
"Bian!" Queenza berlari lalu memeluk suaminya. "Akhirnya kamu sadar," lirih Queenza menangis memeluk suaminya.
"Qu-Queen, a-aku tidak bisa napas," lirihnya.
Mendengar itu, buru-buru Queenza melepas pelukannya dan menatap Abian yang kini benar-benar membuka mata. Tadi, pihak rumah sakit mengabarkan bahwa suaminya telah sadar. Karena itulah Queenza terkejut sekaligus bahagia sampai seperti orang linglung. Wanita cantik akhirnya membawa Tatjana juga Nana untuk datang sebab bingung harus berbuat apa.
"Dok, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Queenza serius.
"Alhamdulillah keadaan Pak Abian baik-baik saja setelah diperiksa. Hanya saja, karena benturan yang cukup keras di bagian belakang membuat Bapak mengalami cidera saraf tulang belakang lokal yang menyebabkan berkurangnya kemampuan bergerak di area pinggul ke bawah."
"Apa?! Suami saya tidak bisa berjalan, Dok?" tanya Queenza terkejut.
"Ibu tidak perlu panik karena kami akan melakukan bedah untuk menstabilkan posisi tulang belakang yang patah yang menekan saraf tulang belakang. Bapak juga akan mendapatkan terapi pendukung, seperti infus cairan dan nutrisi, serta keteter urine," ujar Dokter menjelaskan.
"Apa suami saya masih ada harapan untuk berjalan lagi?" tanya Queenza.
"InsyaAllah Bapak akan berjalan lagi karena cidera tak cukup parah. Untuk sementara juga kami memasangkan penyanggah leher supaya Bapak tidak menggerakkan tulang belakangnya dan diusahakan untuk tidak sering-sering menggerakkan tubuh pasien," ujar Dokter kembali.
"Baiklah, Dokter bisa melakukan apa pun agar suami saya kembali pulih. Saya mohon bantuannya," kata Queenza sembari menatap Abian yang juga menatapnya.
"Tentu, Bu. Ini sudah menjadi tugas kami. Setelah ini, Bapak bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa karena keadaannya sudah membaik. Selamat Ibu, karena suami Ibu telah melewati masa kritis," ucap Dokter.
"Terima kasih Dokter, karena telah menyelamatkan suami saya," ujar Queenza tulus.
"Kalau begitu kami permisi. Suster akan memindahkan Bapak agar keluarga bisa menengok."
Setelah berbasa basi sebentar, akhirnya Dokter pergi dan kini Queenza menatap suaminya. Air matanya sejak tadi tak henti terjatuh. Rasa bahagia, syukur, sesal, ia rasakan menjadi satu. Ia duduk di kursi, lalu menggenggam tangan suaminya dan dikecup dengan cukup lama.
"Maafkan aku," lirih Queenza. "Dan terima kasih karena sudah kembali."
"Queen, a-aku senang bisa melihatmu lagi. A-ku sungguh takut meninggalkanmu dalam posisi kamu membenciku," ujar Abian terbata.
"Aku tidak membencimu, Bian. Aku sangat mencintaimu," ujar Queenza dengan air mata yang mengalir begitu deras. "Aku takut kamu pergi, aku takut kehilanganmu, Bian. Maafkan atas keegoisanku selama ini sehingga membuatmu terluka bertahun-tahun. Maafkan aku." Queenza menangis penuh penyesalan, membuat Abian merasakan sakit yang Queenza rasakan. Dengan perlahan, ia usap air mata sang istri.
"Jangan menangis, Sayang. Aku sakit melihatnya. Aku akan baik-baik saja dan kita bisa memulai segalanya dari awal. Mau kan memulai dari awal denganku?" tanya Abian lirih penuh harap.
"Tentu, Bian, aku mau," jawab Queenza yang tersenyum dengan begitu manis dan tulus membuat air mata Abian terjatuh.
"Akhirnya aku bisa membuatmu tersenyum, Queen. Maafkan atas segala kesalahanku. Aku janji tidak akan pernah membuatmu bersedih lagi."
Secara perlahan Queenza merebahkan kepalanya di dada sang suami. Tangan Abian pun mengisap kepala istrinya dengan penuh cinta.
"Tatjana apa kabar? Apa dia baik-baik saja?"
Mendengar pertanyaan itu, seketika Queenza terduduk lagi.
__ADS_1
"Astaga, aku lupa tadi ke sini membawa Anna dan Nana. Sekarang keduanya masih di luar karena anak kecil dilarang masuk." Queenza menepuk dahinya. Bisa-bisanya ia lupa dengan anak dan adiknya.
