
Queenza masuk ke mansionnya. Ia menatap rumah yang terlihat masih sepi. Waktu menunjukkan pukul empat pagi. Ia baru saja kembali dari rumah sakit untuk membuat makanan untuk sang anak. Terlihat Nana turun dan menghampiri kakaknya.
"Baru pulang, Kak?" tanya Nana.
"Iya. Apa Anna merengek?" tanya Queenza.
"Lumayan, Kak. Semalam Anna tidur jam sebelas karena menunggu Kakak sampai tertidur sendiri. Sekarang pasti dia senang karena saat bangun bundanya sudah di rumah."
Queenza duduk di pantry dan meminum air yang diberikan Nana.
"Capek ya? Kasihan sekali kakakku ini." Nana memijat kedua bahu sang kakak yang membuat wanita dewasa itu tersenyum.
"Makasih, Na." Queenza pun menikmati pijatan adik angkatnya itu.
"Gimana keadaan Mas Bian, Kak?"
"Kata Dokter, Mas Bian gak punya semangat untuk hidup, karena itu dia gak sadar. Dia seakan betah dalam keadaan sekarang," ujar Queenza dengan menutup matanya.
"Na, Kakak nyesel banget sudah menyakiti Mas Bian. Kenapa Kakak harus egois seperti itu ya?" tanya Queenza pada adiknya itu.
"Kak, apa yang terjadi sudah takdir, Kakak gak perlu menyalahkan diri Kakak sendiri. Yang terpenting sekarang itu, kita harus support Mas Bian agar punya semangat untuk hidup kembali. Kalau Kakak sedih kayak gini, Mas Bian bakal sedih juga. Dia paling gak bisa lihat Kakak sedih," ujar Nana yang memeluk Queenza dari belakang.
"Apa Mas Bian beneran ya cinta sama Kakak?" tanya Queenza.
"Banget, Kak. Aku saksinya. Tiap pagi saat sarapan, dia pasti natap Kakak dengan tersenyum. Entah apa yang di pikirkannya, tapi pasti memikirkan Kakak. Terus, tiap malam aku sering lihat Mas Bian berada di depan pintu kamar Kakak, lalu dia mengusap pintu itu dan menyentuh gagangnya. Sekali pernah aku bertanya pada Mas Bian kenapa dia selalu melakukan itu, katanya Kak Queen pasti menyentuh gagang pintu saat ingin masuk. Jadi ia merasa telah menyentuh tangan kakak saat ia menyentuh gagang pintu itu."
Queenza menutup mata. Hatinya terasa nyeri mendengar kata-kata Nana. Sebegitu rindukan lelaki itu pada istrinya? Kembali air mata Queenza terjatuh. Ia sungguh tak menyangka bahwa Abian benar-benar mencintainya. Bahkan ia sampai melakukan hal bodoh seperti itu saking merindukan dang istri.
"Aku sangat bodoh, kenapa aku begitu egois." Pecah sudah air mata Queenza. Jika kemarin-kemarin ia menahan tangisannya, pagi itu ia keluarkan semua dengan dipeluk Nana. "Ya Allah, beri aku kesempatan untuk menebus kesalahku pada suamiku. Aku mohon, ya Allah. Jangan bawa dia pergi dulu, aku belum meminta maaf padanya. Aku belum menjadi istri yang baik untuknya. Aku ingin, ya Allah. Aku ingin memeluknya dan mengatakan bahwa aku mencintainya."
__ADS_1
Mendengar itu, Nana pun ikut menangis ia terus memeluk Queenza dengan erat. Bahkan Nana tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tahu bahwa sebenarnya Queenza sangat mencintai Abian. Namun rasa kecewa yang membuat Queenza melakukan itu pada suaminya. Ia hanya ingin menghukum bukan membencinya.
**
"Bunda!" Tatjana tersenyum saat membuka mata melihat sang bunda. Dengan cepat ia duduk dan memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.
"Bunda kangen sekali sama Anna. Maafin Bunda, ya, yang sibuk akhir-akhir ini." Queenza mengusap punggung anaknya.
