kenapa ia berada di rumah sakit, Queenza belum mengatakan karena keadaannya yang tak mendukung.


"Ke sini saja dulu. Nanti kamu tahu," jawab Queenza lalu mematikan panggilannya.


Setengah jam berlalu, seorang wanita datang menghampiri Queenza.


"Kak ...."


Queenza menoleh. "Duduklah."


Wanita itu pun duduk di samping Queenza.


"Ini obat yang Kakak minta." Ayyara menyerahkan obat pada Queenza dengan beserta air minum juga.


"Terima kasih." Wanita cantik itu menerima dan meminumnya.


"Kak, itu obat untuk penyakit Kakak?" tanya Ayyara hati-hati.


"Iya. Tiba-tiba kambuh lagi," jawab Queenza mengusap wajahnya. Memang sudah lama penyakitnya tak kambuh. Kini melihat suaminya terbaring, membuatnya kembali merasakan trauma itu.


"Siapa yang dirawat di ICU?" tanya Ayyara menatap ruangan itu.


"Bian. Dia kecelakaan tadi pagi," jawab Queenza dengan meneteskan air matanya.


Mendengar itu, Ayyara terkejut. "M-Mas Bian?" tanyanya tak percaya. "Bagaimana keadaanya?"

__ADS_1


Queenza menangis dengan menutup wajahnya. "Dia kritis."


"Ya Allah Mas Bian." Air mata wanita itu menetes. Meski kini keduanya tak memiliki hubungan, tapi rasa sedih itu begitu ia rasakan. Bagaimana pun juga Abian pernah jadi orang terpenting dalam hidupnya.


"Aku menyesal, Ayya. Karena harga diri, aku sampai menyakitinya."


Ayyara menoleh pada kakaknya. Hatinya begitu hangat saat Queenza memanggilnya Ayya lagi. Selama 13 tahun ini Queenza tak pernah menyebut namanya seperti itu. Air matanya menetes.


"Kak," lirih Ayyara mencoba menyentuh bahu sang kakak. Namun, tiba-tiba tubuhnya menegang saat Queenza memeluk adik sambungnya itu.


"Maafkan aku, Ayya. Maaf karena sudah sering menyakitimu, padahal kamu tidak salah apa-apa. Maafkan aku." Queenxa menangis terisak dalam pelukan Ayyara.


"Kak," lirih Ayyara. "Ayya yang minta maaf karena tidak menjadi adik yang baik untuk Kakak. Maafkan Ayya yang membuat Kakak merasa kehilangan kasih sayang orang tua. Maafkan Ayya, Kak." Wanita cantik itu memeluk balik kakak kesayangannya. Ia sungguh terharu saat Queenza kembali padanya. Ia tak menyangka bahwa kakak perempuannya kembali.


Keduanya menangis dengan saling berpelukan. "Aku kangen sama kamu, Ayya. Aku sendirian."


"Maafin Ayya, Kak. Maaf."


Keduanya saling melepaskan pelukan. Queenza menghapus air mata Ayyara begitu juga Ayyara. Keduanya tersenyum satu sama lain.


Dibalik rasa benci, tersimpan juga rasa sayang untuk wanita yang lebih muda darinya itu. Queenza tahu bahwa Ayyara tak pernah berubah. Dulu, saat ia di Swiss, ia sering melihat Ayyara yang suka diam-diam memerhatikannya dari jauh. Ia tahu bahwa setiap liburan, Ayyara selalu datang untuk melihat keadaannya. Namun karena rasa benci, ia mengabaikan dan tak peduli dengan perhatian adiknya itu.


"Kak, bolehkah aku melihat Mas Bian?" tanya Ayyara hati-hati. Ia tak ingin sang kakak salah paham dan berpikir macam-macam.


"Bian belum bisa ditengok, Ayya. Kamu bisa lihat dibalik kaca itu. Aku juga sejak tadi hanya menatapnya dari sana." Queenza menunjuk kaca ruangan tersebut.


Ayyara pun mengangguk. Ia beranjak dan berjalan ke sana. Ia menatap lelaki yang kini berbaring dengan tak berdaya itu. Ia sedih dan berdoa semoga Abian lekas sembuh. Setelah itu, ia kembali duduk di samping kakanya.


"Yang sabar ya, Kak. Mas Bian pasti akan baik-baik saja. Dia orang baik."


"Terima kasih, Ayya."


"Kakak sudah makan?" tanya Ayyara yang dijawab gelengan oleh Queenza.

__ADS_1


"Kok belum? Kalau Kakak sakit bagaimana? Makan, ya. Kakak mau apa? Biar aku belikan."


"Nggak usah, Kakak gak lapar."


"Kak, kalau Kakak sakit gimana? Makan, ya. Kalau Kakak sakit nanti siapa yang ngurus Mas Bian dan Tatjana? Aku beliin makanan, ya. Kakak tunggu di sini." Ayyara beranjak lalu pergi menuju restoran dekat rumah sakit.


Mendengar nama sang anak disebut, tiba-tiba ia teringat bahwa sejak pagi ia belum memberi kabar pada Nana. Akhirnya ia meraih ponselnya lalu menelepon Nana.


"Assalamualaikum." Salam Nana di ujung telepon.


"Waalaikumsalam. Na, maaf, ya. Kakak lupa ngabarin kamu. Tatjana gak nyusahin kamu kan?" tanya Queenza.


"Alhamdulillah nggak, Kak. Tatjana gak pernah nyusahin. Cuma tadi beberapa kali dia nanya kapan Kakak pulang katanya dia kangen," ujar Nana.


"Nanti agak sorean Kakak pulang sebantar untuk lihat Anna."


"Kak, gimana keadaan Mas Bian?" tanya Nana.


Queenza hanya bisa menghela napas. Jika ada yang bertanya soal keadaan suaminya, hatinya terasa sakit. "Dia kritis, Na. Doakan semoga cepat sadar, ya."


"Ya Allah, Mas Bian," lirih Nana. "Semoga Allah menyembuhkan Mas Bian dan semoga lekas sadar." Doa tulus gadis itu.


"Aamiin. Kalau gitu, Kakak tutup dulu, ya. Katakan pada Anna, nanti menjelang sore Kakak pulang."


"Iya, Kak. Kakak jangan lupa makan ya. Jangan sampai nanti Kakak juga sakit."


"Iya, Nana. Makasih ya selalu ada buat Kakak. Kalau gak ada kamu, pasti Kakak repot banget," ujar Queenza.


"Kakak ngapain sih ngomong gitu? Aku yang beruntung punya Kakak sebaik Kak Queen."


"Ya sudah, Kakak tutup dulu. Assalamualaikum."


Setelah mendengar jawaban Nana, Queenza pun mematikan panggilannya. Ia kembali menatap ruang ICU lalu ia berjalan ke sana lagi, menatap suaminya yang masih sama seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Cepat sadar, Bian. Aku memaafkanmu," lirih Queenza menyentuh kaca pembatas antara dirinya dan sang suami.


__ADS_2