"Queeen ...." Abian tersenyum menatap istrinya yang tersenyum malu.
"Aku akan menemui mereka sekaligus mengurus ruang perawatanmu." Queenza beranjak hendak pergi, tetapi tangannya ditahan Abian.
"Kembali lagi padaku, Queen. Jangan mengabaikanku," lirih Abian menatap sendu sang istri.
Queenza tersenyum meraih tangan suaminya yang ia balas genggam. Ia menunduk dan mengecup dahi suaminya yang terbungkus perban.
"Aku akan menemui anak kita, Sayang. Setelah kamu dipindahkan, aku akan menemuimu lagi dengan Anna dan Nana. Mereka juga sangat merindukanmu," kata Queenza dengan begitu lembut.
"Ka-kamu memanggilku apa?" tanya Abian tak percaya.
"Sayang, aku sangat mencintaimu." Kini, Queenza mengecup bibir pucat suaminya lalu tersenyum.
"Aku juga mencintaimu, Queenza. Sangat mencintaimu," jawab Abian dengan meneteskan air mata.
"Aku tahu itu." Wanita cantik itu pun mengusap air mata yang jatuh di pipi suaminya. "Aku temui Nana dan anak kita dulu, ya. Kasihan mereka."
Abian pun mengangguk tetapi tangan Queenza tetap digenggam seakan tak mengizinkan wanita itu pergi.
Dengan sedikit bujukan lagi, akhirnya Abian mau melepaskan tangan sang istri. Queenza pun berjalan keluar dari ruang ICU dan menemui dua gadis yang menunggu di ruang tunggu.
"Sayang, maafin Bunda, ya. Na, maafin Kakak ya. Saking panik Kakak lupa sama kalian," ujar Queenza menggendong anak kesayangannya.
Queenza pun mengatakan bahwa Abian sudah siuman dan menjelaskan keadaan kakak iparnya. Nana berucap syukur dan merasa lega karena kakak laki-lakinya telah membaik.
"Sekarang Mas Bian akan dipindahkan ke ruang rawat biasa. Setelah pindah kita bisa menengoknya," ujar Queenza.
Wanita cantik itu pamit lagi karena harus mengurus rumah sakit. Biasanya Maryam yang mengurus segalanya, tetapi untuk sekarang Queenza sendiri yang mengurus karena sang asisten sibuk mengatur semua pekerjaannya.
Nana pun dengan sigap membantu sang kakak menjaga Tatjana, dia selalu ada di saat Queenza membutuhkan orang.
Butuh waktu tiga puluh menit, akhirnya Abian dipindahkan dan Queenza mengajak anak serta adiknya untuk menemui Abian.
"Ayah!" Tatjana berlari menghampiri ayahnya yang tersenyum padanya. Bocah itu naik ke kursi dan duduk dibibir ranjang membuat Queenza panik.
"Sayang, gak boleh naik begitu, kalau kamu jatuh gimana? Kan bisa Bunda gendong," ujar Queenza yang jantungnya hampir lepas melihat sang anak naik ke atas tempat tidur yang cukup tinggi itu.
"Aku kangen Ayah, Bunda," kata sang anak. "Ayah, Ayah kenapa? Ayah sakit?" tanyanya dengan wajah sedih.
"Ayah jatuh, Sayang. Anna gak boleh naik seperti tadi, ya. Kalau jatuh nanti kayak Ayah," ujar Abian tersenyum.
"Anna kangen Ayah," kata bocah itu dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
"Ayah juga kangen Anna." Abian hendak menyentuh sang anak, tetapi ia hentikan. Melihat itu, Queenza bersedih dan merasa bersalah.
"Sayang, coba peluk Ayah. Tapi pelan-pelan, ya," kata Queenza yang membuat Abian menoleh padanya. "Kamu boleh menyentuhnya mulai dari sekarang, Bian."
Air mata tak bisa ia tahan lagi saat sang anak berbaring di sampingnya dibantu Queenza. Untuk pertama kalinya selama Tatjana lahir, ia bisa sedekat ini dengan bocah itu. Sungguh, Abian merasa sangat bahagia dan sangat terharu dengan apa yang terjadi padanya.
Hari itu menjadi hari yang membahagiakan untuk semua. Abian telah sadar dan baik-baik saja meski kakinya lemah untuk bergerak. Namun, itu pun hanya sementara. Sepanjang hari itu sang lelaki ditemani tiga wanita yang disayanginya hingga menjelang sore. Queenza menyuruh Nana untuk membawa Tatjana pulang. Awalnya bocah itu merengek tak ingin pulang. Namun, Queenza tak akan membiarkan sang anak berlama-lama di rumah sakit karena untuk kesehatannya.