"Aku marah sama Bunda, tapi aku capek juga. Aku kesal karena mau ketemu Bunda tapi gak bisa," rengek bocah yang akan berulang tahun yang ke-4 itu.
"Maafin Bunda, ya. Anna mau maafin Bunda, kan?" tanya Queenza melepas pelukan dan menatap gadis kecil yang sangat mirip dengan ayahnya itu.
Tatjana mengangguk dan kembali masuk dalam pelukan mamanya. "Bunda, aku kangen Ayah. Kapan Ayah pulang?"
"Anna kangen Ayah?" tanya Queenza.
"Iya. Anna pengen ketemu Ayah. Meski Ayah gak pernah peluk Anna, tapi Anna mau sama Ayah."
"Anna mau dipeluk Ayah?" tanya Queenza.
"Mau! Anna mau banget dipeluk Ayah, digendong Ayah, jalan-jalan bareng Ayah dan Bunda. Aku sering lihat teman-temanku yang diantar ayah bundanya, tapi Anna gak pernah," jawab bocah itu yang membuat dada sang bunda semakin sesak.
Sungguh, ia tak menyangka bahwa efek hukumannya pada Abian bukan berdampak pada laki-laki itu saja, tapi juga berdampak pada anak kesayangannya. Ia tak menyangka bahwa ikatan Tatjana dan Abian begitu dekat padahal sejak Tatjana lahir, Abian tak pernah menyentuhnya. Rasa bersalah semakin berlapis Queenza rasakan. Kini, ia harus membawa Tatjana bertemu ayahnya. Ia harus merapikan apa yang ia hancurkan dan ditata ulang.
Queenza akan mencabut hukumannya mulai sekarang. Ia akan membebaskan Abian dan Tatjana saling mengutarakan cintanya, termasuk dirinya sendiri.
"Maafkan Bunda, Nak. Semoga Anna dan Ayah mau memaafkan kesalahan Bunda."
"Kenapa Bunda minta maaf?" tanya Tatjana.
__ADS_1
"Bunda nakal pads Anna dan Ayah. Jadi Bunda harus meminta maaf."
"Bunda gak nakal. Bunda adalah mama terbaik yang Anna punya. Anna sayang Bunda."
"Bunda juga sayang kamu, Nak. Sayang sama Ayah juga."
Saat memeluk sang anak, tiba-tiba ponsel Queenza berdering. Terlihat pihak rumah sakit yang menelepon. Queenza pun mengangkat panggilannya. dengan masih memeluk Tatjana yang memainkan kancing kemejanya.
"Selamat pagi," jawab Queenza.
"Iya, betul saya sendiri," jawabnya lagi.
Mata Queenza membulat mendengarnya. Jantungnya berdebar hebat saat suster mengatakan kondisi suaminya. Air matanya pun terjatuh tak bisa ia tahan lagi.
"Ba-baik. Saya akan segera ke sana."
Queenza pun menutup panggilannya. "Sayang, ikut Bunda sekarang." Wanita cantik itu menggendong sang anak dengan tangan gemetar. Air matanya tak henti terjatuh dengan berjalan tergesa menuju pintu utama.
"Bunda kenapa nangis?" tanya Tatjana bingung.
"Ki-kita ketemu Ayah, ya. Maafin Bunda, Nak, maaf," kata Queenza dengan suara yang gemetar.
"Na, Nana!" teriak Queenza memanggil adiknya dengan tergesa.
Tak lama, Nana datang dan menghampiri kakaknya. "Ada apa, Kak?" tanya Nana.
"Na, ayo ikut Kakak. Kita harus ke rumah sakit," ujar Queenza yang masih mendekap erat anak kesayangannya.
Nana menatap sang kakak yang kembali menangis dan tangan gemetar. Nana berpikir pasti ada sesuatu.
__ADS_1
"Ayo, Kak." Gadis itu tak bertanya apa pun pada kakaknya, saat melihat keadaan Queenza yang seperti linglung sehingga ia tak ingin menambah beban dengan pertanyaannya. Ia pasti juga akan tahu apa yang terjadi saat sampai di rumah sakit. Ia berharap ada hal baik untuk kakak iparnya itu.