Queenza

Queenza
Sisi Lain Queenza


__ADS_3

Queenza berjalan masuk dapur. Para pelayan menunduk hormat pada nyonya mereka. Salah seorang pelayan memasangkan celemek di tubuh sang nyonya setelah itu mereka keluar dari dapur. Saat Queenza masak, tak seorang pun yang diperbolehkan berada di sana. Karena Queenza tak ingin ada yang mengetahui bumbu apa saja yang ia gunakan dalam masakannya. Aneh memang, tetapi itulah Queenza.


Wanita cantik itu memasak dengan sungguh-sungguh seakan ia tengah meeting untuk mendapat tender yang besar. Untuknya, melakukan sesuatu harus serius dan maksimal, begitu juga saat masak. Bahkan setiap potongan bahan makanan yang akan digunakan harus sesuai dengan ukuran keinginannya. Jika satu potong saja berbeda, pelayan harus memotong ulang.


Siang ini Queenza memasak makanan kesukaan Abian lagi. Jika semalam buatan hotel, kini buatannya. Ia membuat ayam goreng lengkuas, sambal, tempe dan tahu goreng serta sayur asem. Hal mudah memang untuk orang Indonesia membuat itu semua. Namun apa yang dibuat Queenza sangatlah spesial.


Setelah semua jadi, Queenza meminta pelayan memanggil suaminya untuk menunggu di ruang makan. Ia akan pergi membersihkan diri terlebih dahulu. Itu memang kebiasaannya yang tak suka tubuhnya bau asap dapur.


"Queenza mana?" tanya Abian pada pelayan yang menyiapkan hidangan di meja.


"Sedang mandi, Tuan. Nyonya selalu mandi setelah memasak," ujar pelayan.


"Queenza masak? Ini semua?" tanya Abian menunjuk semua makanan di hadapannya yang terlihat menggugah selera.


"Betul, Tuan. Di mansion ini, Nyonya-lah yang memasak."


Abian tersenyum tak percaya bahwa istri barunya pandai memasak. Dari penampilan mungkin terlihat seperti buatan chef bintang lima. Entah dengan rasanya, apakah akan seenak masakan Ayyara? batin Abian.

__ADS_1


Tak lama, Queenza keluar dengan anggunnya berjalan menuju ruang makan. Ia duduk di samping sang suami dengan tersenyum pada lelaki itu. Tangannya meraih piring di depan Abian, lalu menaruh nasi di sana.


"Apa kamu ingin ini?" tanya Queenza menunjuk ayam. Abian pun mengangguk.


"Apa kamu mau tahu dan tempe?" tanya wanita itu lagi. Abian pun mengangguk.


"Sayur mau?" tanya Queenza lagi.


"Boleh," jawab Abian.


Wanita cantik itu begitu telaten melayani suaminya. Itu yang membuat Abian cukup terkejut. Ia pikir Queenza akan mengabaikan seperti sebelum-sebelumnya saat berada di mansion utama.


Abian tersenyum dengan melahap makanannya, begitu juga Queenza. Jika istri lain pasti menunggu respon suaminya dan berharap masakannya dipuji, tidak dengan Queenza. Ia cukup percaya diri bahwa suaminya akan suka.


Mereka menyelesaikan makan siang bersamaan. Saat Queenza hendak pergi, lengannya ditahan oleh Abian. Lelaki itu berdiri mensejajarkan dengan istrinya yang kini menatapnya.


"Tidak disangka, wanita arogan sepertimu memiliki tangan ajaib juga, ya. Andai mulut dan tingkahmu seperti rasa masakanmu, pasti akan jauh lebih baik." Abian tersenyum lalu pergi meninggalkan Queenza yang terdiam di sana.

__ADS_1


"Apa yang dia katakan? Mulut dan tingkahku berarti buruk? Sial! Awas saja kau Abian!" teriak Queenza kesal.


Bisa-bisanya lelaki itu menghinanya setelah dimasakan makanan enak. Ia pikir Abian akan memujinya, tetapi justru sebaliknya. Tahu begini lebih baik suruh pelayan saja yang memasak. Sia-sia saja ia bekerja keras di saat tengah hamil.


Selepas makan siang, Queenza berjalan menuju halaman belakang. Ia pergi ke rumah kaca untuk merawat para tanamannya. Setiap berada di mansion tersebut, ada saja yang dilakukannya. Ia tak akan bisa duduk santai.


Dengan tangan yang lihai, ia gunting satu per satu akar liar yang berada di sekitar bunga-bunga.


"Jangan semprot terlalu banyak air," ujar Queenza pada pelayan khusus yang merawat tanamannya.


"Baik, Nyonya."


Pergerakan Queenza di mansion tak luput dari pandangan Abian. Baru setengah hari di mansion ia menemukan sisi lain Queenza yang tak pernah dilihatnya. Di mansion ini, Queenza tampak seperti nyonya rumah yang cekatan.


Abian tersenyum menatap istri yang baru ia nikahi satu hari itu. Ternyata ada juga kelembutan dibalik sosok yang kuat seperti landak. Di luar ia tampak mengerikan, tetapi dari dalam ia memiliki sisi yang lembut.


"Dasar wanita aneh. Kadang menyebalkan, kadang begitu lembut. Apa dia punya kepribadian ganda, ya?" kekeh Abian.

__ADS_1


Meski begitu, Queenza adalah istrinya. Walaupun cara mereka menikah membuat Abian sungguh ingin melemparnya ke planet Mars.


"Ya Allah, apakah aku bisa menjadi imamnya di saat hatiku saja masih ada wanita lain," ujar nya sedih menatap Queenza yang sesekali mengusap perutnya dengan senyuman yang sangat manis.


__ADS_2