Setelah dibujuk dan diberi nasehat, akhirnya Tatjana mau pulang bersama Nana dengan syarat besok mereka akan kembali ke rumah sakit. Queenza mengantar keduanya sampai di lobby dan mobil mereka telah menunggu. Queenza pun memasukkan Tatjana ke mobil dan menasehati sang anak agar tak rewel selama dijaga Nana. Setelah itu ia keluar dan berbicara dengan adiknya.
"Na, titip Anna lagi, ya. Maaf banget Kakak ngerepotin kamu terus," ujar Queenza tak enak hati.
"Kakak apa sih? Anna juga ponakanku. Gak usah minta maaf gitu," ujar Nana tak suka.
Queenza tersenyum lalu memeluk sang adik. "Makasih Na, sudah mau menjadi keluarga Kakak. Kakak sangat sayang sama kamu."
"Nana juga sayang kak Queen, Anna juga Mas Bian. Jangan pernah sungkan padaku, Kak. Anggap aku adik kandung Kakak meski aku cuma orang luar."
"Kamu memang adikku, Na. Jangan bicara gitu ah. Kakak gak suka." Queenza melepas pelukannya lalu mencubit pipi Nana. "Ya sudah, kamu pulang sana. Besok libur dulu saja sekolah Anna. Besok kamu ada kelas pagi, kan? Besok subuh Kakak pulang untuk membuat makanan untuk Anna, juga jemput dia biar di rumah sakit. Kakak sengaja ambil ruang VVIP biar Anna bisa di sana. Tapi kalau untuk malam Kakak gak tega kalau dia tidur di sana. Kamu tahu sendiri imun Anna lemah."
"Selagi Nana bisa jagain, insyaAllah Nana jagain, Kak. Kakak jangan gak enakan gitu, ya. Aku senang kalau terus bersama Anna."
"Ya sudah, kamu pulang gih, istirahat." Queenza mendorong tubuh sang adik untuk masuk ke mobil. Setelah masuk, ia melambaikan tangan pada dua gadis yang dicintainya.
Selepas kepergian Nana dan Tatjana, Queenza kembali ke ruangan sang suami. Abian tersenyum melihat istrinya yang kembali. Ia mengangkat tangannya meminta Queenza untuk duduk di dekatnya.
Wanita cantik itu pun tersenyum dan melangkah mendekat. Ia duduk di kursi dengan menggenggam tangan suaminya.
"Bagaimana keadaanmu, Mas?" tanya Queenza.
"Kenapa manis sekali panggilan Mas jika kamu yang memanggilnya," ujar Abian tersenyum.
"Kamu ini, lagi sakit masih saja bisa menggombal," ujar Queenza tersenyum.
"Aku mimpi gak sih ini? Tiba-tiba istriku yang galak jadi manis gini?"
"Kok aku dibilang galak?" tanya Queenza tak terima.
"Nggak, kamu gak galak. Kamu cantik, Sayang." Abian mengecup tangan istrinya dengan lembut. "Makasih, karena sudah memaafkanku," katanya tulus.
"Kamu tahu, saat aku tak sadarkan diri, aku bermimpi kita bertiga hidup bahagia, membuatku begitu nyaman di sana dan tak ingin kembali. Namun, tiba-tiba aku mendengar suara tangisan seseorang yang memintaku untuk bangun. Entah kenapa, rasanya aku tak ingin mengabaikan suara itu hingga aku berusaha untuk bangun meski meninggalkan mimpi yang indah. Ternyata, saat aku bangun aku mendapatkan kalian berdua secara nyata. Sungguh, aku merasa bersyukur karena Allah masih memberiku waktu untuk hidup dan bertemu kalian lagi."
Queenza tersenyum mengusap pipi suaminya. "Alhamdulillah Allah mengembalikanmu. Aku janji, akan menghargai waktu kita dengan sangat baik. Kita hidup bahagia bersama anak kita."
"Queen, jangan mengabaikanku lagi. Rasanya aku gak sanggup," lirih Abian.
__ADS_1
"Tidak akan, Mas. Bagaimana bisa aku mengabaikanmu lagi? Cukup tiga tahun ini aku menahan rasa rindu. Aku kangen sama kamu, Mas." Queenza merebahkan kepalanya di atas brankar sang suami. Abian pun mengusap kepala istrinya dengan penuh cinta.
Kini Abian hanya bisa berdoa semoga segera sembuh dan bisa berjalan lagi. Ia tak ingin membuat anak istrinya sedih karena keadaannya. Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk sembuh dan memulai hidup bahagia bersama mereka.